Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Senin, 25 Mei 2026

ESAI 11: UTS PSIKOLOGI LINGKUNGAN

Penerapan Perilaku 3R dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Mengurangi Timbulan Sampah

Yufika Dwi Rezeki

25310440003

Kelas Psikologi Lingkungan – B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Permasalahan sampah masih menjadi salah satu masalah lingkungan yang sering ditemui di berbagai daerah. Penggunaan plastik sekali pakai yang terus meningkat menyebabkan jumlah sampah semakin banyak setiap harinya. Selain itu, masih banyak masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan. Menurut saya, masalah sampah tidak hanya disebabkan oleh kurangnya fasilitas pengelolaan sampah, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi timbulan sampah adalah menerapkan perilaku 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan barang penyebab sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, serta mendaur ulang sampah agar lebih bermanfaat. Menurut Chowdhury (2014), penerapan konsep 3R dapat membantu mengurangi timbulan sampah melalui perubahan perilaku masyarakat. Perilaku 3R cukup efektif diterapkan dalam berbagai kondisi sosial dan geografis karena dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan sekitar.

Bagan Hierarki 3R

REDUCE

(Mengurangi penggunaan barang penyebab sampah)

REUSE

(Menggunakan kembali barang yang masih layak pakai)

RECYCLE

(Mendaur ulang sampah menjadi barang baru yang bermanfaat)

Penerapan Reduce

Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang dapat menghasilkan sampah. Dalam kehidupan sehari-hari, saya mulai membawa tas belanja sendiri saat pergi ke minimarket agar mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Tas belanja ini bisa dilipat kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana dan tidak memakan tempat. 


Membawa tas belanja sendiri
Selain itu, saya juga mulai mengurangi pembelian minuman kemasan dan lebih sering membawa tumbler (botol minum) sendiri ketika bepergian. Ini sudah saya terapkan sejak saya masih sekolah hingga sekarang. Menurut saya, kebiasaan sederhana seperti ini memang terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membantu mengurangi jumlah sampah plastik di lingkungan.
Membawa tumbler saat berpergian

Penerapan Reuse

Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih bisa dipakai agar tidak langsung menjadi sampah. Saya pernah memanfaatkan bungkus deterjen bekas menjadi apron sederhana yang masih dapat digunakan kembali. Saya membantu mengumpulkan sampah plastik dan ibu menjahitnya menjadi apron atau celemek.

Hasil apron yang kami buat dari sampah plastik
Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa barang yang biasanya dianggap sampah ternyata masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna. Menurut saya, kegiatan seperti ini juga dapat membantu mengurangi sampah plastik rumah tangga dan melatih kreativitas.

Penerapan Recycle

Recycle merupakan proses mendaur ulang sampah menjadi barang baru yang lebih bermanfaat. Saya pernah mengikuti kegiatan pembuatan eco enzyme dari limbah organik seperti kulit buah di rumah ibu Shinta. Dari kegiatan tersebut, saya belajar bahwa sampah organik yang biasanya dibuang ternyata masih dapat dimanfaatkan kembali.

Selain itu, saya juga pernah mengunjungi TPST Randu Alas di Sleman, Yogyakarta. Di tempat tersebut saya melihat proses pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum diolah kembali. Menurut saya, pengelolaan sampah seperti ini dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang menumpuk di lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

 

Berkunjung ke TPST Randu Alas

Menurut saya, penerapan perilaku 3R juga perlu didukung oleh edukasi lingkungan sejak dini agar masyarakat lebih terbiasa menjaga kebersihan dan memilah sampah. Selain itu, lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang dalam mengelola sampah. Jika masyarakat saling mengingatkan dan memberi contoh yang baik, maka kesadaran menjaga lingkungan dapat meningkat secara perlahan.

Kesimpulan

Perilaku 3R merupakan salah satu cara yang efektif untuk membantu mengurangi timbulan sampah di lingkungan masyarakat. Reduce dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, reuse dilakukan dengan memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai, sedangkan recycle dilakukan dengan mendaur ulang sampah agar lebih bermanfaat.

Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah saja, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum pribadi, serta memanfaatkan kembali barang bekas dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan.

Jika perilaku 3R diterapkan secara konsisten dan dimulai dari hal-hal kecil, lingkungan dapat menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.

Daftar Pustaka

Ali, N.E.H., Talmizi, N.M., Wahab, S.N.A., Rijal, N.S., Rased, A.N.N.W.A., & Saleh, A.A. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. Conference: Changing Lives in Brilliant Ways International Invention & Innovative Competition (InIIC).

