Senin, 20 Juli 2026

ESAI 12 - UAS PSIKOLOGI LINGKUNGAN

Nama : Busthanul Arifin

NIM : 25310440002

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

 

JAWABAN UAS

Menurut saya, ambisi tersebut memang terlihat sangat besar, bahkan sekilas tampak sulit dicapai. Jika dilihat dari jumlah mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Psikologi Lingkungan, tentu mereka tidak akan mampu mengubah perilaku jutaan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penyebutan absurd dapat dipahami sebagai gambaran bahwa target yang ingin dicapai jauh lebih besar dibandingkan kemampuan kelompok mahasiswa tersebut.

Namun, saya juga melihat bahwa tujuan mata kuliah ini bukan semata-mata untuk menyelesaikan persoalan sampah di Yogyakarta. Yang lebih penting adalah membentuk karakter dan kebiasaan mahasiswa agar memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, membuat kompos, menjadi nasabah bank sampah, dan mengajak orang lain melalui media sosial merupakan bentuk pendidikan perilaku yang diharapkan dapat terus dibawa setelah mahasiswa lulus.

Saya setuju bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, pemerintah dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab utama dalam pengelolaan sampah. Artinya, mahasiswa tidak dapat dijadikan pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan sistem pengelolaan sampah. Jika fasilitas, kebijakan, dan pengangkutan sampah belum berjalan dengan baik, maka perubahan perilaku masyarakat saja tidak akan cukup untuk mengatasi masalah tersebut.

Di sisi lain, saya juga berpendapat bahwa pengelolaan sampah tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan pemerintah. Permasalahan sampah merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah menyediakan sistem dan fasilitas, sedangkan masyarakat berperan mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dapat menjadi contoh bagi keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya. Meskipun pengaruhnya tidak langsung dirasakan oleh jutaan penduduk, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten tetap memiliki nilai positif.

Dengan demikian, saya menilai ambisi tersebut memang sangat tinggi dan sulit diwujudkan jika diartikan sebagai upaya mengubah seluruh perilaku masyarakat Yogyakarta. Akan tetapi, jika tujuan utamanya adalah membentuk mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarnya, maka ambisi tersebut masih realistis dan layak untuk diupayakan. Perubahan sosial memang tidak terjadi secara instan, tetapi selalu dimulai dari perubahan perilaku individu yang kemudian menyebar ke lingkungan yang lebih luas.

Di dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan ini saya belajar satu hal yang sangat penting, yaitu bahwa dalam sebuah usaha untuk menjaga lingkungan tidak ada langkah yang bersifat remeh. Setiap tindakan kecil memiliki makna dan memberikan kontribusi bagi kebaikan masyarakat. Perubahan besar selalu diawali dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Selama mengikuti perkuliahan ini, saya menyadari bahwa saya tidak hanya belajar tentang sampah, tetapi juga belajar menghargai orang-orang yang selama ini berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan. Sebelum mengikuti mata kuliah ini, saya mungkin tidak terlalu memperhatikan peran mereka. Namun, setelah mengikuti perkuliahan, sudut pandang saya berubah. Hal ini menguatkan rasa hormat saya terhadap pekerjaan yang sering kali dianggap biasa oleh banyak orang, padahal memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat.


Pengalaman yang paling membekas bagi saya terjadi ketika saya pergi ke sebuah mal di Yogyakarta. Saat itu saya membawa bayi saya yang sudah bisa berjalan dan saya harus ke kamar mandi. Dalam kondisi tersebut saya mendapat bantuan yang sangat tulus dari seorang petugas kebersihan (OB) bernama Mas Muslih, yang merupakan seorang penyandang tunawicara. Sejak saya datang hingga selesai dari kamar mandi, Mas Muslih membantu saya dengan penuh perhatian. Meskipun beliau tidak dapat berkomunikasi secara verbal, saya dapat merasakan kepedulian dan ketulusan beliau melalui setiap tindakan yang diberikan. Bantuan sederhana itu sangat berarti bagi saya sebagai seorang bapak yang sedang membawa anak kecil.

Pada saat itulah saya langsung teringat dengan apa yang disampaikan Bu Shinta selama perkuliahan. Bu Shinta mengajak kami untuk melihat sesuatu yang sering kali luput dari perhatian banyak orang. Beliau juga berkali-kali mengingatkan kami untuk memuliakan sampah, yaitu dengan cara memilah sampah sesuai jenisnya dan menyadari bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab setiap individu. Selain itu, kegiatan kunjungan ke TPS juga membuka mata saya mengenai betapa tidak mudahnya proses pengelolaan sampah dan betapa besar jasa orang-orang yang bekerja di balik kebersihan yang setiap hari kita nikmati.

Pengalaman di mal tersebut akhirnya saya maknai dengan cara yang berbeda. Saya menyadari bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya ditunjukkan dengan memilah sampah atau membuat kompos, tetapi juga dengan menghargai dan menghormati orang-orang yang setiap hari bekerja menjaga kebersihan lingkungan. Mereka sering kali tidak mendapatkan perhatian, padahal pekerjaan mereka sangat penting bagi kenyamanan masyarakat.

Kurang lebih seminggu setelah kejadian itu, saya kembali memiliki agenda di mal yang sama. Saya sengaja meluangkan waktu untuk mencari Mas Muslih. Tujuan saya sederhana, yaitu ingin mengucapkan terima kasih secara langsung atas bantuan yang pernah beliau berikan kepada saya. Saya merasa beliau layak mendapatkan apresiasi karena telah membantu dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena saya belajar bahwa rasa syukur juga dapat diwujudkan dengan menghargai orang lain.


Melalui mata kuliah Psikologi Lingkungan ini, saya mendapatkan pelajaran yang jauh lebih luas daripada sekadar memahami teori tentang sampah dan lingkungan. Saya belajar membangun empati, menghargai setiap profesi, dan menyadari bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Saya juga belajar bahwa menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan bukan hanya tentang tindakan besar, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang selama ini bekerja menjaga kebersihan di sekitar kita.

Bagi saya, inilah makna terbesar dari mata kuliah Psikologi Lingkungan. Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau gerakan yang melibatkan banyak orang. Perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, dari kebiasaan memilah sampah, menghargai pekerjaan orang lain, mengucapkan terima kasih kepada mereka yang berjasa, dan menumbuhkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Jika setiap orang melakukan langkah-langkah kecil tersebut dengan konsisten, saya percaya dampaknya akan menjadi besar bagi lingkungan dan bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

 


0 komentar:

Posting Komentar