Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Minggu, 14 Juni 2026

ESAI 5: EKSPERIMEN ANORGANIK (MEMBUAT PAPER BAG, GANTUNGAN KUNCI DAN PIRING CANTIK)

EKSPERIMEN ANORGANIK (MEMBUAT PAPER BAG, GANTUNGAN KUNCI DAN PIRING CANTIK)

Reni Prabandari
24310410221
Kelas Psikologi Lingkungan-B
Tugas Esai 5 (Eksperimen Anorganik)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


    Sampah merupakan salah satu masalah lingkungan yang terus meningkat seiring bertambahnya penduduk dan aktivitas manusia. Salah satu jenis sampah yang sulit terurai adalah sampah anorganik, seperti plastik, kaleng, botol kaca, kain perca dan sebagianya. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah anorganik dapat mencemari tanah, air dan udara. Oleh karena itu, diperlukan upaya kreatif untuk mengurangi jumlah sampah tersebut, salah satunya melalui eksperimen mengubah sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.

    Kebetulan Saya tidak bisa mengikuti kegiatan eksperimen anorganik di rumah Dosen yang dilaksanakan tempo hari. Oleh karena itu, Saya kemudian melakukan eksperimen sendiri di rumah dibantu oleh keluarga.

       Saya melakukan 3 (tiga) eksperimen mengubah sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat dan punya nilai jual. Eksperimen - eksperimen tersebut adalah:

1. Membuat Paper Bag

Di rumah Saya kebetulan ada banyak bungkus detergen bekas yang bisa diolah menjadi paper bag. Bungkus detergen bekas merupakan salah satu jenis sampah anorganik yang sering ditemukan di rumah tangga. Jika dibuang begitu saja, sampah ini dapat menumpuk dan mencemari lingkungan karena sulit terurai secara alami. Oleh karena itu, diperlukan upaya kreatif untuk memanfaatkan kembali bungkus detergen bekas menjadi barang yang berguna. Salah satu caranya adalah dengan mengubahnya menjadi paper bag yang unik.

Alat dan bahan yang diperlukan adalah: bungkus detergen yang sudah dicuci bersih, gunting, penggaris, lem, pelubang kertas.

Langkah-langkah pembuatannya adalah: bersihkan bungkus detergen dan keringkan hingga benar-benar bersih, gunting bagian atas dan bawah kemasan sesuai kebutuhan, lipat kemasan hingga membentuk badan tas sesuai ukuran yang diinginkan, rekatkan sisi-sisi kemasan menggunakan lem agar membentuk kantong yang kuat, lipat bagian bawah tas dan rekatkan dengan baik untuk membuat alas yang kokoh, buat dua lubang pada bagian atas tas, pasang pegangan tas dengan kuat.

Paper bag yang dibuat dengan bungkus detergen bekas dapat digunakan untuk membawa barang yang ringan. Selain mengurangi sampah plastik, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kreativitas dan memberikan nilai tambah pada barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

        


2. Membuat Gantungan Kunci

Tali bekas yang sudah tidak terpakai sering kali dibuang begitu saja, padahal masih dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan. Saya mengolah tali bekas menjadi gantungan kunci yang punya nilai guna dan estetika dalam eksperimen kali ini.

Alat dan bahan yang diperlukan adalah: tali bekas yang masih layak digunakan, gunting, ring gantungan kunci, lem, hiasan manik-manik.

Prosedur pembuatan: tali bekas dibersihkan dan dipilih yang masih kuat serta tidak mudah putus. Selanjutnya, tali dipotong sesuai panjang yang diinginkan. Tali kemudian dibuat simpul agar membentuk hiasan yang menarik. Setelah itu, ujung tali dirapikan dan dipasang pada ring gantungan kunci dan diberikan hiasan manik.

Tali bekas dapat diubah menjadi gantungan kunci yang menarik dan fungsional, Selain mengurangi limbah, kegiatan ini juga melatih keterampilan tangan, kreativitas dan jiwa kewirausahaan karena gantungan kunci yang dibuat dapat memiliki nilai jual.