Bahraini, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse, recycle dan contohnya. Waste4Change.

Chowdhury, A.H., Mohammad, N., Ul Haque, Md.R., & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology, 8(5), 09–18.


Esai 6 - Eksperimen organik di rumah dosen

 Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.


Praktik Pengelolaan Sampah Organik


Pengelolaan sampah bukan hanya sekadar persoalan teknis, melainkan juga tanggung jawab moral dan psikologis yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, karier, keluarga, serta masyarakat. Dalam kerangka psikologi lingkungan, aktivitas mengolah sampah mencerminkan nilai dan sikap kita terhadap keberlanjutan. Ilustrasi mahasiswa yang bekerja sama mengolah sampah di rumah dosen menunjukkan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman nyata. Dengan terjun langsung dalam praktik pengolahan sampah, mahasiswa tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan perilaku pro-lingkungan yang dapat diterapkan di luar kelas.

Salah satu praktik yang efektif adalah pembuatan kompos, yaitu mengubah sampah organik menjadi pupuk alami yang kaya nutrisi. Proses ini membantu mengurangi timbunan sampah di TPA sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan. Selain itu, produksi eco-enzym dari kulit buah dapat menghasilkan cairan serbaguna untuk membersihkan, berkebun, bahkan mengendalikan hama. Inovasi lain adalah membuat sabun cair dari minyak goreng bekas, yang tidak hanya mencegah pencemaran lingkungan tetapi juga memberi manfaat praktis bagi rumah tangga. Semua praktik ini menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang bisa diolah menjadi produk bermanfaat.

Namun, pengelolaan sampah tidak berhenti pada keterampilan teknis. Esensinya adalah memproduksi sampah secara bertanggung jawab, yakni mengurangi konsumsi berlebihan, menggunakan kembali barang, dan memastikan setiap limbah diproses dengan bijak. Tantangan terbesar sering kali muncul dari rasa malas dan menunda pekerjaan. Untuk mengatasinya, diperlukan disiplin, motivasi kolektif, serta visi yang jelas tentang bagaimana pengelolaan sampah berkontribusi pada kesehatan keluarga, keberlanjutan karier, dan ketahanan masyarakat. Dengan memandang pengolahan sampah sebagai aktivitas bermakna, kita dapat mengubah kebiasaan malas menjadi tindakan nyata yang berkelanjutan.

Manfaat dari praktik ini sangat luas. Dalam konteks karier, keterampilan mengolah sampah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan inovasi ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan. Dalam keluarga, praktik ini menciptakan lingkungan yang lebih sehat sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab pada anak-anak. Di tingkat masyarakat, kegiatan kolektif dalam mengolah sampah memperkuat ikatan sosial dan membangun ketahanan lingkungan. Dengan demikian, integrasi kompos, eco-enzym, sabun cair, serta perilaku bertanggung jawab terhadap sampah menjadi pendekatan holistik untuk keberlanjutan.

Pengelolaan sampah bukan sekadar tugas akademik, melainkan komitmen seumur hidup. Dengan mengatasi rasa malas dan berpartisipasi aktif, setiap individu dapat mengubah sampah menjadi peluang untuk pertumbuhan dan inovasi. Pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya praktik, melainkan kebiasaan personal, keluarga, dan masyarakat yang memastikan generasi mendatang mewarisi dunia yang lebih bersih dan bertanggung jawab.

Esai 11-UTS Psikologi Lingkungan


Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM         : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.


3R dan Psikologi Lingkungan: Integrasi Perilaku Pro-Lingkungan di Indonesia


Pengelolaan sampah merupakan refleksi dari perilaku manusia terhadap lingkungan. Dalam psikologi lingkungan, perilaku ini dipengaruhi oleh faktor kognitif, sosial, dan budaya (Helmi, 2019). Hierarki 3R (reduce, reuse, recycle) menjadi kerangka perilaku yang menuntun masyarakat menuju keberlanjutan. Prinsip ini menempatkan reduce sebagai prioritas utama karena mencegah timbulan sampah sejak awal (Chowdhury et al., 2014).

