Ambisi yang Dianggap Absurd, tetapi Menumbuhkan
Perubahan: Refleksi Mahasiswa Psikologi Lingkungan UP45 dalam Membangun
Kepedulian terhadap Lingkungan
Pingkan
Winahyuningtyas
24310410234
Kelas
Psikologi Lingkungan – B
Tugas
Essai UAS
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pendahuluan
Saat pertama kali mendengar bahwa ambisi
Psikologi Lingkungan di Fakultas Psikologi UP45 adalah absurd, saya sempat
bertanya-tanya mengapa istilah itu digunakan. Kata absurd menggambarkan
sesuatu yang tampak sulit diwujudkan. Memang, dengan jumlah mahasiswa yang
terbatas, rasanya mustahil mengubah perilaku lebih dari 3,5 juta masyarakat
Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mengelola sampah. Selain itu, pengelolaan
sampah merupakan tanggung jawab pemerintah sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun
2008.
Namun, setelah mengikuti mata kuliah Psikologi
Lingkungan, saya memahami bahwa tujuan utamanya bukan mengubah seluruh
masyarakat secara langsung, melainkan membentuk mahasiswa agar memiliki
perilaku peduli lingkungan. Dari perubahan diri sendiri, kebiasaan baik dapat
menyebar kepada keluarga, teman, dan masyarakat. Perubahan besar selalu berawal
dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang
Selama mengikuti mata kuliah Psikologi Lingkungan, saya belajar bahwa menjaga lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satunya adalah mengikuti kegiatan Sedekah Sampah sejak April 2026 yang rutin dilaksanakan setiap minggu sore di lingkungan tempat tinggal saya. Dalam kegiatan tersebut, sampah dipilah sesuai jenisnya sebelum disetorkan ke bank sampah. Hasil penjualannya dimanfaatkan untuk kas desa dan kegiatan sosial.Awalnya saya menganggap kegiatan ini sebagai rutinitas biasa. Namun, saya menyadari bahwa memilah sampah ternyata mudah dilakukan dan memberikan manfaat yang besar.
a. Memilah Sampah pada Kegiatan Sedekah Sampah di Kampung
Untuk sampah organik sendiri bisa di gunakan untuk membuat kompos dan eco enzym. Saya berkesempatan belajar membuat eco enzyme di rumah dari kulit
buah yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami dan pupuk tanaman. Dari
pengalaman ini saya memahami bahwa tidak semua sampah harus berakhir di tempat
pembuangan akhir.
a.Proses Pembuatan Eco Enzyme
Kegiatan lain yang tidak kalah berkesan adalah plogging, yaitu memungut sampah sambil berolahraga, serta kegiatan before-after dan saya mendokumentasikan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah kegiatan berlangsung sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Sampah yang terkumpul disetorkan ke Bank Sampah KUPAS Panggungharjo, tempat saya menjadi nasabah.
a.Kegiatan Plogging
b.Kegiatan Before-After
b.Menjadi Nasabah Bank Sampah
Pengalaman yang paling membuka wawasan adalah
kunjungan ke TPST 3R Randu Alas. Dari hasil observasi dan wawancara, saya memahami
bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas,
tetapi juga pada perilaku masyarakat. Jika sampah dipilah sejak dari rumah,
proses pengelolaannya menjadi lebih mudah dan beban TPA dapat berkurang.
a. Kunjungan ke TPST 3R Randu Alas
Permasalahan Sampah dan Pentingnya Perubahan
Perilaku
Menurut saya, masalah sampah di Indonesia tidak
hanya disebabkan oleh keterbatasan fasilitas, tetapi juga oleh kebiasaan
masyarakat yang masih menganggap sampah sepenuhnya menjadi urusan pemerintah.
Banyak orang merasa cukup membayar iuran kebersihan tanpa peduli bagaimana
sampah dikelola.
Akibatnya, berbagai jenis sampah bercampur dan
terus menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Penutupan sementara TPA
Piyungan dan kebakaran TPA Jatiwaringin di Tangerang menjadi bukti bahwa
persoalan sampah dapat menimbulkan dampak lingkungan yang serius jika tidak
ditangani sejak dari sumbernya.
Dalam Psikologi Lingkungan di jelaskan bahwa
