TUGAS
ESSAI 4
PSIKOLOGI
INOVASI
Dosen
Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Faiz
Iqbal Fauzi
24310420038
UNIVERSITAS
PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
2024
Memiliki
daya saing yang tinggi serta ambisi yang menggebu sangatlah dibutuhkan untuk
mengikuti setiap perlombaan. Tahun 2024 ini adalah dimana jiwa ambisi untuk
mengikuti sebuah perlombaan ditantang dengan adanya tugas Psikologi Inovasi, menggali
dan mencari informasi tentang perlombaan yang akan diikuti sangat susah
gampang, sampai pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti dua perlomba yang sama
yaitu lomba cipta puisi nasional yang di selenggarakan oleh lintang.or.id.
Lomba
cipta puisi nasional kali ini adalah keikutsertaan saya untuk kedua kalinya berpartisipasi.
Di tahun 2019 saya pernah mengikuti yang serupa dan sekarang saya mengikuti
lagi dengan alih-alih ingin menang tetapi melihat apakah saya masih bisa
membuat sebuah tulisan indah yang menyentuh. Puisi yang saya ikut lombaka
berjudul Titik Terendah karya saya seorang, puisi ini bercerita akan kehidupan
seseorang yang dilema akan sebuah permasalahan dari keluarga, cinta dan drama
kehidupannya. Kutipan dari puisi yang saya buat :
Suara
gemuruh badai malam ini, akan segera tiba
Enggan
rasanya aku mengintip keluar jendela
Hanya
untuk melihat jatuhnya air hujan
Hingar
bingar suara kedidupan kota
Membuat
aku merasa kesepian dalam keramaian
Rasa
sakit yang kurasakan disini
Tak
kala semua memori yang menyakitkan berputar dalam rongga kepalaku
Kondisiku
seperti pohon yang akan tumbang
Telihat
kokoh tapi sangat rapuh
Fakta
telah menjadi fatamorgana
Aku
tak bisa,
Tak
bisa menerima keadaan ini
Penggalam
puisi diatas merupakan isi dari puisi berjudul Titik Terindah, memiliki makna
tersirat mengenai kebingungan dan kegundahan seseorang yang tidak bisa menerima
secaa lapang dada akan sebuh realitas kehidupan.
Tentang
siapa aku, darimana aku berasal, dan mau kemana aku berjalan
Hanya
aku dan diriku yang bisa menjawab semuanya
Ingat
!!!
Kegelapanku
adalah sebuah cerah yang tertutupi
Jangan
rekat aku dengan paksa, tapi terima aku dengan rasa
Jangan
pandang aku dengan kasta, tapi terima aku dengan cinta
Makna dari
potongan puisi diatas sebagaimana dia manusia yang hanya ingin diterima dan
diakui sebagai layaknya manusia tanpa harus ada rasa kasihan atau pandangan
yang tidak mengenakan, karena bahwa dia sangat ingin hidup secara manusiawi.
Rasa kasih, sayang, dan cinta yang selama ini belum dia dapatkan terutama
keluarga yang tidak sama sekali memberikan rasa itu maka dia berharap kepada
semua orang untuk tidak menilai siapa dirinya di masa lalu tapi berikan dan
terima dia dengan rasa itu agar dia tahu bahwa dunia baik kepadanya.
Sebagai bukti keikut sertaan dalam perlombaan cipta puisi nasional berikut adalah lampiran sertifikatnya :
Perlombaan
kedua yang saya ikuti sama dengan perlombaan pertama yaitu lomba cipta puisi
nasional. Lomba kedua ini memiliki tema mengenai timnas Indonesia yang sedang
berjuang untuk masuk ke piala dunia 2026 mendatang. Di puisi kali ini rasa
nasionalisme saya begitu besar terhadap timnas karena setelah beberapa tahun
Indonesia akan masuk ke piala dunia 2026. Puisi yang saya buat berjudul “Sang
Pejuang” karena judul tersebut sangat cocok ketika mendiskripsikan timnas yang
berlaga untuk masuk ke piala dunia 2026.
Bait
pertama yang saya bikin tersirat akan sebuah makna menggambarkan tentang
bagaimana bahagia serta bangganya saya terhadap timnas Indonesia yang berjuang
mati-matian untuk menciptakan gol ke lawan, inilah isi dari bait pertama yang
saya buat
Hati siapa yang tak bahagia dan bangga
Teriakan semangat terus terlontarkan
Dukungan dan doa telah mengiringinya
Untuk menuju piala dunia
Amanatkan rakyat tuk melenggang cantik disana
Tekadmu nan bulat, redam badai bangsa yang tak
pernah alpa
Penggalan bait pertama yang sangat
membara akan sebuah rasa nasionalis saya terhadap timnas yang berjuang. Tak lupa
di bait kedua saya menuliskan
Pandang citamu tlah menggebrak bangsa ini
Anganmu tak lekang oleh waktu
Kuatkan hasrat demi mengubah mendung jadi biru
Langkah tegap bulatkan tekad dan asa
Bila dicaci hati nurani
Jiwa kan tetap teguh dan kukuh
Badai rintangan menerjangmu silih berganti
Gerak karyamu tak pernah henti meski slalu dicaci
Dari penggalan dibait
kedua yang memiliki makna tersirat yaitu tetaplah jalan kedepan dan terus
berjuang walaupun cacian, olokan ataupun omongan yang menajtuhkanmu karena dari
beribu banyak masyarakat banyak yang terus mendukungmu sebagaimana kamu
(timnas) telah berjuang untuk melaju ke piala dunia 2026. Untuk bait terakhir
saya menciptakannya dengan sebuah makna yang mengandung doa dan harapan untuk
timnas Indonesia agar terbang tinggi seperti lambang negara kita yaitu burung
garuda. Bait terakhir ini berbunyi seperti
Harapan rakyat kepadamu hanya satu
Semakin gagah dan kuat timnasku
Sang Garuda telah bangun dari tidur panjangnya
Teriakan INDONESIA
Menggema di segala penjuru
Cakar yang runcing
Sayap yang lebar
Mata yang tajam
Siap untuk terbang tinggi di
kancah Internasional
Begitulah puisi kedua saya yang telah
saya ikutkan lomba cipta puisi nasional yang diadakan oleh lintang.or.id. adapun
selebaran atau poster yang saya ikuti seperti dibawah ini :






0 komentar:
Posting Komentar