Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Tuesday, 8 June 2021

STEROTYPE GENDER PADA SIKAP REMAJA PEREMPUAN TERHADAP LAKI-LAKI YANG DITAKSIRNYA

 

Tugas Psikologi Sosial I Semester Genap 2020/2021

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, M.A

Rosita Permatahati NIM 20310410075

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA



            Masa remaja ditandai jelas oleh adanya masa transmisi atau peralihan, karena pada masa ini seorang individu belum dikatakan sebagai dewasa tetapi juga bukan lagi anak-anak.  Masa remaja berada di tengah-tengah antara masa anak-anak dan masa dewasa. Masa remaja masih belum mampu menguasai dengan baik fungsi-fungsi psikisnya maupun kemampuan fisiknya. Pada masa remaja, seorang individu mengalami masa pubertas. Masa pubertas juga dapat diartikan sebagai masa pemasakan seksual. Pada masa ini remaja saling menyukai pada lawan jenisnya. Tidak sedikit remaja yang sedang dalam tahap ini menjalin hubungan dengan individu yang disukainya.

            Stereotype merupakan satu tingkah laku yang seragam dan tidak bebas atau tidak leluasa. Stereotype juga bisa diartikan sebagai persepsi yang tidak bisa diubah mengenai seorang individu atau kelompok. Stereotype gender biasanya mengacu pada perbedaan antara perempuan dan laki-laki, perbedaan tersebut dibentuk dari adat istiadat atau lingkungan serta budaya. Tanpa disadari para orang tua mengajarkan sejak kecil mengenai stereotype gender pada anak-anaknya. Stereotype gender yang ditanamkan pada perempuan menjadikan seorang perempuan tidak memiliki kebebasan seperti laki-laki. Segala sesuatu yang perempuan lakukan, tapi tidak sesuai dengan kodrat perempuannya dianggap menyalahi kodratnya.

             Stereotype gender ternyata mempengaruhi sikap remaja perempuan terhadap laki-laki yang disukainya. Sikap dibagi menjadi tiga aspek, aspek kognisi, aspek afeksi, dan aspek konasi. Dalam mengetahui sikap remaja perempuan terhadap laki-laki saya telah mewawancarai beberapa teman saya. Dari wawancara tersebut di dapatkan hasil sebagai berikut. Pada aspek kognisi (Kognisi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui tentang suatu hal atau suatu pengertahuan) seluruh teman-teman saya akan mencari tahu informasi mengenai laki-laki yang ditaksir, informasi tersebut bisa sekerdar informasi biasa bahkan informasi yang mendetail, alasannya agar mengetahui mengenai laki-laki yang ditaksir. Kemudian pada aspek afeksi (Afeksi merupakan perasaan kasih sayang) seluruh teman-teman saya merasa senang bila membicarakan laki-laki yang ditaksir. Yang terakhir pada aspek konasi (Konasi atau kemauan merupakan suatu usaha yang didasari oleh adanya keinginan) sebagian besar teman saya tidak akan menyatakan rasa sukanya, karena itu menyangkut harga dirinya.

            Stereotype gender ternyata sangat berpengaruh pada kehidupan remaja perempuan. Sebagian besar perempuan beranggapan bahwa perempuan kodratnya menerima lamaran terlebih dahulu bukan menyatakan perasaannya mendahului laki-laki. Perempuan sangat menjaga harga dirinya dihadapan laki-laki yang ditaksirnya. Stereotype gender ternyata sangat mempengaruhi perilaku perempuan saat menyukai laki-laki.  

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Konasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Konasi  diakses pada tanggal 7 Juni 2021.

Hadinoto Siti Rahayu, Monks dan Knoers. (1992). Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai lainnya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Handayani, Verury Verona. (2019). Awas, Tanpa Sadar Orang Tua Ajari Stereotype Sejak Kecil. https://www.halodoc.com/artikel/awas-tanpa-sadar-orangtua-ajari-stereotype-sejak-kecil diakses pada tanggal 6 Juni 2021

Kartono, Kartini. (2002).  Afeksi. Kamus Lengkap Psikologi.  Jakarta : PT Raja Grafindo Pustaka. Hal. 13.

