Nama : Busthanul Arifin
NIM : 25310440002
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
JAWABAN UAS
Menurut saya, ambisi tersebut memang terlihat
sangat besar, bahkan sekilas tampak sulit dicapai. Jika dilihat dari jumlah
mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Psikologi Lingkungan, tentu mereka tidak
akan mampu mengubah perilaku jutaan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dalam
waktu singkat. Oleh karena itu, penyebutan absurd dapat dipahami sebagai
gambaran bahwa target yang ingin dicapai jauh lebih besar dibandingkan
kemampuan kelompok mahasiswa tersebut.
Namun,
saya juga melihat bahwa tujuan mata kuliah ini bukan semata-mata untuk
menyelesaikan persoalan sampah di Yogyakarta. Yang lebih penting adalah
membentuk karakter dan kebiasaan mahasiswa agar memiliki tanggung jawab
terhadap lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, membuat
kompos, menjadi nasabah bank sampah, dan mengajak orang lain melalui media
sosial merupakan bentuk pendidikan perilaku yang diharapkan dapat terus dibawa
setelah mahasiswa lulus.
Saya
setuju bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, pemerintah dan
pemerintah daerah memiliki tanggung jawab utama dalam pengelolaan sampah.
Artinya, mahasiswa tidak dapat dijadikan pihak yang bertanggung jawab atas
kegagalan sistem pengelolaan sampah. Jika fasilitas, kebijakan, dan
pengangkutan sampah belum berjalan dengan baik, maka perubahan perilaku
masyarakat saja tidak akan cukup untuk mengatasi masalah tersebut.
Di sisi
lain, saya juga berpendapat bahwa pengelolaan sampah tidak akan berhasil
apabila hanya mengandalkan pemerintah. Permasalahan sampah merupakan tanggung
jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah menyediakan sistem
dan fasilitas, sedangkan masyarakat berperan mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dapat
menjadi contoh bagi keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya. Meskipun
pengaruhnya tidak langsung dirasakan oleh jutaan penduduk, perubahan kecil yang
dilakukan secara konsisten tetap memiliki nilai positif.
Dengan
demikian, saya menilai ambisi tersebut memang sangat tinggi dan sulit
diwujudkan jika diartikan sebagai upaya mengubah seluruh perilaku masyarakat
Yogyakarta. Akan tetapi, jika tujuan utamanya adalah membentuk mahasiswa yang
memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mampu menjadi contoh bagi
orang-orang di sekitarnya, maka ambisi tersebut masih realistis dan layak untuk
diupayakan. Perubahan sosial memang tidak terjadi secara instan, tetapi selalu
dimulai dari perubahan perilaku individu yang kemudian menyebar ke lingkungan
yang lebih luas.
Di dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan ini
saya belajar satu hal yang sangat penting, yaitu bahwa dalam sebuah usaha untuk
menjaga lingkungan tidak ada langkah yang bersifat remeh. Setiap tindakan kecil
memiliki makna dan memberikan kontribusi bagi kebaikan masyarakat. Perubahan
besar selalu diawali dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara
konsisten.
Selama mengikuti perkuliahan ini, saya
menyadari bahwa saya tidak hanya belajar tentang sampah, tetapi juga belajar
menghargai orang-orang yang selama ini berkontribusi menjaga kebersihan
lingkungan. Sebelum mengikuti mata kuliah ini, saya mungkin tidak terlalu
memperhatikan peran mereka. Namun, setelah mengikuti perkuliahan, sudut pandang
saya berubah. Hal ini menguatkan rasa hormat saya terhadap pekerjaan yang
sering kali dianggap biasa oleh banyak orang, padahal memiliki manfaat yang
sangat besar bagi kehidupan masyarakat.
Pengalaman yang paling membekas bagi saya
terjadi ketika saya pergi ke sebuah mal di Yogyakarta. Saat itu saya membawa
bayi saya yang sudah bisa
berjalan dan saya harus ke kamar mandi. Dalam kondisi tersebut saya mendapat
bantuan yang sangat tulus dari seorang petugas kebersihan (OB) bernama Mas
Muslih, yang merupakan seorang penyandang tunawicara. Sejak saya datang hingga
selesai dari kamar mandi, Mas Muslih membantu saya dengan penuh perhatian.
Meskipun beliau tidak dapat berkomunikasi secara verbal, saya dapat merasakan
kepedulian dan ketulusan beliau melalui setiap tindakan yang diberikan. Bantuan
sederhana itu sangat berarti bagi saya sebagai seorang bapak yang sedang membawa anak kecil.
Pada saat itulah saya langsung teringat dengan
apa yang disampaikan Bu Shinta selama perkuliahan. Bu Shinta mengajak kami
untuk melihat sesuatu yang sering kali luput dari perhatian banyak orang.
Beliau juga berkali-kali mengingatkan kami untuk memuliakan sampah, yaitu
dengan cara memilah sampah sesuai jenisnya dan menyadari bahwa pengelolaan
sampah bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab setiap individu.
Selain itu, kegiatan kunjungan ke TPS juga membuka mata saya mengenai betapa
tidak mudahnya proses pengelolaan sampah dan betapa besar jasa orang-orang yang
bekerja di balik kebersihan yang setiap hari kita nikmati.
Pengalaman di mal tersebut akhirnya saya maknai
dengan cara yang berbeda. Saya menyadari bahwa kepedulian terhadap lingkungan
tidak hanya ditunjukkan dengan memilah sampah atau membuat kompos, tetapi juga
dengan menghargai dan menghormati orang-orang yang setiap hari bekerja menjaga
kebersihan lingkungan. Mereka sering kali tidak mendapatkan perhatian, padahal
pekerjaan mereka sangat penting bagi kenyamanan masyarakat.
Kurang lebih seminggu setelah kejadian itu,
saya kembali memiliki agenda di mal yang sama. Saya sengaja meluangkan waktu
untuk mencari Mas Muslih. Tujuan saya sederhana, yaitu ingin mengucapkan terima
kasih secara langsung atas bantuan yang pernah beliau berikan kepada saya. Saya
merasa beliau layak mendapatkan apresiasi karena telah membantu dengan tulus
tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Momen tersebut menjadi pengalaman yang
sangat berharga bagi saya karena saya belajar bahwa rasa syukur juga dapat
diwujudkan dengan menghargai orang lain.
Melalui mata kuliah Psikologi Lingkungan ini,
saya mendapatkan pelajaran yang jauh lebih luas daripada sekadar memahami teori
tentang sampah dan lingkungan. Saya belajar membangun empati, menghargai setiap
profesi, dan menyadari bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab
bersama. Saya juga belajar bahwa menjadi pribadi yang peduli terhadap
lingkungan bukan hanya tentang tindakan besar, tetapi juga tentang bagaimana
kita memperlakukan orang-orang yang selama ini bekerja menjaga kebersihan di
sekitar kita.
Bagi
saya, inilah makna terbesar dari mata kuliah Psikologi Lingkungan. Perubahan
tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau gerakan yang melibatkan banyak
orang. Perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, dari kebiasaan memilah
sampah, menghargai pekerjaan orang lain, mengucapkan terima kasih kepada mereka
yang berjasa, dan menumbuhkan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Jika
setiap orang melakukan langkah-langkah kecil tersebut dengan konsisten, saya
percaya dampaknya akan menjadi besar bagi lingkungan dan bagi kehidupan
masyarakat secara keseluruhan.








0 komentar:
Posting Komentar