Minggu, 19 Juli 2026

ESSAI IX- NASABAH BANK SAMPAH

 

MENJADI NASABAH BANK SAMPAH 

Kinanthi Kembang Asmoro

24310410224

ESSAI IX

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab setiap orang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengelola sampah melalui bank sampah. Awalnya saya menganggap buku bekas dan galon plastik yang sudah tidak digunakan hanyalah barang yang memenuhi rumah. Namun, setelah menjadi nasabah Bank Sampah Tegalrejo Magelang, saya mengetahui bahwa sampah yang dipilah dengan baik masih memiliki nilai ekonomi. Selain menghasilkan uang, kegiatan ini juga membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan serta membentuk kebiasaan hidup yang lebih peduli terhadap kebersihan. Saya mulai mengumpulkan sampah anorganik yang ada di rumah, terutama buku-buku bekas yang sudah tidak dipakai lagi. Buku-buku tersebut berasal dari buku pelajaran lama, buku tulis yang masih memiliki banyak halaman kosong, majalah, serta berbagai kertas bekas yang masih dapat didaur ulang. Selain buku bekas, saya juga mengumpulkan dua buah galon Le Minerale bekas yang sudah tidak digunakan. Sebelum dibawa ke bank sampah, semua barang saya bersihkan terlebih dahulu agar tetap dalam kondisi baik dan mudah diproses oleh petugas.

Setelah semua sampah terkumpul, saya datang ke Bank Sampah Tegalrejo Magelang untuk melakukan penyetoran. Petugas kemudian menimbang seluruh sampah yang saya bawa dan mencatat hasilnya ke dalam buku tabungan sampah. Dari hasil penimbangan, berat buku bekas mencapai 21 kilogram, sedangkan dua galon Le Minerale bekas ikut disetorkan bersama buku tersebut. Setelah dihitung sesuai harga yang berlaku di bank sampah, total uang yang saya peroleh dari hasil penjualan sampah adalah Rp63.750. Uang tersebut kemudian dicatat sebagai tabungan saya di bank sampah. Meskipun jumlah uang yang diperoleh tidak terlalu besar, saya merasa bangga karena sampah yang sebelumnya hanya menumpuk di rumah ternyata dapat memberikan manfaat. Saya juga merasa lebih termotivasi untuk terus memilah sampah sebelum membuangnya. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa kebiasaan kecil, seperti mengumpulkan buku bekas dan galon plastik, ternyata dapat memberikan dampak yang positif bagi lingkungan. Selain rumah menjadi lebih rapi, sampah yang masih memiliki nilai jual juga dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang.

Selama menjadi nasabah Bank Sampah Tegalrejo Magelang, saya belajar bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari hal yang besar. Kebiasaan sederhana, seperti memisahkan sampah organik dan anorganik, mengumpulkan barang yang masih bisa didaur ulang, lalu menyetorkannya ke bank sampah sudah menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Saya juga belajar bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi juga dapat menjadi sumber manfaat jika dikelola dengan baik. Selain memberikan manfaat ekonomi, kegiatan menabung sampah juga mengajarkan saya tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Saya menjadi lebih terbiasa untuk tidak membuang sampah sembarangan dan selalu berpikir apakah suatu barang masih bisa dimanfaatkan kembali. Kebiasaan ini juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena semakin sedikit sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Melalui pengalaman menjadi nasabah Bank Sampah Tegalrejo Magelang, saya semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Saya berharap semakin banyak masyarakat, terutama para pelajar dan mahasiswa, yang ikut menjadi nasabah bank sampah. Dengan begitu, lingkungan akan menjadi lebih bersih, jumlah sampah dapat berkurang, dan masyarakat juga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Menurut saya, nilai yang paling penting dari kegiatan ini bukan hanya uang yang diperoleh sebesar Rp63.750, tetapi juga tumbuhnya rasa peduli terhadap lingkungan dan kesadaran bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga bumi agar tetap bersih dan sehat untuk generasi yang akan datang.

0 komentar:

Posting Komentar