Kartono, Kartini. (2002). Konasi. Kamus Lengkap Psikologi.  Jakarta : PT Raja Grafindo Pustaka. Hal. 101.

Kartono, Kartini. (2002). Stereotype. Kamus Lengkap Psikologi.  Jakarta : PT Raja Grafindo Pustaka. Hal. 485.

PERILAKU AGRESIF DAN CARA MENGATASINYA

Siti nurhaliza (20310410055)

Dosen pengampu: Dr. Arundati Shinta, M. A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

PERILAKU AGRESIF DAN CARA MENGATASINYA

Semua orang tentu mendambakan kehidupan yang aman, tenang dalam menjalani kehidupan. Untuk mencapai kehidupan yang aman, tenang di dunia ini tidaklah mudah perlu ada perjuangan untuk mencapai kehidupan yang aman, tenang dan nyaman. Banyak hal yang menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman dalam hiduppnya. Misalnya dikarenakan perilaku agresif individu yang satu pada individu yang lain.

Perilaku agresif adalah salah satu bentuk ekspresi emosi individu akibat adanya suatu ketidak berhasilan yang dialami. Perilaku ini dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan berupa merusak benda atau melakukan penyerangan kepada orang lain baik secara verbal ataupun non verbal yang dilakukan dengan unsur kesengajaan (2020:38).

Perilaku agresif bisa terjadi pada setiap individu. Oleh karena itu setiap individu harus mengetahui apa penyebab perilaku agresif dan bagaimana mengatasi perilaku tersebut, dan bagaimana cara agar orang lain tidak berperilaku agresif terhadap diri kita?

Perilaku aggresif pada individu terjadi karena ada penyebabnya. Penyebab terjadinya perilaku agresif pada individu banyak diantaranya karena factor internal dan eksternal seperti yang dikatakan oleh Bandura (Alwisol,2006 342) bahwa “factor - factor penyebab perilaku agresif ada 2, yakni factor internal dan eksternal. Perilaku agresif pada individu banyak jenisnya diantaranya seperti menendang dan memukul. Seperti yang dikatakan setiawan (2010: 89) bahwa “tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak pernah berperilaku agresif, seperti memukul, menendang, merusak benda dan barang disekitarnya, tetapi belum tentu dapat dikategorikan anak agresif, apabila tidak memenuhi kriteria tertentu. Adapun cara untuk mengatasi agresif yang terjadi pada individu banyak sekali diantaranya seperti yang dikatakan oleh Setiawan (2010:93-94)sebagai berikut:

  1. Memahami dan menerima pribadi anak

  2. Ciptakan pakem (pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan)

Program pembelajaran yang pleksibel, disesuaikan dengan kekuatan anak, pengelolaan kelas yang memberikan rasa aman, kenyamanan dan meyenangkan.

  1. Melakukan chatharsis

Yaitu menyalurkan perilaku agresif ke aktivitas yang positif dan terhormat, seperti anak yang suka menendang dan memumukul kita arahkan ke kiagatan sepak bola, dan bola volley.

  1. Menghapuskan pemberian imbalan

Menghapuskan pemberian imbalan atau pemuatan negative, yaitu mennghilangkan rangsangan yang tidak menyenangkan. 