 

Reduce: Pencegahan dari Sumber

Reduce menuntut kesadaran ekologis dan kontrol diri terhadap konsumsi. Menurut teori behavioristik, perilaku dapat dibentuk melalui penguatan positif seperti penghargaan bagi warga yang membawa wadah sendiri (Skinner, 1953; Helmi, 2019). Di TPST Randu Alas, warga diajak mengurangi plastik sekali pakai melalui edukasi dan sistem poin bank sampah. Pendekatan ini sejalan dengan teori kognitif sosial Bandura (1986) yang menekankan peran modeling dalam pembentukan perilaku pro-lingkungan.

Reuse: Kreativitas dan Identitas Ekologis

Reuse mencerminkan kreativitas dan nilai keberlanjutan. Bahrani (2023) menegaskan bahwa reuse menumbuhkan budaya ekologis yang memperkuat identitas sosial. Di TPST Randu Alas, reuse diwujudkan melalui pelatihan kerajinan dari barang bekas yang tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal. Menurut teori medan Lewin (1951), perilaku reuse muncul dari interaksi antara individu dan lingkungan yang mendukung inovasi.

Recycle: Adaptasi Teknologis

Recycle menjadi tahap terakhir dalam hierarki karena membutuhkan energi dan biaya tambahan (Ali et al., 2021). Namun, di TPST Randu Alas, proses daur ulang dilakukan dengan teknologi sederhana seperti mesin pencacah organik. Pendekatan ini memperlihatkan adaptasi ekologis masyarakat terhadap keterbatasan sumber daya, sejalan dengan konsep ecological psychology Gibson (1979) yang menekankan affordances, kemampuan lingkungan menyediakan peluang tindakan. 

Implikasi Psikologi Lingkungan


Hierarki 3R tidak hanya teknis, tetapi juga psikologis. Menurut Djuwita dan Ariyanto (2020), perilaku pro-lingkungan dipengaruhi oleh persepsi kontrol dan norma sosial. Ketika masyarakat melihat hasil nyata, lingkungan bersih dan bernilai ekonomi, mereka terdorong untuk mempertahankan perilaku tersebut. Di TPST Randu Alas, keberhasilan 3R menjadi bukti bahwa intervensi berbasis komunitas efektif dalam membentuk perilaku ekologis yang berkelanjutan.

Solusi dan Rekomendasi


Untuk memperkuat penerapan 3R, diperlukan integrasi antara pendidikan lingkungan, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat. Pendidikan menanamkan nilai reduce sejak dini, kebijakan mendorong industri ramah lingkungan, dan komunitas memperkuat praktik reuse dan recycle. Dengan demikian, hierarki 3R menjadi gerakan sosial yang membentuk budaya keberlanjutan di Indonesia.

Daftar Pustaka 

Ali, N. E. H., et al. (2021). Solid waste management hierarchy: An empirical investigation. InIIC Conference, 1–7.
Bahrani, A. (2023). Apa itu 3R? Pengertian reduce, reuse, recycle dan contohnya. Waste4Change.26 Mei. https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/ 
 Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall.
Chowdhury, A. H., et al. (2014). Developing 3Rs strategy for waste management in urban areas of Bangladesh. IOSR-JESTFT, 8(5), 9–18.
Djuwita, R., & Ariyanto, A. (2020). Pengantar Psikologi Lingkungan. Universitas Terbuka.
Gibson, J. J. (1979). The ecological approach to visual perception. Houghton Mifflin.
Helmi, A. F. (2019). Beberapa teori psikologi lingkungan. Universitas Gadjah Mada.
 Lewin, K. (1951). Field theory in social science. Harper & Row.
 Skinner, B. F. (1953). Science and human behavior. Macmillan.




UJIAN TENGAH SEMESTER PSIKOLOGI LINGKUNGAN

 

ESAI 11:  UJIAN TENGAH SEMESTER 25 MEI 2026  
Nama MK            : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Kelas                    : Karyawan (online)

Titik Muti’ah       (243010440004)                                       

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

  

Permasalahan pengelolaan sampah saat ini menjadi isu lingkungan yang sangat serius. Krisis sampah terjadi karena volume sampah harian Kota Yogyakarta (Ruang Kota, 2025) jauh melebihi kapasitas pengolahan yang tersedia. Sampah rumah tangga, pasar, dan kawasan wisata terus meningkat, akibatnya, banyak depo sampah di Kota Jogja mengalami penumpukan (RBTV Jogja. (2025). Fenomena perilaku masyarakat yang masih dominan menggunakan pola konsumsi tinggi, penggunaan plastik sekali pakai, dan ketergantungan pada sistem “angkut-buang”.  Penelitian menemukan bahwa lemahnya kebiasaan pro-lingkungan (Rasyif, 2024) dipengaruhi oleh rendahnya internalisasi norma lingkungan, kurangnya motivasi personal, lemahnya pengaruh sosial positif, minimnya fasilitas pendukung, serta rendahnya kebiasaan pemilahan sampah sejak rumah tangga.