    


3. Membuat Piring Cantik

Kain perca merupakan sisa potongan kain dari proses menjahit yang sering kali tidak dimanfaatkan dan berakhir menjadi limbah. Padahal, kain perca masih dapat diolah menjadi berbagai kerajinan yang menarik dan bernilai guna. Salah satunya adalah membuat piring cantik sebagai hiasan. Dalam eksperimen ini, kain perca diolah menjadi piring cantik yang memiliki nilai estetika serta membantu mengurangi limbah tekstil.

Alat dan bahan yang diperlukan adalah: kain perca, lem, gunting, piring, kuas. Prosedur pembuatannya adalah: pertama, kain perca dipotong menjadi bagian-bagian kecil sesuai kebutuhan. Selanjutnya, permukaan luar piring diolesi lem secara merata. Potongan kain perca kemudian ditempelkan hingga menutupi seluruh permukaan piring. Setelah semua bagian tertutup, tambahkan lapisan lem di atas kain agar lebih kuat. Biarkan hingga kering sempurna dan rapikan.

Eksperimen membuat piring cantik dan kain perca berhasil menghasilkan kerajinan yang menarik dan bermanfaat.




    Eksperimen pengolahan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat menunjukkan bahwa limbah yang sering dianggap tidak berguna masih dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang dan kreativitas. Dengan mengubah sampah anorganik, seperti bungkus detergen, tali bekas dan kain perca menjadi produk yang memiliki nilai guna, jumlah sampah yang mencemari lingkungan dapat dikurangi.

    Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, melatih kreativitas serta membuka peluang untuk menghasilkan barang yang bernilai ekonomi. Oleh karena itu, pemanfaatan sampah anorganik menjadi barang bermanfaat perlu terus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

























Jumat, 12 Juni 2026

ESSAY PRESTASI 3 (Sambutan Perwakilan Komite dan Wali Murid Angkatan XV Mispa Pandanaran Yogyakarta dan Panitia Farewell Intern Kelas)

 

PERWAKILAN KOMITE DAN WALI MURID DALAM ACARA PELEPASAN DAN DOA BERSAMA PESERTA DIDIK KELAS 6 ANGKATAN XV MI SUNAN PANDANARAN YOGYAKARTA

DAN PANITIA FAREWELL INTERN KELAS




KUS WITA WARDANI

25310430002

Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)

Tugas: Essai Prestasi 3

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Bulan/ tahun terbit: Juni/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45



PELAKSANAAN KEGIATAN

1.  PERWAKILAN KOMITE DAN WALI MURID DALAM ACARA PELEPASAN DAN DOA BERSAMA PESERTA DIDIK KELAS 6 ANGKATAN XV MI SUNAN PANDANARAN TAHUN AJARAN 2025/ 2026

Hari/ Tanggal         : Sabtu/ 6 Juni 2026

Tempat                  : Hall Al Jauharah Kompleks 3 Mispa Pandanaran Yogyakarta

Pukul                     : 06.45 – 11.15 wib

Tujuan kegiatan      :

   Acara kelulusan merupakan acara yang sangat penting bagi para siswa dan orangtua wali murid dan juga bagi madrasah/ sekolah. Dimana acara ini merupakan acara yang merupakan salah satu bentuk selebrasi atau perayaan dari usaha selama menempuh pendidikan tingkat dasar selama 6 tahun. Acara kelulusan kali ini dengan judul Pelepasan dan Doa Bersama Peserta Didik Kelas 6 Angkatan XV Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran (MISPA) Yogyakarta diselenggarakan dengan kesan yang jauh dari kata mewah, tetapi sangat khitmat dan juga tidak meninggalkan esensi dari acara kelulusan sekolah, yaitu doa bersama untuk para siswa agar ilmu yang telah didapatkan menjadi berkah dan bermanfaat, bentuk apresiasi atas kerja keras dalam menimba ilmu, dan penyerahan kembali secara simbolis dari sekolah/ madrasah kepada orang tua siswa. Acara ini dihadiri oleh Dewan Pembina/Pangurus Madrasah, Dzhuhriyah pendiri PP Sunan Pandanaran, pimpinan madrasah, pengawas madrasah Kementrian Agama Kabupaten Sleman, para guru dan staff MISPA Pandanaran, tamu undangan, para wali murid dan siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Sunan Pandanaran Yogyakarta. Momen ini merupakan kombinasi kesedihan dan kebahagiaan (khususnya bagi para siswa dan orangtua wali murid), perasaan bahagia dimana para siswa telah berhasil menyelesaikan satu tahapan lagi dalam jenjang pendidikan mereka dengan hasil yang sangat luar biasa, dan juga terselip perasaan sedih dimana para siswa harus berpisah dari sekolah/ madrasah yang telah membimbing mereka selama kurang lebih enam (6) tahun ini untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