  1. Strategi memperagakan/ pelatihan 

Upaya yang dilakukan melalui peragaan atau penampilan dalam pemecahan suatu masalah yang tidak menggunakan perilaku agrasif. Tanggapan yang tidak cocok/bertentangan dengan agresi boleh juga ditanamkan dengan memperagakan atau strategi pelatihan

  1. Menciptakan lingkungan non agresif

Untuk mengurangi perilaku agresif maka kita harus membebaskan lingkungan sekitar dari perilaku-perilaku agresif, menghilangkan rangsangan-rangsangan yang dapat menumbuhkan perilaku agresif 

  1. Mengembangkan sifat empati 

  2. Hukuman, yaitu memberikan hukuman yang bersifat mendidik dan manusiawi


Kesimpulannya perilaku agresif adalah salah satu bentuk ekspresi individu akibat adanya suatu ketidak berhasilan yang di alami. Setiap orang tentu pernah mengalami perilaku agresif. Perilaku agresif ini merugikan diri ssendiri dan orang lain. Untuk bisa terhindar dari perilaku agresif memang tidak mudah tapi kita harus tetap berusaha untuk bisa teerhindar dari perilaku agresif.













DAFTAR PUSTAKA

Yunalia, Endang Mei; Arif Nurma etika . 2020.Analisis perilaku agresif pada  remaja di sekolah menengah pertama (analysis of adolescent aggressive behavior in junior high school). Journal health of studies. Vol 4, nomer 1. Hal 38-45

Alwisol. 2006. Psikologi peribadian. Edisi revisi: UMM

Setiawan, atang. 2010. Penanganan perilaku agresif pada anak. Jassi_anakku. Vol 9 no 1 

Stereotype Gender


Stereotype Gender

Syarat Mengikuti Ujian Akhir Semester

Psikologi Sosial Semester 2

Dosen Pengampu : Dr. Arundhati Shinta, M.A

Nama : Rahayu

NIM : 20310410061

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar baik dalam obrolan biasa maupun dalam forum-forum resmi, pada umumnya perempuan dianggap mempunyai konsep diri yang rendah. Penulis sendiri sangat sering menerima pertanyaan dan pernyataan baik dari mahasiswa yang belajar Studi Gender dalam Islam, maupun dari peserta training yang berasal dari kalangan yang berbeda yang hampir selalu mengatakan bahwa terjadinya ketidakadilan gender seperti marginalisasi dan subordinasi adalah karena perempuan sendiri yang sering tidak percaya diri. Pernyataan yang sering dilontarkan adalah bahwa perempuan meskipun sudah diberi peluang untuk menduduki suatu jabatan tetapi malah menolak dan merasa tidak mampu. Kesalahan ini dianggap sebagai kesalahan perempuan itu sendiri yang tidak punya rasa percaya diri, dari perspektif diatas maka terbentuklah yang di maksud stereotype gender.

Stereotip gender adalah kategori luas yang merefleksikan kesan dan keyakinan tentang apa perilaku yang tepat untuk pria dan wanita. Semua stereotip, entah itu berhubungan dengan gender, etnis, atau kategori lainnya, mengacu pada citra dari anggota kategori tersebut. Jika orang-orang membentuk pendapat tentang segolongan objek atau orang tertentu dan bertindak sesuai dengan pendapat itu, hal ini dinamakan stereotype. Kata “stereotype” digunakan untuk menunjukkan pendapat yang baik atau buruk pada umumnya yang dipunyai oleh seseorang tentang sekelompok orang tertentu.[1]

Terkait dengan stereotype ada penelitian menarik yang dilakukan oleh Robert Roen- thal dan Leonare Jacobson pada tahun 1968 yang meneliti tentang pengaruh ekspektasi guru terhadap prestasi murid. Apakah murid yang diduga cerdas akan lebih berhasil? Penelitian yang dilakukan pada siswa Sekolah Dasar dengan melakukan tes kecerdasan. Nama- nama siswa yang dihipotesiskan akan memperoleh prestasi yang menonjol disampaikan kepada para guru. Nama-nama tersebut sebenarnya diambil secara acak, di mana tingkat kecerdasan mereka tidak terlalu berbeda. Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang diharap- kan cerdas menunjukkan prestasi akademik yang jauh lebih menonjol dibandingkan teman- temannya. Para peneliti mengungkapkan kemungkinan guru lebih memperhatikan siswa tersebut dan memberikan motivasi. Kemungkinan guru juga mengkomunikasikan baik secara verbal maupun nonverbal persepsinya terhadap siswa-siswa tersebut, sehingga mereka merespon positif dengan memperbaiki konsep dirinya.[2]

