Langkah Kecil Kepedulian Terhadap Lingkungan
Kinanthi Kembang Asmoro
24310410224
Ujian Akhir Semester
Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
(membuang sampah sesuai dengan klasifikasinya)
Masalah sampah di Indonesia sampai sekarang masih menjadi masalah
yang serius. Hampir setiap hari jumlah sampah terus bertambah, sementara tempat
pembuangan sampah semakin penuh. Salah satu contohnya adalah TPA Piyungan di
Yogyakarta yang sudah beberapa kali mengalami kelebihan kapasitas. Bahkan, ada
kekhawatiran TPA tersebut akan mengalami hal yang sama seperti TPA Jatiwaringin
di Tangerang yang sempat terbakar karena penumpukan sampah. Kondisi ini
menunjukkan bahwa masalah sampah tidak bisa dianggap sepele dan harus menjadi
perhatian semua pihak. Dalam mata kuliah Psikologi Lingkungan, mahasiswa
diajarkan cara mengelola sampah dengan benar. Misalnya, memilah sampah sesuai
jenisnya, membuat kompos dari sampah organik, menjadi anggota bank sampah, dan
mengajak orang lain lebih peduli terhadap lingkungan lewat media sosial.
Tujuannya supaya mahasiswa bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat.
Namun, ada yang beranggapan kalau tujuan ini terlalu sulit untuk diwujudkan
karena jumlah mahasiswa hanya sedikit, sedangkan jumlah penduduk di Daerah
Istimewa Yogyakarta mencapai jutaan orang.
Menurut saya, pendapat tersebut memang ada benarnya. Mahasiswa tentu
tidak bisa mengubah kebiasaan seluruh masyarakat hanya dalam waktu singkat.
Apalagi, dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dijelaskan bahwa pemerintah
dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab dalam mengelola sampah. Selama
ini masyarakat juga sudah terbiasa membayar petugas kebersihan untuk mengangkut
sampah dari rumah mereka. Akibatnya, banyak orang berpikir bahwa setelah
membayar iuran sampah, tugas mereka sudah selesai. Padahal, kenyataannya
petugas kebersihan juga memiliki keterbatasan. Jika sampah terus bertambah
setiap hari, mereka akan kesulitan mengelolanya. Walaupun begitu, saya tidak
setuju jika program Psikologi Lingkungan dianggap sia-sia. Menurut saya, tujuan
utama mata kuliah ini bukan untuk menggantikan tugas pemerintah, tetapi untuk
membentuk kebiasaan baik pada mahasiswa. Jika mahasiswa sudah terbiasa menjaga
lingkungan, kebiasaan itu bisa ditularkan kepada keluarga, teman, dan
masyarakat di sekitarnya. Perubahan memang tidak akan terjadi secara instan,
tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Misalnya, seorang mahasiswa mulai memilah sampah di rumah.
Lama-kelamaan anggota keluarganya ikut melakukan hal yang sama. Setelah itu,
tetangga melihat kebiasaan tersebut dan mulai tertarik untuk mencoba. Begitu
juga ketika mahasiswa membagikan kegiatan peduli lingkungan di media sosial.
Mungkin tidak semua orang akan mengikuti, tetapi pasti ada beberapa orang yang
terinspirasi. Dari situlah perubahan bisa dimulai sedikit demi sedikit. Menurut
saya, masalah sampah tidak akan selesai jika hanya mengandalkan pemerintah.
Masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka
hasilkan. Setiap orang sebenarnya bisa membantu dengan cara yang sederhana,
seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa botol minum
sendiri, memilah sampah organik dan anorganik, atau menyetorkan sampah yang
masih bernilai ke bank sampah. Jika kebiasaan ini dilakukan oleh banyak orang,
jumlah sampah yang masuk ke TPA tentu akan berkurang.
Selain itu, pemerintah juga harus terus meningkatkan fasilitas
pengelolaan sampah. Misalnya dengan menyediakan lebih banyak tempat sampah
terpilah, mendukung kegiatan bank sampah, serta memberikan edukasi kepada
masyarakat secara rutin. Sekolah, kampus, dan organisasi masyarakat juga bisa
ikut mengadakan kegiatan seperti kerja bakti, pelatihan membuat kompos, atau
kampanye menjaga kebersihan lingkungan. Dengan begitu, semua pihak memiliki
peran masing-masing dalam mengatasi masalah sampah. Kesimpulannya, saya tidak
menganggap ambisi Psikologi Lingkungan sebagai sesuatu yang mustahil. Memang
mahasiswa tidak bisa mengubah perilaku jutaan orang sendirian. Namun, mahasiswa
bisa menjadi contoh yang baik bagi lingkungan sekitarnya. Perubahan besar
selalu dimulai dari langkah kecil. Jika setiap mahasiswa mau memulai dari
dirinya sendiri, lalu mengajak keluarga, teman, dan masyarakat untuk ikut
peduli terhadap lingkungan, maka lama-kelamaan akan muncul perubahan yang lebih
besar. Oleh karena itu, menurut saya program ini sangat bermanfaat karena
mengajarkan mahasiswa untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga ikut menjaga
lingkungan melalui tindakan nyata.











0 komentar:
Posting Komentar