    Pada kesempatan kali ini, saya diberi tanggung jawab untuk memberikan sambutan perwakilan wali murid sekaligus sebagai perwakilan komite pada angkatan XV ini. Ditunjuk untuk mengisi sambutan dan menjadi representasi dari wali murid sekaligus team komite sekolah membuat merasa sangat terhormat dan bahagia tetapi juga sekaligus merupakan tantangan bagi saya karena berbicara di depan umum dalam event formal dan besar seperti ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan, selain dibutuhkan mental yang kuat juga dibutuhkan persiapan materi yang cukup. Walaupun banyak kendala intern yang saya rasakan, tetapi saya tetap menerimanya amanah dan tanggung jawab ini, selain untuk membantu berbagai pihak yang terlibat juga sekaligus menjawab tantangan dari dalam diri sendiri untuk dapat melakukan amanah dan tanggung jawab itu dengan sebaik-baiknya.

 

     Link YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=tFnqiZF907M&t=8636s

Ket: Pembacaan sambutan wali murid angkatan XV MISPA Yogyakarta  

                                    
Ket: Foto bersama Bp. Dr. KH. Mu'tashim Billah beserta kelas 6  pimpinan dan pengurus dan siswa- siswi MISPA YK                                     

2.       PANITIA FAREWELL INTERN KELAS

Hari/ Tanggal      : Minggu/ 7 Juni 2026

Tempat                : Rumah salah satu wali murid yang bertempat di Mrisen, Yogya 

Pukul                   : 14.00 – 16.00 wib

Tujuan Kegiatan  :

    Acara perpisahan (farewell) intern kelas ini merupakan wujud syukur atas kelancaran proses belajar mengajar anak-anak hingga sampai ke penghujung masa sekolah dan wujud apresiasi atas kelulusan dan kebersamaan selama enam tahun, selain itu merupakan moment silaturahmi terakhir anak-anak sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan sekolah masing-masing. Diharapan acara yang diselenggarakan ini menjadi momen manis dan indah yang dapat dikenang dalam hidup mereka, baik bagi anak-anak maupun para orang tua wali murid.

    Dalam moment ini, saya terlibat dalam penyusunan konsep acara, dekorasi, dan teknis lainnya dibantu oleh team komite lainnya. Kendala cukup dirasakan oleh kami (team komite), khusunya dalam pengerjaan teknis acara dan pemasangan dekorasi, karena anggota komite intern kelas ini semuanya adalah ibu-ibu yang secara waktu dan tenaga sangat terbatas. Tetapi dengan semangat yang tak kenal lelah, dedikasi yang tinggi, serta komitmen yang kuat persiapan dapat dilakukan dengan hasil yang luar biasa dalam waktu yang cukup singkat.  Garis besarnya acara berjalan sangat lancar dan khitmat, acara juga dihadiri oleh wali kelas, para guru undangan, para wali murid, dan anak-anak/ siswa. Kami berharap acara yang sudah kami lakukan/ selenggarakan dapat bermanfaat untuk berbagai pihak dan tali silaturahmi yang sudah terjalin tidak terputus begitu saja dapat terus berkelanjutan/ continue.


                           

Ket: Diskusi mengenai konsep acara                                        Ket: Saya bertugas untuk memberikan sambutan                                                                                                         sebagai perwakilan komite 

 

Ket: Desain Dekorasi Farewell sebelum dan sesudah            Ket: Foto bersama wali kelas, guru undangan dan para
        beserta Team Inti Komite                                                         siswa pada acara farewell intern kelas

                                                                                                               

Kamis, 11 Juni 2026

Essat 1 - Meringkas Jurnal Pengelolaan Sampah

 TUGAS MERINGKAS JURNAL SAMPAH

Nama : Ferdy Antoro 

NIM : 24310410240


                          

Masalah sampah adalah salah satu isu lingkungan yang selalu meningkat diberbagai 

negara. Upaya penting pengelolaan sampah adalah perilaku memilah sampah dari seumbernya. 

