Senin, 23 Desember 2024

Essai 4: Partisipasi Lomba_Psikologi Inovasi_Faiz Iqbal Fauzi_24310420038

 

TUGAS ESSAI 4

PSIKOLOGI INOVASI

Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

 

 

Faiz Iqbal Fauzi

24310420038

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA
2024

 

Memiliki daya saing yang tinggi serta ambisi yang menggebu sangatlah dibutuhkan untuk mengikuti setiap perlombaan. Tahun 2024 ini adalah dimana jiwa ambisi untuk mengikuti sebuah perlombaan ditantang dengan adanya tugas Psikologi Inovasi, menggali dan mencari informasi tentang perlombaan yang akan diikuti sangat susah gampang, sampai pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti dua perlomba yang sama yaitu lomba cipta puisi nasional yang di selenggarakan oleh lintang.or.id.

Lomba cipta puisi nasional kali ini adalah keikutsertaan saya untuk kedua kalinya berpartisipasi. Di tahun 2019 saya pernah mengikuti yang serupa dan sekarang saya mengikuti lagi dengan alih-alih ingin menang tetapi melihat apakah saya masih bisa membuat sebuah tulisan indah yang menyentuh. Puisi yang saya ikut lombaka berjudul Titik Terendah karya saya seorang, puisi ini bercerita akan kehidupan seseorang yang dilema akan sebuah permasalahan dari keluarga, cinta dan drama kehidupannya. Kutipan dari puisi yang saya buat :

Suara gemuruh badai malam ini, akan segera tiba

Enggan rasanya aku mengintip keluar jendela

Hanya untuk melihat jatuhnya air hujan

Hingar bingar suara kedidupan kota

Membuat aku merasa kesepian dalam keramaian

Rasa sakit yang kurasakan disini

Tak kala semua memori yang menyakitkan berputar dalam rongga kepalaku

Kondisiku seperti pohon yang akan tumbang

Telihat kokoh tapi sangat rapuh

Fakta telah menjadi fatamorgana

Aku tak bisa,

Tak bisa menerima keadaan ini

 

 

Penggalam puisi diatas merupakan isi dari puisi berjudul Titik Terindah, memiliki makna tersirat mengenai kebingungan dan kegundahan seseorang yang tidak bisa menerima secaa lapang dada akan sebuh realitas kehidupan.

 

Tentang siapa aku, darimana aku berasal, dan mau kemana aku berjalan

Hanya aku dan diriku yang bisa menjawab semuanya

Ingat !!!

Kegelapanku adalah sebuah cerah yang tertutupi

Jangan rekat aku dengan paksa, tapi terima aku dengan rasa

Jangan pandang aku dengan kasta, tapi terima aku dengan cinta

 

 

Makna dari potongan puisi diatas sebagaimana dia manusia yang hanya ingin diterima dan diakui sebagai layaknya manusia tanpa harus ada rasa kasihan atau pandangan yang tidak mengenakan, karena bahwa dia sangat ingin hidup secara manusiawi. Rasa kasih, sayang, dan cinta yang selama ini belum dia dapatkan terutama keluarga yang tidak sama sekali memberikan rasa itu maka dia berharap kepada semua orang untuk tidak menilai siapa dirinya di masa lalu tapi berikan dan terima dia dengan rasa itu agar dia tahu bahwa dunia baik kepadanya.

 

Sebagai bukti keikut sertaan dalam perlombaan cipta puisi nasional berikut adalah lampiran sertifikatnya :


Perlombaan kedua yang saya ikuti sama dengan perlombaan pertama yaitu lomba cipta puisi nasional. Lomba kedua ini memiliki tema mengenai timnas Indonesia yang sedang berjuang untuk masuk ke piala dunia 2026 mendatang. Di puisi kali ini rasa nasionalisme saya begitu besar terhadap timnas karena setelah beberapa tahun Indonesia akan masuk ke piala dunia 2026. Puisi yang saya buat berjudul “Sang Pejuang” karena judul tersebut sangat cocok ketika mendiskripsikan timnas yang berlaga untuk masuk ke piala dunia 2026.

Bait pertama yang saya bikin tersirat akan sebuah makna menggambarkan tentang bagaimana bahagia serta bangganya saya terhadap timnas Indonesia yang berjuang mati-matian untuk menciptakan gol ke lawan, inilah isi dari bait pertama yang saya buat

Hati siapa yang tak bahagia dan bangga

Teriakan semangat terus terlontarkan

Dukungan dan doa telah mengiringinya

Untuk menuju piala dunia

Amanatkan rakyat tuk melenggang cantik disana

Tekadmu nan bulat, redam badai bangsa yang tak pernah alpa

 

Penggalan bait pertama yang sangat membara akan sebuah rasa nasionalis saya terhadap timnas yang berjuang. Tak lupa di bait kedua saya menuliskan

 

Pandang citamu tlah menggebrak bangsa ini

Anganmu tak lekang oleh waktu

Kuatkan hasrat demi mengubah mendung jadi biru

Langkah tegap bulatkan tekad dan asa

Bila dicaci hati nurani

Jiwa kan tetap teguh dan kukuh

Badai rintangan menerjangmu silih berganti

Gerak karyamu tak pernah henti meski slalu dicaci

 

Dari penggalan dibait kedua yang memiliki makna tersirat yaitu tetaplah jalan kedepan dan terus berjuang walaupun cacian, olokan ataupun omongan yang menajtuhkanmu karena dari beribu banyak masyarakat banyak yang terus mendukungmu sebagaimana kamu (timnas) telah berjuang untuk melaju ke piala dunia 2026. Untuk bait terakhir saya menciptakannya dengan sebuah makna yang mengandung doa dan harapan untuk timnas Indonesia agar terbang tinggi seperti lambang negara kita yaitu burung garuda. Bait terakhir ini berbunyi seperti

Harapan rakyat kepadamu hanya satu

Semakin gagah dan kuat timnasku

Sang Garuda telah bangun dari tidur panjangnya

Teriakan INDONESIA

Menggema di segala penjuru

Cakar yang runcing

Sayap yang lebar

Mata yang tajam

Siap untuk terbang tinggi di kancah Internasional

 

 

Begitulah puisi kedua saya yang telah saya ikutkan lomba cipta puisi nasional yang diadakan oleh lintang.or.id. adapun selebaran atau poster yang saya ikuti seperti dibawah ini :



0 komentar:

Posting Komentar