perilaku manusia dipengaruhi oleh kebiasaan, norma sosial, dan lingkungan
tempat seseorang hidup (Gifford, 2023). Oleh karena itu, perubahan perilaku
membutuhkan pembiasaan, keteladanan, dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Mengapa Ambisi Ini Tetap Penting?
Walaupun disebut absurd, saya justru
melihatnya sebagai sebuah harapan. Mungkin mahasiswa tidak mampu mengubah
jutaan orang sekaligus, tetapi dapat di mulai dari diri sendiri.
Saya mulai membiasakan membawa tumbler,
menggunakan tas belanja sendiri, dan membuang sampah
pada tempatnya. Kebiasaan sederhana tersebut ternyata diikuti oleh anggota
keluarga saya. Mereka mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan ikut
mengumpulkan sampah yang masih bernilai untuk disetorkan ke bank sampah.
a. Membiasakan Membawa Tumbler saat Bepergian
b. Membawa Tas Sendiri saat Berbelanja
c.Membuang Sampah pada Tempatnya
Saya juga membagikan berbagai kegiatan peduli
lingkungan dan membuat komitmen pro – lingkungan hidup melalui media sosial
sebagai bentuk edukasi. Media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk
mengajak generasi muda menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Dari
sinilah saya semakin yakin bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil
yang dilakukan secara konsisten.
Solusi
Menurut saya, penyelesaian masalah sampah
memerlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, perguruan tinggi,
dan komunitas lingkungan. Pemerintah bertugas menyediakan sistem pengelolaan
sampah yang baik, sedangkan masyarakat perlu bertanggung jawab terhadap sampah
yang dihasilkannya.
Mahasiswa Psikologi dapat berkontribusi melalui
pendekatan perubahan perilaku, misalnya dengan mengadakan kegiatan Sedekah
Sampah, plogging, kegiatan before-after, pelatihan pembuatan kompos dan eco enzyme,
bank sampah, serta kampanye melalui media sosial. Pendekatan ini sesuai dengan
konsep Psikologi Lingkungan yang menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan
tumbuh melalui kepedulian, contoh perilaku yang baik, dan dukungan lingkungan
sosial (Steg & de Groot, 2019).
Penutup
Bagi saya, ambisi Psikologi Lingkungan di Fakultas
Psikologi UP45 bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan langkah awal untuk
membangun budaya peduli lingkungan. Pengalaman mengikuti Sedekah Sampah,
membuat kompos dan eco enzyme, melakukan plogging, kegiatan before-after, menjadi nasabah
bank sampah, serta mengunjungi TPST Randu Alas membuat saya semakin sadar bahwa
menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
Saya percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai
dari tindakan besar. Ketika setiap orang mau bertanggung jawab terhadap sampah
yang dihasilkannya, beban TPA akan berkurang dan risiko krisis sampah dapat
diminimalkan. Karena itu, saya berkomitmen untuk terus menerapkan perilaku
pro-lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Jika bukan kita yang memulai, lalu
siapa lagi?
Daftar Pustaka
Gifford, R. (2023). Environmental Psychology:
Principles and Practice (6th ed.). Optimal Books.
Steg, L., & de Groot, J. I. M. (2019). Environmental
Psychology: An Introduction (2nd ed.). BPS Blackwell.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun
2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Clayton, S. (2024). The Psychology of Climate
Change (2nd ed.). American Psychological Association.
Wang, X., Zhang, D., & Li, Y. (2023).
Environmental concern and pro-environmental behavior: The mediating role of
environmental responsibility. Frontiers in Psychology, 14, 1186205.
Xu, F., Zhao, J., & Wang, S. (2024). Social norms and pro-environmental behavior: A systematic review. Frontiers in Psychology, 15, 1358041.
.jpeg)



.jpeg)


.jpeg)




.jpeg)

.jpeg)






0 komentar:
Posting Komentar