Selain itu, studi tentang perilaku pemilahan sampah menunjukkan bahwa masyarakat sering mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi perilaku aktual masih rendah akibat lemahnya habit formation dan kurangnya reinforcement sosial (Concari, dkk., 2023). Kondisi ini memperlihatkan bahwa perilaku masyarakat dalam mengelola sampah masih belum sepenuhnya berkelanjutan dan bertanggung jawab (Aqmarina, 2023). Dalam psikologi lingkungan, kondisi tersebut mencerminkan rendahnya environmental responsibility behavior dan lemahnya kebiasaan pro-lingkungan.

Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan 3R (Helmi, dkk., 2018; Ashbar, dkk., 2025; Leslie. dkk., 2021; Rahmah, dkk., 2024; Wilson, dkk., 2025) paling efektif jika dimulai dari Reduce, kemudian Reuse, dan terakhir Recycle. Hal ini karena pengurangan sampah dari sumber lebih berdampak dibanding hanya mendaur ulang sampah yang sudah terlanjur diproduksi.

Reduce merupakan prioritas tertinggi dalam hierarki 3R berfokus pada pencegahan munculnya sampah sejak awal. Perilaku konsumtif mahasiswa, wisatawan, penggunaan plastik sekali pakai, serta budaya “take-away” makanan meningkatkan volume sampah harian. Banyak masyarakat masih bergantung pada sistem “angkut-buang” tanpa mengurangi produksi sampah rumah tangga. Solusi Perilaku Reduce diantaranya a) Membentuk kebiasaan konsumsi sadar lingkungan bisa dengan membawa tumbler, menggunakan tas belanja kain, mengurangi pembelian produk sekali pakai, memilih produk isi ulang (refill), dan membeli seperlunya. b) Penguatan norma sosial hijau, dalam psikologi lingkungan, perilaku reduce lebih efektif jika menjadi norma kelompok sosial. Kampus, komunitas mahasiswa, dan RT dapat membangun gerakan bebas plastik, kantin minim sampah, sistem reward eco-behavior. c) Intervensi berbasis perilaku dari penelitian Behavioral interventions for waste reduction (Wilson, et.al, 2025) menunjukkan bahwa pengingat visual, feedback perilaku, komitmen publik, dan pengaruh sosial mampu meningkatkan perilaku pengurangan sampah secara signifikan.

Reuse bertujuan memperpanjang penggunaan barang agar tidak cepat menjadi sampah. Masyarakat sering membuang barang yang sebenarnya masih dapat digunakan, seperti: botol plastik, kardus, pakaian, wadah makanan. Budaya praktis dan konsumtif membuat perilaku reuse rendah. Solusi perilaku reuse diantaranya dengan a) Membentuk budaya penggunaan ulang seperti penggunaan wadah makan permanen, penggunaan ulang botol minum, thrift dan barter barang mahasiswa, dan pemanfaatan ulang kardus dan toples. b) Pengembangan komunitas berbasis reuse seperti bank barang bekas, pasar preloved, pojok reuse, workshop ecobrick dan kerajinan. c) Membentuk identitas lingkungan, penelitian Leslie. dkk. (2021) menunjukkan bahwa reuse meningkat ketika individu merasa dirinya bagian dari komunitas peduli lingkungan. Faktor identitas sosial dan norma kelompok sangat menentukan perilaku pro-lingkungan.

Recycle dilakukan ketika sampah sudah tidak dapat dikurangi maupun digunakan kembali. Di Jogja, pemilahan sampah rumah tangga masih rendah. Sampah organik, plastik, dan residu sering tercampur sehingga menyulitkan proses daur ulang. Solusi perilaku recycle dilakukan dengan a) Pemilahan sampah dari rumah, masyarakat perlu dibiasakan memilah antara organik, anorganik, residu, limbah B3 rumah tangga. b) Penguatan bank sampah (Farrasy, 2025) dan TPS3R efektif meningkatkan perilaku daur ulang karena memberi insentif ekonomi, reinforcement sosial, dan rasa tanggung jawab kolektif. c) Pendidikan lingkungan berbasis praktik dengan pelatihan langsung lebih efektif dibanding hanya sosialisasi. Pembiasaan sehari-hari membantu membentuk habit formation. Penelitian systematic review dari Rahmah, dkk. (2024) menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah perkotaan sangat dipengaruhi partisipasi masyarakat dalam sistem 3R berbasis perilaku.

