Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Jumat, 24 April 2026

ESSAI 2 - PLOGGING SAMPAH

PLOGGING SAMPAH

Kinanthi Kembang Asmoro (24310410224)

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 



Ploging sampah merupakan kegiatan yang bermanfaat dan memiliki dampak yang besra bagi lingkungan dan kesehatan. Saya melakukan ploging di area lingkungan kerja kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menjaga kesehatan karyawan. Saya melakukan kegiatan ploging setelah selesai pengamanan unjuk rasa yang dilaksanakan pada malam hari, anggota yang lain bertugas dan berjaga selama 24 jam penuh. Saya membersihkan area kerja dengan mengumpulkan sampah berupa botol plastik bekas minuman, plaisik bekas makanan, kertas dan sampah lainnya yang berserakan di sekitar ruangan. Kegiatan ini menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kerja setelah aktivitas padat.

Setelah pelaksanaan pengamanan unjuk rasa, biasanya terdapat sisa sampah konsumsi, kemasan minuman, maupun barang sekali pakai. Oleh karena itu, plogging merupakan langkah positif untuk mengembalikan kondisi ruangan adagr tetap bersih dan rapi agar nyaman digunakan kembali

Plogging di lingkungan kerja seperti gambar diatas memiliki manfaat yang besar serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama terhadap lingkungan. Kegiatan ini juga mencerminkan disiplin dan kepedulian personel dalam menjaga kebersihan setelah menjalankan tugas.

Kegiatan plogging jumat sehat dilingkungan kerja yaitu aktivitas membersihkan area kantor dengan mengumpulkan sampah sekaligus membersihkan area sekitar kantor dengan menggumpulkan sampah sekaligus menjaga kebugaran tubuh. Membuang ampah ke tempat sampah yang telah disediakan termasuk dalam kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kerja.

   

Kegiatan plogging ini dilakukan dengan cara memungut sampah yang berada di sekitar area kantor, halaman parkir, maupun fasilitas umum lainnya. Kami menggumpulkan sampah sesuai jenisnya antara sampah organik dan an organik. Sampah organik seperti daun kering, sisa makanan dan bahan yang mudah terurai dipisahkan dari sampah anorganik seperti plastik, botol minuman, kaleng dan kertas.

Pemiliahan sampah sangat penting karena memudahkan proses pengelolahan dan daur ulang. Sampah anorganik dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang berguna. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dengan adanya pemisahan ini, jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang. Dan untuk mempermudah proses pengolahan maka di sediakan tempat sampah anorganik dan organik untuk mempermudah pemilahan.

Selain menjaga kebersihan, kegiatan jumat sehat ini memberikan manfaat bagi kesehatan karena melakukan jalan kaki sehingga bergerak aktif, dan bekerja sama antar personel. Sehingga kegiatan ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan kerja untuk tetap bersih dan nyaman. Melalui kegiatan plogging ini, saya merasa turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat kerja dan mengurangi jumlah botol plastik yang mencemari lingkungan.

 

 

Essay meringkas jurnal tentang sampah

 

Pengelolaan Sampah dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Nama : Fitri Oktafia
24310410222

• Pendahuluan
Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas manusia. Peningkatan jumlah sampah, baik organik maupun anorganik, menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pencemaran tanah, air, dan udara. Selain itu, pengelolaan sampah yang kurang efektif juga dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan menurunkan kualitas hidup.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Pendekatan seperti pengurangan sampah dari sumbernya, daur ulang, serta pemanfaatan kembali menjadi fokus utama dalam upaya mengatasi permasalahan ini. Namun, implementasi strategi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kurangnya kesadaran masyarakat hingga keterbatasan infrastruktur.

Oleh karena itu, ringkasan jurnal ini bertujuan untuk mengkaji dan menyajikan secara singkat hasil penelitian terkait pengelolaan sampah, termasuk permasalahan yang dihadapi serta solusi yang ditawarkan. Diharapkan, ringkasan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

• Pembahasan
Pembahasan dalam jurnal ini menyoroti berbagai aspek terkait pengelolaan sampah, mulai dari jenis, sumber, hingga metode penanganannya. Sampah umumnya dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik. Sampah organik berasal dari sisa makhluk hidup seperti makanan dan daun yang mudah terurai, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kaca, dan logam membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai.

