Senin, 20 Juli 2026

UAS - PSIKOLOGI LINGKUNGAN

 

Langkah Kecil  Kepedulian Terhadap Lingkungan

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

Ujian Akhir Semester

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 
1.  2. 
(Merubah bahan bekas jadi kerajinan)             ( menjadi nasabah bank sampah)

3. 4. 
     (memilah sampah dan proses daur ulang)                                                 (membuat kompos)

5.   
(membuang sampah sesuai dengan klasifikasinya)




Masalah sampah di Indonesia sampai sekarang masih menjadi masalah yang serius. Hampir setiap hari jumlah sampah terus bertambah, sementara tempat pembuangan sampah semakin penuh. Salah satu contohnya adalah TPA Piyungan di Yogyakarta yang sudah beberapa kali mengalami kelebihan kapasitas. Bahkan, ada kekhawatiran TPA tersebut akan mengalami hal yang sama seperti TPA Jatiwaringin di Tangerang yang sempat terbakar karena penumpukan sampah. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah sampah tidak bisa dianggap sepele dan harus menjadi perhatian semua pihak. Dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan, mahasiswa diajarkan cara mengelola sampah dengan benar. Misalnya, memilah sampah sesuai jenisnya, membuat kompos dari sampah organik, menjadi anggota bank sampah, dan mengajak orang lain lebih peduli terhadap lingkungan lewat media sosial. Tujuannya supaya mahasiswa bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Namun, ada yang beranggapan kalau tujuan ini terlalu sulit untuk diwujudkan karena jumlah mahasiswa hanya sedikit, sedangkan jumlah penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai jutaan orang.

 

Menurut saya, pendapat tersebut memang ada benarnya. Mahasiswa tentu tidak bisa mengubah kebiasaan seluruh masyarakat hanya dalam waktu singkat. Apalagi, dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dijelaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab dalam mengelola sampah. Selama ini masyarakat juga sudah terbiasa membayar petugas kebersihan untuk mengangkut sampah dari rumah mereka. Akibatnya, banyak orang berpikir bahwa setelah membayar iuran sampah, tugas mereka sudah selesai. Padahal, kenyataannya petugas kebersihan juga memiliki keterbatasan. Jika sampah terus bertambah setiap hari, mereka akan kesulitan mengelolanya. Walaupun begitu, saya tidak setuju jika program Psikologi Lingkungan dianggap sia-sia. Menurut saya, tujuan utama mata kuliah ini bukan untuk menggantikan tugas pemerintah, tetapi untuk membentuk kebiasaan baik pada mahasiswa. Jika mahasiswa sudah terbiasa menjaga lingkungan, kebiasaan itu bisa ditularkan kepada keluarga, teman, dan masyarakat di sekitarnya. Perubahan memang tidak akan terjadi secara instan, tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil.

 

Misalnya, seorang mahasiswa mulai memilah sampah di rumah. Lama-kelamaan anggota keluarganya ikut melakukan hal yang sama. Setelah itu, tetangga melihat kebiasaan tersebut dan mulai tertarik untuk mencoba. Begitu juga ketika mahasiswa membagikan kegiatan peduli lingkungan di media sosial. Mungkin tidak semua orang akan mengikuti, tetapi pasti ada beberapa orang yang terinspirasi. Dari situlah perubahan bisa dimulai sedikit demi sedikit. Menurut saya, masalah sampah tidak akan selesai jika hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Setiap orang sebenarnya bisa membantu dengan cara yang sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, memilah sampah organik dan anorganik, atau menyetorkan sampah yang masih bernilai ke bank sampah. Jika kebiasaan ini dilakukan oleh banyak orang, jumlah sampah yang masuk ke TPA tentu akan berkurang.

 

Selain itu, pemerintah juga harus terus meningkatkan fasilitas pengelolaan sampah. Misalnya dengan menyediakan lebih banyak tempat sampah terpilah, mendukung kegiatan bank sampah, serta memberikan edukasi kepada masyarakat secara rutin. Sekolah, kampus, dan organisasi masyarakat juga bisa ikut mengadakan kegiatan seperti kerja bakti, pelatihan membuat kompos, atau kampanye menjaga kebersihan lingkungan. Dengan begitu, semua pihak memiliki peran masing-masing dalam mengatasi masalah sampah. Kesimpulannya, saya tidak menganggap ambisi Psikologi Lingkungan sebagai sesuatu yang mustahil. Memang mahasiswa tidak bisa mengubah perilaku jutaan orang sendirian. Namun, mahasiswa bisa menjadi contoh yang baik bagi lingkungan sekitarnya. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jika setiap mahasiswa mau memulai dari dirinya sendiri, lalu mengajak keluarga, teman, dan masyarakat untuk ikut peduli terhadap lingkungan, maka lama-kelamaan akan muncul perubahan yang lebih besar. Oleh karena itu, menurut saya program ini sangat bermanfaat karena mengajarkan mahasiswa untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga ikut menjaga lingkungan melalui tindakan nyata.

   


                                             


0 komentar:

Posting Komentar