Senin, 20 Juli 2026

Essai 12 - Ujian Akhir Semester (UAS)

 

Ambisi yang Dianggap Absurd, tetapi Menumbuhkan Perubahan: Refleksi Mahasiswa Psikologi Lingkungan UP45 dalam Membangun Kepedulian terhadap Lingkungan

 

Pingkan Winahyuningtyas

24310410234

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Tugas Essai UAS

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Pendahuluan

Saat pertama kali mendengar bahwa ambisi Psikologi Lingkungan di Fakultas Psikologi UP45 adalah absurd, saya sempat bertanya-tanya mengapa istilah itu digunakan. Kata absurd menggambarkan sesuatu yang tampak sulit diwujudkan. Memang, dengan jumlah mahasiswa yang terbatas, rasanya mustahil mengubah perilaku lebih dari 3,5 juta masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dalam mengelola sampah. Selain itu, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab pemerintah sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.

Namun, setelah mengikuti mata kuliah Psikologi Lingkungan, saya memahami bahwa tujuan utamanya bukan mengubah seluruh masyarakat secara langsung, melainkan membentuk mahasiswa agar memiliki perilaku peduli lingkungan. Dari perubahan diri sendiri, kebiasaan baik dapat menyebar kepada keluarga, teman, dan masyarakat. Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang

Selama mengikuti mata kuliah Psikologi Lingkungan, saya belajar bahwa menjaga lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satunya adalah mengikuti kegiatan Sedekah Sampah sejak April 2026 yang rutin dilaksanakan setiap minggu sore di lingkungan tempat tinggal saya. Dalam kegiatan tersebut, sampah dipilah sesuai jenisnya sebelum disetorkan ke bank sampah. Hasil penjualannya dimanfaatkan untuk kas desa dan kegiatan sosial.Awalnya saya menganggap kegiatan ini sebagai rutinitas biasa. Namun, saya menyadari bahwa memilah sampah ternyata mudah dilakukan dan memberikan manfaat yang besar.

    a. Memilah Sampah pada Kegiatan Sedekah Sampah di Kampung

Untuk sampah organik sendiri bisa di gunakan untuk membuat kompos dan eco enzym. Saya berkesempatan belajar membuat eco enzyme di rumah dari kulit buah yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami dan pupuk tanaman. Dari pengalaman ini saya memahami bahwa tidak semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir.

    a.Proses Pembuatan Eco Enzyme

Kegiatan lain yang tidak kalah berkesan adalah plogging, yaitu memungut sampah sambil berolahraga, serta kegiatan before-after dan saya mendokumentasikan kondisi lingkungan sebelum dan sesudah kegiatan berlangsung sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Sampah yang terkumpul disetorkan ke Bank Sampah KUPAS Panggungharjo, tempat saya menjadi nasabah.

    a.Kegiatan Plogging

    b.Kegiatan Before-After

        

    b.Menjadi Nasabah Bank Sampah

Pengalaman yang paling membuka wawasan adalah kunjungan ke TPST 3R Randu Alas. Dari hasil observasi dan wawancara, saya memahami bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada perilaku masyarakat. Jika sampah dipilah sejak dari rumah, proses pengelolaannya menjadi lebih mudah dan beban TPA dapat berkurang.

    a. Kunjungan ke TPST 3R Randu Alas


Permasalahan Sampah dan Pentingnya Perubahan Perilaku

Menurut saya, masalah sampah di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan fasilitas, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat yang masih menganggap sampah sepenuhnya menjadi urusan pemerintah. Banyak orang merasa cukup membayar iuran kebersihan tanpa peduli bagaimana sampah dikelola.

Akibatnya, berbagai jenis sampah bercampur dan terus menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Penutupan sementara TPA Piyungan dan kebakaran TPA Jatiwaringin di Tangerang menjadi bukti bahwa persoalan sampah dapat menimbulkan dampak lingkungan yang serius jika tidak ditangani sejak dari sumbernya.

Dalam Psikologi Lingkungan di jelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kebiasaan, norma sosial, dan lingkungan tempat seseorang hidup (Gifford, 2023). Oleh karena itu, perubahan perilaku membutuhkan pembiasaan, keteladanan, dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Mengapa Ambisi Ini Tetap Penting?

Walaupun disebut absurd, saya justru melihatnya sebagai sebuah harapan. Mungkin mahasiswa tidak mampu mengubah jutaan orang sekaligus, tetapi dapat di mulai dari diri sendiri.

Saya mulai membiasakan membawa tumbler, menggunakan tas belanja sendiri, dan membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan sederhana tersebut ternyata diikuti oleh anggota keluarga saya. Mereka mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan ikut mengumpulkan sampah yang masih bernilai untuk disetorkan ke bank sampah.

a. Membiasakan Membawa Tumbler saat Bepergian

    b. Membawa Tas Sendiri saat Berbelanja

    c.Membuang Sampah pada Tempatnya

Saya juga membagikan berbagai kegiatan peduli lingkungan dan membuat komitmen pro – lingkungan hidup melalui media sosial sebagai bentuk edukasi. Media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengajak generasi muda menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Dari sinilah saya semakin yakin bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Solusi

Menurut saya, penyelesaian masalah sampah memerlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas lingkungan. Pemerintah bertugas menyediakan sistem pengelolaan sampah yang baik, sedangkan masyarakat perlu bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya.

Mahasiswa Psikologi dapat berkontribusi melalui pendekatan perubahan perilaku, misalnya dengan mengadakan kegiatan Sedekah Sampah, plogging, kegiatan before-after, pelatihan pembuatan kompos dan eco enzyme, bank sampah, serta kampanye melalui media sosial. Pendekatan ini sesuai dengan konsep Psikologi Lingkungan yang menjelaskan bahwa perilaku pro-lingkungan tumbuh melalui kepedulian, contoh perilaku yang baik, dan dukungan lingkungan sosial (Steg & de Groot, 2019).

Penutup

Bagi saya, ambisi Psikologi Lingkungan di Fakultas Psikologi UP45 bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan langkah awal untuk membangun budaya peduli lingkungan. Pengalaman mengikuti Sedekah Sampah, membuat kompos dan eco enzyme, melakukan plogging, kegiatan before-after, menjadi nasabah bank sampah, serta mengunjungi TPST Randu Alas membuat saya semakin sadar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.

Saya percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Ketika setiap orang mau bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya, beban TPA akan berkurang dan risiko krisis sampah dapat diminimalkan. Karena itu, saya berkomitmen untuk terus menerapkan perilaku pro-lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Jika bukan kita yang memulai, lalu siapa lagi?

Daftar Pustaka

Gifford, R. (2023). Environmental Psychology: Principles and Practice (6th ed.). Optimal Books.

Steg, L., & de Groot, J. I. M. (2019). Environmental Psychology: An Introduction (2nd ed.). BPS Blackwell.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Clayton, S. (2024). The Psychology of Climate Change (2nd ed.). American Psychological Association.

Wang, X., Zhang, D., & Li, Y. (2023). Environmental concern and pro-environmental behavior: The mediating role of environmental responsibility. Frontiers in Psychology, 14, 1186205.

Xu, F., Zhao, J., & Wang, S. (2024). Social norms and pro-environmental behavior: A systematic review. Frontiers in Psychology, 15, 1358041.

0 komentar:

Posting Komentar