Jurnal (Marbun et al., 2024) yang berjudul "menggali perspektif lintas budaya: analisis 

perbandingan perilaku memilah sampah di indonesia dan jerman" membahas tentang budaya yang 

memengaruhi perilaku memilah sampah di masyarakat indonesia dan jerman. Permasalahan 

penelitian yang dikaji yaitu sedikit sekali masyrakat di indonesia yang memilah sampah dibanding 

masyarakat jerman. Oleh karena itu, perilaku memilah sampah adalah variabel dependen dalam 

penelitian ini.

Penelitian ini memakai metode kajian liberatur dengan pendekatan psikologi lintas budaya. 

Analisa jurnal ini dijalankan berdasarkan tiga dimensi budaya Hofstade, yaitu menghindari 

ketidakpastian, jarak kekuasaan, individualisme-kolektivisme. Tiga dimensi ini digunakan agar 

dapat menjelaskan apa saja perbedaan perilaku masyarakat indonesia dan jerman dalam memilah 

sampah dan mengelolanya.

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa indonesia mempunyai budaya jarak kekuasaan 

yang cukup tinggi akibatnya masyarakat lebih membutuhkan teladan dari pimpinan, tokoh 

masyarakat, atau lembaga pemerintahan dalam menerapkan perilaku pro-lingkungan. Tetapi 

masyrakay jerman justru sebaliknya mereka memiliki jarak kekuasaan yang lebih kecil sehingga


angka partisipasi dan inisatif individu dalam memilah dan mengelola sampah lebih besar. Di 

Jerman juga mempunyai tingkat kepatuhan terahadap peraturan juga lebih tinggi. Pada dimenensi 

individualisme- kolektivisme, indonesia juga merupakan negara yang lebih kolektivis. Oleh karena 

itu, perilaku memilah sampah lebih ringan jika dikerjakan bersama-sama melalui kegiatan 

kelompok, seperti program bank sampah dan kegiatan lingkungan lainya dimasyarakat. Namun, 

dijerman tingkat individualismenya cukup tinggi sehingga lebih menekankan tanggungjawab 

pribadi pada pengelolaan dan pemilahan sampah. Oleh sebab itu, mereka lebih mandiri untuk 

mengerjakan aktivitas tersebut sehingga menjadi kebiasaan seharu-hari mereka. Pada dimensi 

menghindari ketidak pastian, Jerman mempunyai aturan yang jelas, sistem pengawasan yang ketat, 

serta sanksi yang tegas bagi para pelanggar dalam pengelolaan sampah. Dengan kondisi seperti ini 

sangat membantu dalam membentuk perilaku disiplin dalam memilah sampah. Namun, berbeda 

hal dengan indonesia. Masih banyak hambatan, contohnya minimnya fasilitas, kesadaran 

masyarakat, dan tidak tegas untuk penerapan peraturan pengelolaan sampah. Dengan berdasarkan 

hasil kajian ini. Dapat dijelaskan bahwa perilaku memilah sampah bukan hanya dipengaruhi oleh 

pengetahuan individu, namun ada pengaruh lainya seperti budaya, kebijakan, dan bagaiman 

lingkungan sosialnya. Menurut sudut pandang psikologi, perilaku memilah dan mengelola sampah 

adalah suatu bentuk perilaku pro-lingkungan yang bisa dibentuk melalui kebiasaan, penguatan, 

dan keteladanan dilngkungan yang bersumber dari lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, peningkatan 

edukasi pro-lingkungan, penerapan aturan yang tegas, serta menyediakan fasitlitas yang memadai 

agar lebih meningkatkan perilaku memilah sampah di indonesia tercinta ini.

Daftar Pustaka :

Marbun, Y. R., Akbar, T., & Yunanto, R. (2024). Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan 

Budaya ( Journal of Social and Cultural Anthropology ) Menggali Perspektif Lintas Budaya : 

Analisis Perbandingan Perilaku Memilah Sampah di Indonesia dan Jerman Exploring Cross-

Cultural Perspectives : A Comparative Analysis of Waste Sorting Behavior in Indonesia and 

Germany. 9(2), 64–80.