Permasalahan utama dalam pengelolaan sampah adalah meningkatnya volume sampah yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya menjadi salah satu faktor penyebab. Selain itu, keterbatasan fasilitas seperti tempat pengolahan dan daur ulang juga memperparah kondisi tersebut.

Berbagai metode pengelolaan sampah telah diterapkan, seperti metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Reduce dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, reuse dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan recycle dengan mengolah kembali sampah menjadi produk baru yang bermanfaat. Selain itu, pengolahan sampah organik dapat dilakukan melalui proses komposting, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi berbagai produk.

Jurnal ini juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi masalah sampah. Pemerintah berperan dalam menyediakan kebijakan dan infrastruktur yang mendukung, sedangkan masyarakat diharapkan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup ramah lingkungan. Kolaborasi antara berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

 

• Kesimpulan dan Saran
 
Kesimpulan
Permasalahan sampah merupakan isu lingkungan yang terus berkembang dan memerlukan perhatian serius. Peningkatan jumlah sampah yang tidak diimbangi dengan pengelolaan yang efektif dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pengelolaan sampah melalui pendekatan seperti 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta pengolahan yang tepat terbukti dapat menjadi solusi dalam mengurangi volume sampah. Namun, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada kesadaran masyarakat, dukungan kebijakan pemerintah, serta ketersediaan fasilitas yang memadai.

Saran
Diperlukan upaya yang lebih intensif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, seperti melalui edukasi dan sosialisasi. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat kebijakan serta menyediakan infrastruktur yang mendukung pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selain itu, perlu adanya kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif. Pengembangan inovasi dalam pengolahan dan daur ulang sampah juga perlu terus didorong guna mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

• Daftar Pustaka
Sukarni, M., & Widodo, T. 2019. “Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat untuk Lingkungan Berkelanjutan.” Jurnal Ilmu Lingkungan, 17(2), 123–130.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

World Bank. 2018. What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.

Yuliana, L. 2021. “Analisis Pengelolaan Sampah Plastik di Perkotaan.” Jurnal Kesehatan Lingkungan, 13(1), 45–52.

 

 

 

Rabu, 22 April 2026

ESSAI 1: MERINGKAS JURNAL PENGELOLAAN SAMPAH



 Pengelolaan Sampah Desa Gudang Tengah Melalui Manajemen Bank Sampah

Reni Prabandari

24310410221

Kelas Psikologi Lingkungan-B

Tugas Essai I

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universtas Proklamasi 45 Yogyakarta




Topik

 

Pengelolaan Sampah, Manajemen Bank Sampah, Desa Gudang Tengah.

Sumber

 

Ariefahnoor,D.,Hasanah,N.,&Surya,A.(2020). Pengelolaan Sampah Desa Gudang Tengah Melalui Manajemen Bank Sampah. Jurnal Kacapuri, 3 (1).


Permasalahan

 

Belum sadarnya masyarakat di Desa Gudang Tengah tentang arti kebersihan lingkungan dan adanya dampak ekonomi langsung apabila mampu mengolah sampah di Pasar Desa Gudang Tengah dan juga belum adanya bank sampah di Desa Gudang Tengah.

 

Tujuan Penelitian

 

Untuk mengetahui mengapa selama ini masyarakat Desa Gudang Tengah belum sadar tentang arti kebersihan lingkungan dan adanya dampak ekonomi langsung apabila mampu mengolah sampah di Pasar Desa Gudang Tengah dan mengapa selama ini belum ada bank sampah di Desa Gudang Tengah.

 

Isi

 

Bank sampah dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya terdapat beberapa tahap, mulai dari pengumpulan, pemilahan hingga pencatatan. Proses tersebut meliputi: 1. Pemilahan sampah rumah tangga oleh nasabah bank sampah; 2. Penyetoran sampah ke bank sampah oleh nasabah bank sampah; 3. Penimbangan, sampah yang sudah ditimbang kemudian ditimbang sesuai dengan kesepakatan minimal; 4. Pencatatan, pencatatan bobot bank sampah setelah penimbangan; 5. Hasil sampah dilaporkan kedalam buku tabungan nasabah bank sampah; 6. Sampah dimanfaatkan untuk dibuat produk kreasi sampah.