Permasalahan sampah di Yogyakarta tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi pengolahan sampah. Akar masalah utamanya adalah perilaku masyarakat. Oleh karena itu: Reduce menjadi solusi paling penting karena mencegah munculnya sampah, Reuse memperpanjang usia barang, sedangkan Recycle menjadi pilihan terakhir ketika sampah sudah terbentuk. Penelitian Wilson, dkk. menunjukkan bahwa perubahan perilaku berbasis norma sosial, kebiasaan, kontrol perilaku, dan partisipasi komunitas lebih efektif dibanding pendekatan teknis semata. 

Referensi

Ashbar, A. N., Widiyanto, A. F., & Bangun, S. B. S. (2025). Implementasi sistem pengelolaan sampah berbasis 3R di TPS Nitikan, Kota Yogyakarta. Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat. https://doi.org/10.69883/jlkm.v4i.3


Aqmarina, N. (2023). Faktor yang menentukan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di Kecamatan Sarolangun (Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada).


Concari, A., Kok, G., Martens, P., & Brink, N. (2023). Investigating the role of goals and motivation on waste separation behavior through the lens of the theory of reasoned goal pursuit. Environmental Management, 72(5), 1019–1031. https://doi.org/10.1007/s00267-023-01820-1


Farrasy, A. N. D. (2025). Kajian pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program bank sampah dan relevansinya dengan penerapan ekonomi sirkular di Kota Yogyakarta (Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada).


Helmi, H., Nengsih, Y. K., & Suganda, V. A. (2018). Peningkatan kepedulian lingkungan melalui pembinaan penerapan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle). JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 5(1), 63–74. https://doi.org/10.21831/jppm.v5i1.16861


Leslie, C. M., Strand, A. I., Ross, E. A., Ramos, G. T., Bridge, E. S., Chilson, P. B., & Anderson, C. E. (2021). Shifting the balance among the “Three Rs of Sustainability”: What motivates reducing and reusing? Sustainability, 13(18), 10093. https://doi.org/10.3390/su131810093


Rahmah, S. P., Koestoer, R. H. L., & Yusuf, R. (2024). Penerapan reduce, reuse, recycle (3R) dan manajemen pengelolaan sampah perkotaan: A systematic literature review. Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan, 5(2), 189–197. https://doi.org/10.25077/jk3l.5.2.189-197.2024


Rasyif, Z (2024) Analysis of Pro-Environmental Behavior using the 5R method (Rethink, Reject, Reduce, Reuse, Recycle) towards Waste Management. (2024). JPK : Jurnal Proteksi Kesehatan, 12(2), 214-223. https://doi.org/10.36929/jpk.v12i2.786


RBTV Jogja. (2025). Depo sampah di Kota Yogyakarta membeludak.


Ruang Kota. (2025). Darurat sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya teratasi.


WALHI Yogyakarta. (2025). WALHI ajukan surat keberatan atas kegagalan Gubernur DIY dalam pengelolaan sampah di TPST Piyungan.


Wilson, B. M., Delmas, M. A., & Rajagopal, D. (2025). Behavioral interventions for waste reduction: A systematic review of experimental studies. Frontiers in Psychology, 16. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1561467


ESSAY 11 - UTS Psikologi Lingkungan

 Peran Perilaku 3R dalam Mengendalikan Produksi Sampah di Lingkungan Sekitar Kita 

Wulan Rahmawati

24310410236

Psikologi Lingkungan - B

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Tugas Essay UTS

Kita tahu pengelolaan sampah seharusnya tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan atau fasilitas pengolahan di lingkungan rumah kita seperti bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA). Pada awalnya kita juga tahu masalah sampah berawal dari kebiasaan kita dalam menggunakan, membeli, dan membuang barang. Banyak dari masyarakat di sekitar kita yang dalam kehidupan sehari-hari banyak menggunakan barang sekali pakai contohnya botol minum sekali pakai, kemudian plastik belanja dari minimarket yang sekali pakai karena dianggap praktis dan ekonomis. Justru karena perilaku seperti akibatnya sampah akan terus bertambah dan pastinya menimbulkan beban baru bagi sistem pengelolaan lingkungan kita. Sehingga kita tahu kondisi ini menunjukkan kalau masalah sampah tidak hanya berkaitan dengan proses membuangnya tapi juga dengan perilaku konsumsi manusia itu sendiri sejak awalnya.