Saya sempat mewawancarai teman saya yang bernama Diah Ayu Rizqi Wulandari seorang mahasiswi Universitas Negeri Malang prodi Sastra Inggris, mengenai bagaimana sikapnya bila menaksir seorang laik-laki, mulai dari aspek kognisi, afeksi, dan konasi.

Jadi kesimpulan nya, semenjak adanya kesetaraan gender di Indonesia yang dipelopori oleh  RA Kartini, pelabelan terhadap salah satu jenis kelamin yang seringkali bersifat negatif dan pada umumnya menyebabkan terjadinya ketidakadilan. Misalnya, karena perempuan dianggap ramah, lembut, rapi, maka lebih pantas bekerja sebagai sekretaris, guru Taman Kanak-kanak. Padahal disisi lain laki-laki pun bisa menjadi sekretaris tidak hanya perempuan saja. Dan hikmah dibalik adanya kesetaraan gender ini, perempuan bisa ikut andil dalam peran apapun, adanya hak asasi manusia bagi perempuan.  

 

Daftar Pustaka

Ismiati, PENGARUH STEREOTYPE GENDER TERHADAP KONSEP DIRI PEREMPUAN, Jurnal Studi Gender dan Islam serta Perlindungan Anak, Vol. 7 No. 1, 2018, hlm. 13. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/takamul/article/view/2460/pdf diakses pada tanggal 7 Juni 2021

https://id.wikipedia.org/wiki/Stereotip_gender diakses pada tanggal 8 Juni 2021

Pareek, Udai, Perilaku Organisasi, (Jakarta : Pustaka Binaman Pressindo, 1996), hal. 22.[1]

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Cet. ke. 25 (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 52[2]

HUBUNGAN KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN PERILAKU AGRESIF