Kendala-kendala dalam pengelolaan sampah Desa Gudang Tengah melalui Manajemen Bank Sampah Yang menjadi kendala-kendala dalam Penerapan Bank Sampah di Desa Gudang Tengah (dalam diskusi dan wawancara) yaitu : 1. Belum sadarnya masyarakat arti kebersihan lingkungan dan adanya dampak ekonomi langsung apabila mampu mengolah sampah Pasar Desa Gudang Tengah. 2. Belum adanya Bank Sampah, baru proses pembentukan struktur organisasi Bank Sampah, diharapkan bisa bersinergi bersama-sama dengan diterapkannya Konsep 3 R dan Teknologi Lingkungan. 3. Belum memahami konsep manajemen Bank Sampah. Strategi pengelolaan sampah Desa Gudang Tengah melalui manajemen Bank Sampah.

 

Metode

 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Metode deskriptif-kualittatif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan, dengan maksud untuk menemukan unsur-unsurnya kemudian dianalisis bahkan juga diperbandingkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif adalah sebuah cara atau teknik yang dilakukan untuk memaparkan suatu permasalahan sehingga dapat dengan jelas dianalisis dan ditarik kesimpulan.

 

Hasil

 

Masyarakat sangat antusias dan menginginkan pengelolaan sampah pasar yang baik berwawasan lingkungan melalui konsep 3 R dan teknologi lingkungan yang diterapkan agar lingkungan pasar menjadi bersih dan nyaman serta mendatangkan nilai ekonomis.

Masyarakat akan segera membentuk Bank Sampah Desa Gudang Tengah untuk mengurus segala sesuatu berkenaan sampah desa termasuk didalamnya sampah pasar dan sampah rumah tangga.

Dengan konsep Manajemen Bank Sampah dapat diterapkan dengan baik, menyadarkan masyarakat bahwa sampah bisa mendatangkan nilai ekonomis dengan menukarkan sampah plastik dengan rupiah per kg melalui Bank Sampah.

 

Diskusi

 

Perlu kedepannya diberikan pelatihan manajemen organisasi bank sampah untuk meningkatkan produksi (pengumpulan jenis sampah yang bernilai ekonomis) dan penjualan (pengempul sampah yang memberikan daftar harga sampah) yang efektif serta menguntungkan bagi masyarakat.

 










Selasa, 21 April 2026

Essay 1- Meringkas Jurnal Pengelolaan Sampah


ANALISIS PERILAKU MASYARAKAT DALAM MEMBUANG SAMPAH DI SUNGAI BEDADUNG KABUPATEN JEMBER


YOSY TEGAR SEPTIAN/ NIM: 24310410242

PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Topik :

Menganalisa perilaku masyarakat menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Sumber :

Syarifah Y Nur Azizah, Sudarti (2023), Analisis Perilaku Masyarakat Dalam Membuang Sampah Di Sungai Bedadung Kabupaten Jember. Jurnal Ilmiah Publika.

Alamat : https://jurnal.ugj.ac.id/index.php/Publika/article/view/8202/3184Permasalahan. 

Permasalahan :

Sungai Bedadung di Kabupaten Jember merupakan salah satu sungai utama di Cekungan Bedadung. Sungai ini mempunyai fungsi strategis yaitu menyediakan air irigasi untuk persawahan serta menjadi salah satu penyedia sumber air bersih. Selain itu sungai Bedadung juga digunakan oleh masyarakat sebagai tempat kegiatan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan kakus atau MCK. Indonesia berpenduduk 72.5 juta jiwa dengan sanitasi buruk, dimana 240 kota di antaranya memiliki masalah pengelolaan sampah. Sampah-sampah yang dihasilkan menggapai 130.000 ton/hari karena jumlah penduduk yang terus bertambah.

Tujuan penelitian :

Menganalisis  bagaimana  perilaku  masyarakat  dalam  membuang  dan  mengelola sampah  rumah  tangga. Melalui penelitian ini diharapkan masyarakat lebih memahami permasalahan yang timbul akibat membuang sampah sembarangan  di  bantaran  Sungai  Bedadung  Kabupaten  Jember.

