BUDAYA PLOGGING AREA RUMAH
Psikologi Sosial Essay 2 Melakukan Kegiatan Plogging
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta MA
Nama : Muhammad Arba’an
Nim : 21310410199
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Plogging dapat diartikan sebagai aktivitas jogging yang
dibarengi dengan aksi pungut sampah. Hal ini dimulai dari kepedulian segelintir
orang yang hobi lari pagi tentang sampah yang ada di sekeliling mereka.
Alhasil, mereka berniat untuk membantu membersihkan sampah-sampah yang ada pada
sepanjang rute jogging. Caranya adalah dengan berhenti sejenak
dan mengambil sampah disela-sela aktivitas jogging. Dalam
melakukan plogging, tidak ada aturan khusus yang harus diikuti. Anda bebas
mengenakan pakaian apapun asal sesuai dan nyaman dengan aktivitas olahraga.
Hanya saja, saat plogging Anda perlu membawa tas atau keranjang punggung yang
digunakan sebagai tempat penyimpanan sampah sementara sebelum membuangnya pada
tempatnya. Apabila diperlukan, Anda juga bisa memakai sarung tangan agar
terhindar dari bakteri yang menempel pada sampah.
Rumah
tinggal saya masih di area desa wisata yang harus kita jaga lingkungannya dari
keberadaan sampah, Namun masih saja
banyak sekali masyarakat daerah atau wisatawan local yang masih suka membuang
sampah sembarangan. Padahal di setiap sudut lokasi banyak sekali tempat untuk
membuang sampah. Desa saya berada di Kampung Alun-alun kotagede dan yang Saya
bersihkan adalah jl. Kopral humam serta gang tikus karena desa saya sangat
padat penduduknya. Berbeda dengan plogging yang biasanya di lakukan sembari ber
olah raga seperti jogging, jalan sehat atau jalan santai saya lebih suka ketika
setelah pulang kerja. Hal ini karena jadeal kerja saya yang padat dan sulit
untuk melakukan kegiatan lain dalam mengatur waktu.
Masyarakat
sekitar sebetulnya sangat peduli dengan lingkungan tempat tinggalnya, namun Sebulan
terakhir ini masyarakat dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ramai
membahas dan memikirkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah sampah yang
diperparah dengan penutupan TPST Piyungan. Pemerintah mulai terlihat huru-hara
dalam mengupayakan kebijakan cepat dan tepat untuk segera menyelesaikan masalah
sampah ini. Selan itu, protes warga menimbulkan tekanan emosional terhadap
pemerintah yang dikejar waktu, dikejar janji, dan dikejar gengsi sebagai kota
yang "istimewa namun sayang darurat sampahnya". Penumpukan sampah di
beberapa titik di kota Jogja memperburuk kecemasan dan diprediksi pemicu
gesekan sosial masyarakat dengan topik yang baru akibat sampah. Sampah kini
menjadi barang yang ditolak di mana-mana. TPS di tingkat kelurahan ditutup dan
sampah warga tak tahu bisa dibuang di mana,
Hal
ini juga ber imbas pada masyarakat yang mulai lupa dengan kebudayaan bersih
dari sampah. Dalam kegiatan yang saya biasakan mungkin banyak warga yang lalu
Lalang melihat apa yang saya lakukan semoga masyarakat menjadi peduli soal
polemic sampah dan bisa mengubah budaya yang berubah menjadi budaya yang lama
atau bersih dari sampah.








0 komentar:
Posting Komentar