MAT.KUL : Psikologi Lingkungan
DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA M.A.
NAMA : AYOM PURWANINGSIH
NIM : 24310410227
FAKULTAS : PSIKOLOGI ( KELAS B)
Universitas Proklamasi 45
AMBISI SAYA SEBAGAI MAHASISWA PSIKOLOGI 45 YOGYAKARTA DALAM KETERAMPILAN MENGOLAH SAMPAH
Pendahuluan
Timbulan sampah organik rumah tangga terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk, menimbulkan masalah bau dan penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pengomposan adalah salah satu solusi yang efektif, namun proses ini sering kali bergantung pada bio-aktivator komersial yang membutuhkan biaya tambahan. Eksperimen yang saya dan teman-teman satu kelas laksanakan pada hari Minggu, 17 Mei 2026 di rumah dosen kami ibu Dr. Arundati Shinta M. A , ini bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak kulit buah-buahan sebagai bio-aktivator alami sebagai eco-enzym dan sampah dari daun pisang untuk mempercepat proses dekomposisi sampah daun kering.
Metodologi Eksperimen Membuat Kompos
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental rancangan pembuatan kompos sebagai berikut:
Belajar bertanggung jawab terhadap sampah kita sendiri, yaitu dengan meletakkan sampah sesuai tempatnya masing-masing menurut jenisnya yaitu sampah daun pisang dan sampah bungkus plastik. Sampah plastik dapat kita setorkan ke bank sampah. Sedangkan sampah daun pisang kita olah menjadi kompos dengan merajangnya menjadi kecil-kecil dicampur rata dengan dedak + kapur tani + POC + rajangan daun sirih + bubuk kayu + rajangan sampah kebun + tetes tebu + EM4, masukkan ke dalam gentong yang sudah ada bantal komposnya.
Kompos yang sudah jadi dipisahkan antara yang halus dan kasar. Yang halus masukkan ke ember logam, sedangkan yang kasar bisa langsung diletakkan pada tanaman. Kompos halus dicampur dengan bubuk kulit telur + abu gosok yang sudah disaring + bubuk arang halus, diamkan selama 2 hari maka akan siap digunakan.
Fermentasi kedua yaitu membuat Eco-enzym dari kulit buah-buahan dengan resep satu porsi eco-enzym= 90 gram gula merah + 270 gram kulit buah-buahan + 900 gram air matang dengan perbandingan 1:3:10. Hasil fermentasi dapat dipanen setelah minimal 3 bulan. Saring eco-enzym yang sudah matang dengan saringan besar plastik. Masukkan sampah eco-enzym ke ember POC. Masukkan cairan eco-enzym ke dalam botol plastik yang isinya 75% saja. Beri rajangan lerak + sereh. Fermentasikan minimal 1 bulan.
Membuat sabun cuci piring dari eco-enzym dengan bahan-bahan yang dicampur dalam air mendidih adalah: 200 gram mess (metyl etyl sulfonat) + 150 gram garam industri + 10 gram EDTA + 90 gram aminon + 26 gram gliserin + 1 tetes pewarna + 3,5 liter air. Diamkan semalaman. Esok harinya, cairan mess yang sudah dingin dicampur dengan 450 ml cairan eco-enzym fermentasi kedua yang sudah disaring + aroma jeruk, aduk sampai rata. Siapkan botol-botol kecil untuk tempat sabun cair yang siap digunakan.
Hasil dan Pembahasan Pembuatan Kompos
Berdasarkan pengamatan selama 1(satu) bulan, ekstrak kulit buah-buahan terfermentasi menunjukkan hasil yang paling optimal. Kandungan unsur hara seperti kalium pada kulit buah terbukti efektif merangsang aktivitas mikroorganisme pengurai. Suhu tumpukan kompos menandakan proses dekomposisi berjalan aktif dan cepat. Kompos yang dihasilkan berwarna coklat kehitaman, bertekstur remah menyerupai tanah, dan berbau khas humus, yang memenuhi standar pupuk kompos.
Belajar Menjadi Nasabah Bank Sampah
Kegiatan lain yang saya laksanakan dalam pengolahan sampah secara tepat adalah pemanfaatan bank sampah. Nasabah bank sampah adalah masyarakat, kelompok, atau instansi yang memilah dan menyetorkan sampah kering/anorganik ke bank sampah. Termasuk saya yang sudah menjadi nasabah bank sampah memiliki buku tabungan, mencatatkan nilai sampah yang disetor, dan dapat menukarnya dengan uang tunai, sembako, atau saldo tabungan.