ESSAY V: EKSPERIMEN ANORGANIK di RUMAH DOSEN

 


EKSPERIMEN ANORGANIK DI RUMAH DOSEN

TERAMPIL MELAKUKAN UPCYCLING DENGAN SAMPAH ANORGANIK



KUS WITA WARDANI

25310430002

Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)

Tugas: Essai V Eksperimen anorganik di rumah dosen

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Bulan/ tahun terbit: Juni/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA


HARI/TANGGAL PELAKSANAAN KEGIATAN        : Minggu/ 31 Mei 2026

TEMPAT PELAKSANAAN                                           : Kediaman Ibu Arundati Shinta M.A.

LOKASI                                                                          : Jalan Nglanjaran, Candi Winangun,  

                                                                                           Sleman, Yogyakarta 55581


TUJUAN KEGIATAN:

Kegiatan eksperimen ini bertujuan agar kita bisa secara nyata belajar untuk lebih terampil melakukan upcyling dengan sampah anorganik (yaitu jenis sampah yang tidak berasal dari organisme hidup). Kegiatan ini adalah salah satu cara memperlakukan sampah anorganik dengan mengubah sampah/ limbah anorganik ke dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat dan juga bernilai jual (bernilai ekonomi).

PENDAHULUAN

Pada kegiatan eksperimen kali ini ada dua hal yang menjadi point pembahasan utama, yaitu sampah anorganik dan kegiatan upcyling. Sampai saat ini parmasalahan dalam penanganan sampah anorganik masih jauh dari harapan, terdapat banyak sekali kendala/ tantangan yang dihadapi antara lain sampah anorganik ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terurai secara alami, dan bahkan juga ada yang tidak dapat terurai. Selain kondisinya yang susah terurai, tantangan yang lain adalah penanganan limbah anorganik yang masih belum sepenuhnya terintegrasi dalam rutinitas harian. Peranan pemulung, pengepul dan juga keterlibatan berbagai industri untuk mengolah sampah tersebut tetap tidak dapat mengatasi permasalahan yang ada.

Upcyling atau juga yang kita sebut dengan daur guna ulang, adalah metode/ cara untuk mengubah sampah anorganik menjadi produk baru yang bernilai guna/ yang lebih fungsional. Kegiatan ini selain diharapkan dapat mengurangi sampah anorganik yang menumpuk di tempat pembuangan akhir, kegiatan ini juga dapat melatih kreativitas dan menghasilkan barang yang memiliki nilai jual.

 

PELAKSANAAN KEGIATAN

Dalam kegiatan kali ini, kami belajar membuat gantungan kunci, menghias piring, menggambar papper bag dari kertas bekas/ kalender. Dalam eksperimen kali ini partisipan tidak sebanyak eksperimen pertama, hanya beberapa mahasiwa yang hadir dan dua orang dari ibu-ibu kelompok pecinta lingkungan dalam kegiatan kali ini. Kelompok dibagi menjadi dua, yaitu kelompok membuat gantungan kunci dan kelompok lainnya bertugas menghias piring dan menggambar papper bag. Langkah-langkah dalam kegiatan menghias piring adalah menyiapkan bahan dan peralatan yang diperlukan (seperti gunting piring, lem dan kain perca/ kain motif yang sudah tidak terpakai), selanjutnya memberi lem pada lapisan luar piring dan melekatkan pada kain perca yang sudah disediakan, pastikan lem rata agar kain bisa menempel di permukaan piring dengan sempurna. Langkah selanjutnya adalah memotong kain sesuai pola piring, kemudian piring dijemur di bawah terik matahari untuk mempercepat proses pengeringan. Piring yang telah berhasil dihias, tampak lebih menarik dan bernilai seni.

Selain menghias piring, kegiatan lainnya adalah menggambar/ menghias tas papper bag dari bahan kertas bekas/ kalender bekas menggunakan cat akrilik. Pada kegiatan kali ini, terasa sangat menyenangkan dan sekaligus sebagai release stress, kami dapat menggambar sesuai kreasi dan imajenasi kami masing-masing, kami juga boleh memilih dan memadukan warna sesuai keinginan.