Isi :

Sampah yang menumpuk di sungai Bedadung ini sebagian besar berasal dari sampah yang dihasilan dari kegiatan rumah tangga. Berupa sampah organik dan sampah anorganik. Di sungai ini didominasi oleh sampah-sampah plastik. Sampah yang menumpuk di sungai ini merupakan sampah buangan masyarakat di suatu lokasi tertentu di bantaran sungai dan dari pemukiman masyarakat sekitar sungai.

Metode :

Menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dalam mengumpulkan data primer menggunakan teknik wawancara dan observasi langsung. Penelitian ini menggunakan sampel responden sebanyak 15 rumah warga yang membuang sampah di bantaran Sungai Bedadung.

Hasil :

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap masyarakat mengenai tingkat pencemaran sungai Bedadung, bahwa total dari responden pada penelitian ini sebanyak 15 responden, diketahui sebanyak 12 responden (80%) berpendapat bahwa tingkat pencemaran sungai Bedadung sudah tergolong sangat tercemar. Sedangkan sebanyak 3 responden (20%) berpendapat bahwa tingkat pencemaran sungai Bedadung masih tergolong sangat. Sebanyak 10 responden (66,7%) berpendapat bahwa di lingkungan bantaran sungai Bedadung tidak tersedia sarana dan prasarana pembuangan sampah. Sedangkan sebanyak 5 responden (33,3%) berpendapat bahwa tersedia sarana dan prasarana pembuangan sampah namun tidak merata. sebanyak 8 responden (53,3%) belum melakukan pengelolaan terhadap sampah yang akan dibuang. Sedangkan sebanyak 7 responden (46,7%) telah melakukan pengelolaan sampah namun masih terbatas. hasil observasi terkait keadaan lingkungan di bantaran sungai Bedadung kabupaten Jember terlihat mencemaskan. Terlihat bahwa keadaan air sungai sudah berwarna coklat dengan banyak sampah yang mengambang di daerah DAM sungai. Selain itu aliran sungai terlihat tidak mengalir dikarenakan saluran yang tertutup oleh sampah.

Diskusi :

Melalui kegiatan observasi langsung di lokasi, didapatkan hasil bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perilaku masyarakat membuang sampah di Sungai Bedadung yaitu kurangnya sarana dan prasarana pembuangan sampah, kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. Sehingga perlu adanya sosialisai dan penyediaan sarana tempat pembuangan sampah atau TPA disekitar Sungai Bedadung.




ESSAI KE 2 : PLOGGING DI DUA LOKASI BERBEDA

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Lingkungan - B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

Plogging : Tanggung Jawab Lingkungan: Perbandingan Dua Lokasi


Kegiatan plogging (olahraga sambil memungut sampah) yang saya lakukan memberikan pengalaman baru bagi saya yaitu berolahraga sambil memungut sampah di sepanjang jalan yang sayta lewati. Kegiatan ini  saya lakukan di dua lokasi berbeda, yaitu sepanjang Jalan Lingkar Selatan (JLS) di Kota Salatiga dan Jalan utama di lingkungan tempat tinggal saya yaitu di Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga. Dari kedua lokasi tersebut, terlihat perbedaan yang cukup mencolok dalam jumlah sampah dan beberapa faktor yang mempengaruhinya.