Hierarki pengelolaan sampah perlu diterapkan yaitu 3R reduce, reuse, dan recycle untuk mengurangi dampak sampah yang diakibatkan oleh perilaku masyarakat kita. Berikut merupakan bagan 3R reduce, reuse, dan recycle.

Keterangan pada bagan:


mulai dari reduce    reuse   recycle

-        - Reduce merupakan prioritas utama karena mencegah sampah terbentuk dari awal.

-        - Reuse bisa kita lakukan dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai.

-       -  Recycle langkah terakhir untuk mengolah sampah yang sudah terlanjur terbentuk.

Pada bagan 3R yang sudah saya sebutkan diatas, semua proses penting dimulai dari reduce tindakan paling awal, kemudian reuse dan yang selanjutnya ada recycle. Proses daur ulang membantu mengurangi beban sampah akhir, tetapi ini juga tidak menyelesaikan masalah jika konsumsi sampah kita terus meningkat. Sehingga kita perlu proses 3R dalam satu rangkaian yang utuh agar lebih efektif.

Seperti yang kita tahu di TPST Randu Alas Sleman dimana warga turut serta aktif dalam proses reduce, reuse dan recycle. Warga bersama-sama berusaha mengurangi sampah dari rumah sebelum memilah atau mendaur ulang. Hal ini sejalan dengan penelitian di Malaysia yang juga menunjukkan pola yang sama, dimana pendekatan 3R bisa efektif jika didukung kebiasaan masyarakat dan sistem yang memudahkan mereka. Sehingga keberhasilan di lapangan tidak cukup hanya dengan imbauan saja. Masyarakat kita perlu dibuat merasa bahwa perubahan kecil itu berguna, mudah dilakukan, dan didukung oleh lingkungan sekitar.

Solusi yang paling realistis menurut saya yang bisa dilakukan dalam pengelolaan sampah ini yaitu menggabungkan antara nilai edukasi, fasilitas yang bsa diberikan dan dorongan sosial. Edukasi penting untuk masyarakat kita karena sebetulnya bagian yang paling susah itu justru ada pada reduce. Banyak dari kita tahu bahwa membawa botol minum sendiri atau tumbler, kemudian memakai tas belanja yang bisa digunakan berulang kali itu salah satu cara mengurangi sampah. Tapi pada praktiknya kebiasaan itu sering kalah oleh rasa mudah, cepat dan murah. Jadi menurut saya edukasi saja tidak cukup harus ditambah fasilitas yang bisa diberikan contohnya tempat pemilahan sampah yang jelas seperti yang ada di TPA Randu Alas. Selain itu juga perlu dukungan atau dorongan sosial seperti adanya normal sosial yang bisa diterapkan di lingkungan rumah.

Kita bisa mulai memberi contoh atau ikut mencontoh tetangga kita yang sudah melakukan kebiasaan baik dalam pengolahan sampah, contohnya kita bisa mulai memilah sampah rumah tangga sendiri. Sehingga dengan adanya edukasi kepada masyarakat kita, kemudian ditambah adanya fasilitas yang memadai dan dorongan sosial yang ada di lingkungan kita, maka perilaku 3R akan bisa diterapkan dengan baik dan menjadi kebiasaan baik bersama.

Sehingga pada akhirnya hierarki pengelolaan sampah bukan hanya soal teknisnya saja, tetapi juga soal perubahan cara berpikir pada diri sendiri ataupun masyarakat kita. Jika kita mulai sadar bahwa setiap barang yang dibeli punya konsekuensi sampah maka sudah pasti perilaku sehari-hari akan lebih hati-hati. Menurut saya inilah inti dari pengelolaan sampah yang berkelanjutan yaitu tidak hanya membuang sampah dengan benar tetapi juga bagaimana cara kita diawal bijak dalam menggunakan, membeli, dan membuang barang sehingga bisa mencegah sampah semakin meningkat.

Daftar Pustaka

Ali, R., Ishak, R., & Che Omar, R. (2021). Waste management practices and 3R behavior among urban households in Malaysia. Environmental Science & Policy.

Bahraini, N. (2019). Hierarki pengelolaan sampah menurut Waste4Change. Diakses dari laman resmi Waste4Change.

TPST Randu Alas. Praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Sleman, Yogyakarta. Data lapangan program pengelolaan sampah terpadu.