Bank sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Nasabah memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang nantinya akan dijual di pabrik yang sudah bekerja sama. Sedangkan plastik kemasan dibeli ibu-ibu PKK setempat untuk didaur ulang menjadi barang-barang keraj\inan tangan.
Tujuan dibangunnya bank sampah sebenarnya bukan bank sampah itu sendiri. Melainkan strategi untuk membangun kepedulian masyarakat agar dapat berteman dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah. Jadi, bank sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus dengan gerakan 3R sehingga manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau dan sehat. Hal ini menyoroti bagaimana pemilahan sampah di tingkat rumah tangga tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan dari pencemaran, tetapi juga membangun kemandirian finansial bagi nasabah melalui tabungan.
Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mencapai pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola ini maka warga selain menjadi disiplin dalam mengelola sampah juga mendapatkan tambahan pemasukan dari sampah-sampah yang kami kumpulkan.
Jenis sampah yang diterima di bank sampah antara lain :
Plastik: botol minum, ember, dan kantong plastik.
Kertas: koran, kardus, dan buku.
Logam: kaleng, aluminium, dan tembaga.
Kaca: botol kaca.
Limbah sisa minyak goreng.
Cara kerja nasabah bank sampah :
Memilah. Nasabah memisahkan sampah di rumah sesuai jenisnya (organik dan anorganik).
Menyetor. Sampah kering disetorkan ke pengurus bank sampah setempat, biasanya dengan berat minimal tertentu (misalnya 1 kg per jenis).
Mencatat. Sampah ditimbang dan dihargai sesuai nilai beli bank sampah.
Menabung. Hasil penjualan dicatat dalam buku tabungan nasabah.
Menjadi nasabah bank sampah menuntut saya untuk disiplin. Di rumah, saya memilah sampah menjadi dua kategori utama, yaitu organik dan anorganik. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis seperti botol plastik, kardus bekas, dan kaleng, saya kumpulkan dan bersihkan. Setelah terkumpul dalam jumlah tertentu, saya membawanya ke unit Bank Sampah terdekat untuk ditimbang. Di sana, sampah tersebut dikonversikan ke dalam nilai rupiah dan dicatat ke dalam buku tabungan layaknya sistem perbankan konvensional.
Manfaat yang saya rasakan sebagai nasabah bank sampah sangat nyata. Secara lingkungan, saya turut andil dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus mendukung program daur ulang. Secara ekonomi, sampah yang sebelumnya hanya menjadi beban kini berubah menjadi tabungan. Saldo yang terkumpul secara berkala dapat ditarik untuk kebutuhan mendesak, seperti membeli perlengkapan sekolah anak atau sekadar menambah uang belanja bulanan.
KESIMPULAN
Kesadaran menjadi nasabah bank sampah mengajarkan saya bahwa sampah adalah sumber daya yang tertunda. Jika dikelola dengan baik maka sampah tidak lagi menjadi musuh lingkungan, melainkan sahabat ekonomi. Saya berharap akan ada lebih banyak masyarakat yang tergerak untuk menjadi nasabah bank sampah. Langkah sederhana dari rumah ini adalah kontribusi nyata saya dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Pengolahan sampah organik juga membutuhkan komitmen dan konsistensi dari setiap individu. Kesadaran bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama merupakan kunci utama. Dengan mengubah paradigma dari "membuang sampah" menjadi "mengelola sumber daya", kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari pencemaran, tetapi juga menciptakan sirkulasi ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, sebagai mahasiswa psikologi lingkungan saya juga mengumumkan di media sosial tentang komitmen mahasiswa untuk bersedia bertanggung jawab terhadap sampahnya. harapannya agar mahasiswa Psikologi Lingkungan UP 45 Yogyakarta bersedia bertanggung jawab terhadap sampahnya dan bisa menjadi suri tauladan (influencer) bagi masyarakat Yogyakarta sehingga TPA Piyungan Yogyakarta tidak bernasib sama seperti TPA Jatiwaringin di Tangerang Banten yang terbakar pada awal Juli 2026 ini.







0 komentar:
Posting Komentar