HUBUNGAN KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN PERILAKU AGRESIF
Essay Persyaratan Ujian Akhir Semester
Psikologi Sosial I
Dosen Pengampu : Dr. Arundhati Shinta, M. A
Oleh:
Destyara Zulfa Ramadhani (20310410054)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
Pendahuluan
Perilaku agresif adalah salah satu bentuk ekspresi emosi individu akibat adanya suatu ketidakberhasilan yang dialami. Perilaku agresif diartikan sebagai tindakan yang dimaksud untuk melukai atau menyakiti orang lain, baik fisik maupun psikis (Berkowitz, 1995; Myers, 2002). 
Perkembangan emosi pada remaja adalah masa kritis yang terjadi pada perkembangan individu. Perkembangan emosi menyebabkan seseorang memiliki keinginan yang tinggi untuk menggali sesuatu yang berada di lingkungan menjadi minat mereka. Hal demikian menyebabkan remaja sulit untuk membedakan hal yang bersifat positif maupun negatif. Akibat yang akan terjadi jika remaja sulit untuk membedakan hal tersebut adalah bisa menjadi orang yang memberontak atau bahkan melakukan perilaku agresif (Lutfiani, Sri & Setyawati, 2018).
Seiring berkembangnya zaman, teknologi pun makin berkembang, kini semakin canggih dalam segala hal terutama pada teknologi komunikasi. Pada era globalisasi saat ini merupakan perkembangan zaman, yaitu mulai tergantikannya permainan tradisional oleh permainan modern. Salah satu permainan era modern saat ini adalah game online. Game online tidak hanya memberikan hiburan akan tetapi memberikan tantangan yang menarik sehingga individu yang bermain game online tidak memperhitungkan waktu demi mencapai kepuasan (Lestari, Rosyidah, &HR, 2018). Penggunaan gadged dapat mengakibatkan kecanduan pada penggunanya. Kecanduan game online merupakan salah satu jenis kecanduan yang disebabkan oleh internet atau yang lebih dikenal dengan internet addictive disorder.
Masalah yang terjadi dalam hal ini, remaja akan gampang terpengaruh bahkan menirukan adegan seperti yang dicontohkan dalam game online. Game online bergenre first person shooter dan real-time strategy memiliki misi yang mengharuskan menyakiti musuh guna memenangkan permainan. Adegan kekerasan tersebut menjadi tontonan dan dijadikan panutan sehingga terjadilah proses belajar dari model yang melakukan kekerasan sehingga akan memunculkan perilaku agresif (Tanjung, 2015). 
Game online yang berunsur kekerasan menyebabkan pikiran mengenai kekerasan lebih mudah untuk diterima karena game bersifat interaktif yang dimana individu berperan aktif dalam memaikan peran dalam game tersebut serta diberikan imbalan yaitu kemenangan atas tindakan kekerasan yang telah dilakukan dalam permainan.  
Perilaku agresif akan menunjukan suatu perbuatan baik di sengaja maupun tidak di sengaja untuk menyerang pihak lain, baik secara fisik maupun verbal. Bentuk perilaku agresif secara fisik misalnya memukul, menendang, mencubit, menampar, menggigit, dan lainnya yang berhubungan dengan fisik. Bentuk perilaku agresif secara verbal yaitu berupa hinaan, omelan, makian, cercaan, ejekan, dan lainnya yang berhubungan dengan aktifitas verbal.
Upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut
Bagi orang tua yaitu harus memberikan kontrol ataupun pengawasan bagi anak-anaknya agar mereka tidak menirukan perilaku kekerasan yang ditayangkan ataupun diajarkan oleh game online , cara memberikan pengawasan pada anak yaitu membatasi waktu untuk bermain game online. Bagi remaja yang kecanduan game online dianjurkan untuk mengubah hobi bermain game online dengan menggantikan hobi baru yang lebih bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Andrita, Amelia., Herlina., Franly. 2019. Hubungan Kecanduan Game Online dengan Perilaku Agresif Siswa di SMA N 2 Ratahan. E-jurnal Keperawatan, Vol. 7, No. 1.
Febrina, C. La. 2014. Pengaruh Intensitas Bermain Game Online Terhadap Agresivitas Siswa. Ilmiah Visi P2 Tk Paudni, Vol. 9, Hal. 28-35.
Tanjung, V. P. 2015. Game Online dan Agresivitas Anak usia SMP di Sidoharjo, Kanal, 4, Hal. 63-80.

Monday, 7 June 2021

Menonton televisi menimbulkan sifat agresif

 

ESSAY SYARAT UNTUK MEMENUHI UJIAN AKHIR SEMESTER 


                            Nama : Wening Rahmawati

                             Nim    : 20310410003

       Dosen pengampu DR.Arundati Shinta,M.A 

                               Fakultas psikologi

                 universitas proklamasi 45 Yogyakarta


    Tontonan televisi menimbulkan sifat Agresif ?.

Pendahuluan

       Perilaku agresif adalah perilaku fisik maupun perilaku verbal yang diniatkan untuk melukai objek yang menjadi sasaran agresi (Myers, 2010: 69). Agresif adalah kemarahan yang meluap-luap dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar (Kartono, 2000: 57). 