Lokasi 1: Jalan Baru / Jalan Lingkar Selatan Kota Salatiga


Pada lokasi pertama, saya melakukan plogging sambil berolahraga yaitu pada hari Kamis tanggal 16 April 2026,  mulai pukul 05.00 hingga sekitar 06.30 pagi.  Saat itu suasana masih cukup sepi. Selama kurang lebih satu jam, saya berjalan menyusuri sepanjang jalan  di Jalan Baru / Jalan Lingkar Selatan yaitu mulai dari Rumah saya di daerah Tetep Wates - lampu merah perempatan Randuacir - Pabrik SCI sampai di Pertigaan Cebongan Kota Salatiga,  disepanjang jalan tersebut, saya berjalan sambil memunguti sampah. Menariknya, aktivitas Plogging ini terasa berbeda dibandingkan olahraga biasa. kegiatan olahraga yang biasanya saya lakukan, terasa melelahkan, namun saat plogging justru terasa lebih menyenangkan dan tidak terlalu terasa lelah. Hal ini mungkin karena adanya tujuan tambahan, yaitu sambil membersihkan jalanan yang saya lewati, sehingga kegiatan fisik  yang saya lakukan, terasa lebih bermakna. Saat berada di lokasi pertama, saya menemukan banyak sampah seperti botol plastik, gelas plastik, dan sampah lainnya. Saya memilih untuk memungut sampah plastik yang paling banyak terlihat (nantinya akan saya salurkan atau mengumpulkannya di Bank Sampah yang ada di Kota Salatiga). Kondisi  dilokasi pertama tersebut menunjukkan kebersihan di area tersebut belum bersih secara optimal., dan penyebabnya kemungkinan  bukan saja karena tingkat kepedulian masyarakat yang kurang terhadap lingkungan sekitarnya, namun karena jalan ini merupakan jalur cepat yang dilalui banyak kendaraan, sehingga besar kemungkinan sampah berasal dari pengguna jalan yang melintas, bukan hanya warga setempat.

Lokasi 2: Jalan Utama Dekat Rumah ( Jalan Desa ) Kelurahan Kumpulrejo Kota Salatiga

Berbeda dengan lokasi pertama, di lokasi kedua, saya melakukan plogging pada hari sabtu, tanggal 18 April 2026 di jam yang hampir sama dengan lokasi pertrama yaitu di pagi hari sekitar Pukul 05.00 sampai dengan pukul 06.30, saya berjalan di sepanjang jalan utama di lingkungan tempat tinggal saya, yaitu mulai dari Rumah- Kelurahan Kumpulrejo- Prospero- Kenteng. Jumlah sampah yang saya temukan dalam perjalanan tersebut, lebih sedikit dibandingkan dengan yang di Jalan Lingkar Salatiga. Meskipun jalan ini juga dilalui kendaraan, kebersihannya lebih terjaga. Hal ini mungkin dipengaruhi, banyaknya rumah-rumah atau padatnya pemukiman penduduk sehingga  saya merasa jika setiap orang  memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti ada norma sosial yang tidak tertulis  bahwa setiap warga bertanggung jawab atas kebersihan di sekitar rumahnya, setidaknya di  bagian / area depan rumah.

Namun demikian, saya masih menemukan beberapa sampah seperti kertas, botol plastik dan gelas plastik serta bungkus makanan ringan di pinggir jalan atau area rerumputan. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku ataupun kesadaran membuang sampah pada tempatnya, belum sepenuhnya hilang di masyarakat kita, padahal disetiap rumah sudah memiliki tong sampah sendiri, sehingga kemungkinan berasal dari pengguna jalan atau kurangnya kesadaran pada sebagian orang yang membuang sampah dijalanan tersebut.

Permasalahan

Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini dapat dikaitkan dengan fenomena disfungsi tanggung jawab, di mana seseorang merasa bahwa menjaga kebersihan bukan sepenuhnya tanggung jawab pribadi, melainkan tanggung jawab bersama atau bahkan tanggung jawab pihak tertentu seperti petugas kebersihan dan dalam hal ini adalah Pemerintahan Kota Salatiga. Selain itu, Keadaan lingkungan seperti kurangnya tempat sampah, atau minimnya pengawasan juga dapat memperkuat perilaku membuang sampah sembarangan, Dimana disepanjang jalan yang saya lewati tidak ada tulisan himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya ataupun larangan membuang sampah sembarangan.

Kesimpulan

Dengan melihat kedua lokasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku terhadap kebersihan lingkungan tidak hanya dipengaruhi oleh kepedulian seseorang/ masyarakat sekitar, tetapi juga oleh faktor keadaan lingkungan, seperti kondisi jalan, kepadatan penduduk, serta norma sosial yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kebersihan lingkungan atau kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, bukan saja melalui edukasi tentang kesadaran lingkungan, tetapi juga penguatan norma sosial, penyediaan fasilitas yang memadai, serta penegakan aturan yang tegas (larangan, sanksi, himbauan) yang mendukung kebiasaan dalam menjaga kebersihan lingkungan.