FARREL EZA SANDIVA
NIM: 24310410241
PSIKOLOGI LINGKUNGAN (B)
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
Pada Sabtu 4 Juli 2026, pukul 10.15 hingga 11.20 WIB saya berkesempatan melakukan kunjungan ke TPS Go-Sari (Unit layanan kebersihan BUMDes Guwosari) 3R yang beralamat di Iroyudan, Guwosari, Kec. Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55751.
Kunjungan ini menambah pengetahuan saya mengenai bagaimana sebuah inisiatif lokal berbasis kepemudaan mampu berkembang menjadi pilar pengelolaan sampah formal, sekaligus mengetahui tantangan nyata yang masih membayangi sistem pengelolaan sampah. Masalah pengelolaan sampah bukan sekadar menyediakan tempat pembuangan, melainkan sebuah wujud nyata dari perilaku, konsistensi, dan kebijakan yang saling berkolaborasi.
TPS Go-Sari
TPS Go-Sari merupakan unit layanan pengelolaan sampah yang dikelola oleh TPS Go-Sari (unit layanan kebersihan BUMDes Guwosari) yang berlokasi di Iroyudan, Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TPS Go-Sari didirikan pada bulan November 2019 sebagai upaya Kalurahan Guwosari dalam mengatasi permasalahan sampah secara mandiri dan berkelanjutan. TPS ini menjadi salah satu unit usaha Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal/BUMDes) Guwosari yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pendirian TPS Go-Sari dilatarbelakangi oleh meningkatnya volume sampah rumah tangga serta kebutuhan akan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif di tingkat kalurahan. Dengan mengusung konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan pengelolaan berbasis masyarakat, TPS Go-Sari berupaya mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Dalam perkembangannya, TPS Go-Sari menerapkan konsep zero waste dengan melakukan pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna. Sampah organik diolah menjadi kompos dan produk ramah lingkungan lainnya, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang atau dijual kembali. Melalui sistem tersebut, Kalurahan Guwosari secara bertahap mampu mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA Piyungan dan menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah mandiri di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keberadaan TPS Go-Sari tidak hanya berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Hingga saat ini, TPS Go-Sari terus berkembang sebagai pusat layanan kebersihan dan edukasi lingkungan yang mendukung terwujudnya masyarakat Guwosari yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Tantangan dan Kendala TPS Go-Sari (Singkat)
1. Meningkatnya volume sampah dari masyarakat yang harus dikelola setiap hari.
2. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah masih belum merata.
3. Keterbatasan sarana dan prasarana pengolahan sampah dibandingkan jumlah sampah yang masuk.
4. Biaya operasional dan perawatan alat yang cukup besar untuk menjaga keberlanjutan layanan.
5. Pemasaran hasil daur ulang dan kompos yang terkadang menghadapi kendala permintaan pasar.
6. Konsistensi partisipasi masyarakat dalam mendukung program pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, TPS Go-Sari terus berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan sampah melalui edukasi masyarakat, inovasi pengolahan sampah, dan penguatan kerja sama dengan berbagai pihak.
Kesimpulan dan Refleksi
Kunjungan saya dan pengamatan di TPS Go-Sari, dapat saya simpulkan bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan secara terorganisir dan melibatkan masyarakat mampu memberikan manfaat yang besar bagi lingkungan. TPS Go-Sari tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Melalui proses pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sampah, jumlah sampah yang berakhir di TPA dapat dikurangi sehingga membantu mengatasi permasalahan sampah di wilayah Bantul.
Dari kegiatan ini, saya memperoleh pemahaman bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat. Saya menyadari bahwa kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah dapat memberikan dampak positif yang besar apabila dilakukan secara konsisten. Kunjungan ke TPS Go-Sari juga menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan perilaku peduli lingkungan dapat dimulai dari tindakan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai mahasiswa psikologi, saya melihat bahwa edukasi dan pembentukan perilaku ramah lingkungan memiliki peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.












0 komentar:
Posting Komentar