Minggu, 19 Juli 2026

Essai 8 - Melakukan upcycling sampah anorganik & merintis sbg pengusaha ekonomi sirkuler

 

Pengalaman Membuat Produk Kreatif Gantungan Kunci dari Limbah Potongan Tali Macrame dan Tutup Botol Bekas

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai 8

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Di tengah banyaknya barang bekas yang sering dianggap sebagai sampah, saya mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Menurut saya, barang yang sudah tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai ekonomi. Berawal dari pemikiran tersebut, saya bersama adik membuat gantungan kunci dengan memanfaatkan sisa potongan tali macrame dan tutup botol plastik bekas.

Ide ini muncul ketika adik saya menyelesaikan tugas sekolah yang menggunakan tali macrame. Setelah tugas selesai, masih banyak potongan tali yang tersisa. Di rumah juga terdapat beberapa tutup botol plastik bekas yang hanya menumpuk. Saya kemudian berpikir untuk menggabungkan kedua bahan tersebut menjadi sebuah kerajinan tangan yang unik sekaligus ramah lingkungan. Agar hasilnya lebih menarik, saya membeli beberapa aksesori tambahan, ring gantungan kunci, dan plastik kemasan sehingga produk memiliki tampilan yang lebih rapi dan estetik.

Saya membuat kerajinan tersebut dalam 2 waktu. Kegiatan pertama di mulai pada tanggal 1 Juli 2026 pukul 18.00 WIB dan berlangsung sekitar tiga jam. Sedangkan kegiatan ke 2 pada tanggal 7 Juli 2026 pukul 10.00 WIB dan berlangsung kurang lebih selama 4 jam.

Sebelum memulai, saya menyiapkan seluruh alat dan bahan seperti sisa tali macrame, tutup botol bekas, baking paper, setrika, gunting, perforator, sendok, aksesori, ring gantungan kunci, dan kemasan plastik.

Tahap pertama adalah mengolah tutup botol bekas. Tutup botol dipotong kecil-kecil, kemudian diletakkan di antara baking paper dan dipanaskan menggunakan setrika hingga meleleh dan menyatu. Setelah dingin, lembaran plastik tersebut dipotong menjadi berbagai bentuk, seperti hati(love), bulan, bintang dan bentuk-bentuk lain sesuai kreativitas. Selanjutnya, setiap potongan diberi lubang menggunakan perforator untuk dipasang dengan ring gantungan kunci.

Selama proses produksi, saya mengalami beberapa hambatan. Pada percobaan pertama, hasil lelehan plastik kurang rata karena suhu setrika terlalu panas sehingga sebagian plastik gosong, sedangkan bagian lainnya belum menyatu sempurna. Beberapa potongan juga retak saat dipotong karena belum benar-benar dingin. Untuk mengatasinya, saya mencoba beberapa kali hingga menemukan suhu yang sesuai dan menunggu plastik benar-benar mengeras sebelum dibentuk. Proses ini mengajarkan saya bahwa menghasilkan sebuah produk memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kemauan untuk terus mencoba meskipun mengalami kegagalan.

Sementara itu, adik saya membantu membuat berbagai simpul tali macrame. Kami belajar melalui video tutorial di YouTube, kemudian mencoba memodifikasi desain agar setiap gantungan kunci memiliki bentuk yang berbeda. Kerja sama ini membuat proses pembuatan menjadi lebih menyenangkan sekaligus melatih kemampuan kami dalam berkreasi. Setelah seluruh produk selesai, saya mengemas setiap gantungan kunci menggunakan plastik kemasan khusus agar tampil lebih menarik.

Langkah berikutnya adalah mendokumentasikan hasil karya tersebut. Saya melakukan dokumentasi pada tanggal 14 Juli 2026 pukul 17.30 WIB hingga selesai. Foto-foto tersebut saya unggah ke Story WhatsApp dan feed Instagram sebagai media promosi. Adik saya juga ikut membantu memasarkan produk kepada teman-teman sekolahnya.

Meskipun belum ada produk yang terjual, beberapa teman adik menunjukkan ketertarikan dengan bertanya mengenai harga dan cara pemesanan. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa membangun minat konsumen membutuhkan waktu. Dalam psikologi konsumen, seseorang biasanya akan melalui beberapa tahap sebelum memutuskan membeli, yaitu mulai dari melihat produk, merasa tertarik, mencari informasi, membandingkan dengan produk lain, hingga akhirnya memutuskan untuk membeli.

Saya juga belajar bahwa tampilan produk sangat memengaruhi persepsi konsumen. Kemasan yang rapi, foto yang menarik, dan desain yang unik dapat meningkatkan kesan bahwa produk memiliki kualitas yang baik. Sebaliknya, apabila foto kurang menarik atau kemasan terlihat sederhana, calon pembeli cenderung ragu untuk membeli. Pengalaman ini membuat saya memahami pentingnya membangun kepercayaan konsumen melalui penyajian produk yang baik.

Dengan memanfaatkan sisa tali macrame dan tutup botol bekas, saya juga belajar bahwa perilaku peduli lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Barang yang sebelumnya dianggap sampah ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Pengalaman ini mengubah cara pandang saya terhadap limbah serta menumbuhkan kesadaran untuk lebih bijak dalam memanfaatkan barang bekas.

Melalui kegiatan ini, saya memperoleh banyak pelajaran, mulai dari proses produksi, mengatasi kegagalan, bekerja sama, hingga mencoba memasarkan produk secara sederhana melalui media sosial. Walaupun belum berhasil memperoleh penjualan, pengalaman ini memberikan bekal berharga tentang kreativitas, kewirausahaan, psikologi konsumen, dan kepedulian terhadap lingkungan. Saya berharap ke depannya dapat mengembangkan desain yang lebih menarik, memperluas promosi melalui media sosial, serta menghasilkan produk yang mampu menarik minat lebih banyak konsumen.


Link Promosi Feed Instagram :

https://www.instagram.com/p/Da2rQ5kiVX9/?igsh=b3RhaXptazBhdnAx

0 komentar:

Posting Komentar