Kelompok lainnya, adalah kelompok yang bereksperimen untuk membuat gantungan kunci dari bahan bekas (tali masker), dan tali-tali sisa. Gantungan kunci yang kami buat ada 2 bentuk, langkah-langkah pembuatan gantungan kunci adalah sebagai berikut: tali tersebut dianyam dengan pola anyaman tertentu, diberi pengait kemudian diberi lem, selanjutnya masuk ke dalam proses finishing (proses penyisiran, proses spray, dan proses cutting). Dalam kesempatan kali ini, kami membawa hasil eksperimen berupa piring yang telah dihias, dan dua buah gantungan kunci. 


 

    Ket: pemaparan materi                Ket: menggambar/ melukis papper bag               Ket: menjemur piring yang telah
              oleh ibu Shinta                           berbahan kertas bekas/ kalender bekas                  dilem 
            

       
         Ket: diskusi seputar gantungan kunci                          Ket: foto bersama ibu Shinta, mahasiswa dan partisipan 
             berbahan sampah anorganik                                      eksperimen anorganik beserta hasil eksperimen

KESIMPULAN

Upcyling sampah anorganik adalah metode yang diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah di tempat pembuangan akhir sekaligus merupakan salah satu bentuk promosi kegiatan inovatif yang ramah lingkungan. Kegiatan ini memberikan pandangan kepada saya, bahwa dengan sedikit ide dan kreativitas kita dapat merubah sampah anorganik yang terlihat sia-sia menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bernilai seni dan bernilai ekonomi.

Rabu, 10 Juni 2026

ESSAY VI: EKSPERIMEN TENTANG SAMPAH

 

MEMPRODUKSI SAMPAH SECARA BERTANGGUNG JAWAB

DAN MENGATASI RASA MALAS




KUS WITA WARDANI

25310430002

Psikologi Lingkungan/ Kelas Karyawan (B)

Tugas: Essai VI Eksperimen tentang sampah

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Bulan/ tahun terbit: Juni/ 2026

 

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA


HARI/TANGGAL PELAKSANAAN KEGIATAN        : Minggu/ 17 Mei 2026
TEMPAT PELAKSANAAN                                           : Kediaman Ibu Arundati Shinta M.A.
LOKASI                                                                          : Jalan Nglanjaran, Candi Winangun,  
                                                                                           Sleman, Yogyakarta 55581


TUJUAN KEGIATAN:

Kegiatan ini bertujuan agar bisa secara nyata belajar untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang kita produksi dan mengatasi rasa malas untuk berinteraksi terhadap sampah. Selain memperluas pandangan kita tentang bertanggung jawab dan berinteraksi dengan sampah, dalam kegiatan ini kita dapat secara langsung belajar/ praktek membuat kompos, sabun cair, dan Eco Enzym. Kegiatan mengelola sampah ini sangat penting untuk berbagai aspek kehidupan, dalam kehidupan keluarga pengelolaan sampah yang baik akan memberikan manfaat kepada kesehatan seluruh anggta keluarga, menanamkan rasa cinta lingkungan dan disiplin serta kerjasama, dalam karier pengelolaan sampah yang baik dapat menumbuhkan efisiensi dan kepatuhan terhadap peraturan lingkungan, serta di masyarakat pengolahan sampah yang baik dapat mengurangi pencemaran lingkungan sehingga menciptakan lingkungan sekitar yang nyaman dan sehat.

 

PENDAHULUAN 

Tanpa kita sadari, kita (manusia) adalah produsen utama sampah. Terlepas dari bentuk sampah yang dihasilkan manusia, bagi manusia sampah adalah sesuatu yang kotor dan harus kita singkirkan secepatnya. Kurangnya kepedulian tentang sampah dan kurangnya kesadaran kita untuk mengelola sampah yang kita produksi membuat masalah sampah tidak pernah kunjung teratasi.

Kegiatan kali ini tidak hanya dihadiri oleh para mahasiswa psikologi lingkungan, tetapi juga para aktivis lingkungan hidup dan masyarakat umum. Kami mendapatkan pendahuluan/pengantar mengenai pentingnya bertanggung jawab terhadap sampah, dari mulai bagaimana kita meminimalisai hal-hal yang berbau konsumtif yang dapat meningkatkan produksi sampah kita sampai dengan bagaimana kita mengubah organik sampai menjadi sesuatu yang lebih berguna/ bermanfaat bagi lingkungan.Pada kesempatan kali ini, setiap mahasiswa ditugaskan untuk membawa satu buah kue berbungkus plastik dan satu buah kue berbungkus daun pisang. Kami diharapkan membawa makanan seperti yang tercantum dalam tugas. Setelah makanan habis dikomsumsi, sampah plastik (anorganik) dibersihkan dan dipisahkan, ditempatkan pada tempat khusus (jadi satu dengan sampah anorganik lainnya) sedangkan sampah daun pisang (organik) akan diolah untuk dijadikan bahan pembuatan kompos.


PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama, semua berpartisipasi dengan tugasnya masing masing untuk efektivitas waktu. Dalam kesempatan itu saya ikut membantu dalam membuat pupuk kompos, saya membantu untuk memotong sampah daun pisang dari semua peserta dibantu dengan rekan yang lainnya, dimana potongan sampah daun pisang ini akan dijadikan bahan dalam pembuatan kompos organik. Dalam pembuatan kompos organik bahan lain yang diperlukan adalah dedak, dolomit/ kapur tani, POC, potongan daun sirih, bubuk kayu, potongan sampah kebun, tetes tebu, dan EM 4, dimana semua bahan ini akan diaduk rata menjadi satu dan dimasukkan ke dalam tempat/ gentong. Setelah dimasukkan ke dalam wadah/ gentong, campuran tadi diberi topping kompos yang sudah jadi.

Selain membantu dalam pembuatan kompos, saya ikut berpartisipasi dalam pembuatan eco enzyme, disini saya membantu mempersiapkan bahan-bahannya, seperti menimbang gula merah dan memasak gula merah dengan campuran air. Pembuatan eco enzym dengan perbandingan 1: 3: 10, yang terdiri dari 90 gr gula merah, 270 gr kulit buah-buahan, dan 900 gr air matang (450 gr air + 450 gr air). Setelah bahan-bahan dimasukkan ke dalam diregent, kita harus betul-betul memperhatikan posisi dan ujung selang, fermentasi ini minimal 3 bulan baru dapat dipanen hasilnya.

Selain berpartisipasi dalam mempersiapkan bahan pembuatan kompos organik dan membantu dalam pembuatan eco enzym, saya juga berpartisipasi dalam pembuatan sabun eco enzym. Walau dalam kegiatan ketuga ini saya tidak terlalu terlibat hanya membantu mempersiapkan bahan-bahan, menimbang dan memasukan sabun eco enzym ke dalam botol-botol yang telah disediakan. Walaupun tidak terlibat dalam proses pembuatannya, tetapi saya memperhatikan setiap detail cara pembuatannya sekaligus mencermati bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatan sabun eco enzyme tersebut. Dalam pembuatan sabun eco enzyme, bahan-bahan yang digunakan adalah mess (metyl etyl sulfonat), garam industri, garam EDTA, pewarna, dan air.

  
      Ket: memotong daun pisang untuk                       Ket: membantu dalam pembuatan eco enzym                           Ket: pembuatan sabun eco enzym
      
             pembuatan kompos                                                                                                                                                   

KESIMPULAN

Eksperimen yang telah saya lakukan ini mengajarkan kepada saya pentingnya untuk bertindak lebih bijak dan bertanggung jawab dalam melakukan tindakan/kegiatan konsumtif, kerena setiap barang yang kita beli dan konsumsi akan berpengaruh terhadap jumlah/ volume sampah yang kita hasilkan setiap harinya. Selain menumbuhkan kesadaran kita mengenai pola tanggung jawab terhadap sampah, saya juga belajar bagaimana mengurangi rasa malas untuk berinteraksi dengan sampah dengan cara melakukan pemilahan kepada sampah yang kita produksi (sampah organik dan sampah anorganik) sebelum membuang sampah pada tempatnya, selain itu memanfaatkan kembali sampah organik menjadi sesuatu yang dapat bermanfaat bagi lingkungan. 

Untuk bertanggung jawab terhadap produksi sampah yang kita hasilkan dan mengatasi rasa malas dibutuhkan kesadaran untuk mencintai sampah, komitmen yang kuat, konsistensi, dan stimulus untuk melakukan itu semua agar dapat dilakukan secara jangka panjang/ long term. Tetaplah berproses untuk mencintai lingkungan, langkah kecil yang konsisten akan berdampak nyata pada lingkungan.