      Kemampuan media massa dalam merangkup waktu dan perhatian lebih sebagai sumber informasi dan hiburan sangat mungkin untuk mempengaruhi khalayak, terutama beberapa khalayak yang sifatnya mudah dipengaruhi seperti anak-anak. Salah satu media massa yang era saat ini masih menjadi akses utama dalam mencari informasi dan hiburan adalah televisi yang hampir disetiap rumah, orang-orang menghabiskan cukup banyak waktunya untuk menonton tayangan televisi. Dalam sepanjang sejarah pertelevisian, keprihatinan utama mengenai televisi adalah kemungkinan dampak kekerasan dari tayangan televisi. Studi analisis isi yang pernah dilakukan Steinfeld pada tahun 1973 menunjukan bahwa isi tayangan televisi mengandung unsur kekerasan yang banyak sekali. Serangkaian angka menunjukan bahwa menjelang usia 12 tahun, rata-rata anak telah akan menyaksikan 101.000 episode kekerasan di televisi, termasuk 13.400 kematian. ( Severin,2011).


Pandangan responden tentang dampak kekerasan di media  terhadap perilaku agresif anak

       dan cara mengekang agresi pada anak-anak. Ketika responden ditanya tentang penyebab perilaku agresif anak, 54 persen responden percaya bahwa film kekerasan dan game petualangan menyebabkan perilaku kekerasan pada anak-anak, hal ini juga didukung oleh dengan 64 persen responden berlangganan film aksi sebagai penyebab perilaku kekerasan pada anak-anak. Hal ini juga salah satu penekanan yang diberikan oleh peserta diskusi kelompok terarah. Faktor lain yang ditekankan oleh peserta FGD meliputi: pengaruh pemerintah, pengaruh masyarakat, pengaruh orang tua dan pengaruh kelompok / teman terhadap perilaku anak-anak saat menonton televisi.

         Memang dampak dari tontonan televisi itu sangat memprihatikan didalam kasus ini peranan orangtua sangatlah penting untuk selalu memantau dan mengawasi setiap apa yang ditonton oleh anak. Karena terkadang setiap yang  ditonton akan ditirukan. 

    Sebagai mahasiswa psikologi Cara meminimalisir dampak menonton televisi

1. Jadwalkan waktu menonton anak-anak anda. Misalnya waktu menonton anak diberikan pada jam-jam tertentu saja. 

2. Batasi waktu menonton, misalnya cukup satu atau dua jam saja dalam sehari.

3. Pantau terus apa yang ditonton oleh si anak. Jika yang ditonton adalah kartun kekerasan beritahu anak bahwa tontonan seperti itu tidak boleh untuk anak kecil.

4.ajaklah sesekali anak menonton televisi bareng bersama keluarga.jangan biasakan anak menonton tv sendiri.

Untuk menjawab perilaku agresif merugikan atau tidak ?

perilaku agresif merupakan perilaku yang dapat merugikan atau mencederai orang lain dan memiliki unsur kesengajaan. Contoh perilaku agresif yang sering terjadi adalah pemukulan, berkata kasar, menghina, dan perilaku agresif lainnya baik secara fisik maupun verbal.


                       Daftar pustaka


Arnold, H. (2007). Membincangkan Televisi (Sebuah Pengantar Kepada Studi Televisi). Yogyakarta: Jalasutra. 

Azwar, S. (2017). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Biagi, S. (2010). Pengantar Media Massa. Jakarta: Salemba Humanika. Busching, R., Allen, J., Anderson, C., & A, C. (2015). Violent Media Content and Effects Robert

Krahe, Barbara. 2005. Perilaku Agresif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

https://www.kompasiana.com/icha_nors/5509803a8133117249b1e23e/perilaku-agresif-penyebab-dan-penanganannya#:~:text=Karakteristik%20Perilaku%20Agresif&text=Perilaku%20agresif%20yang%20biasanya%20nampak,dianggap%20pengganggu%20atau%20pembuat%20onar.




Hati-Hati! Tayangan Televisi Bisa Ajarkan Perilaku Agresif! Segera Lakukan Antisipasinya

Hati-Hati! Tayangan Televisi Bisa Ajarkan Perilaku Agresif!

Segera Lakukan Antisipasinya

Essay Persyaratan Ujian Akhir Semester Psikologi Sosial I

(Semester Genap 2020/2021)

Dwi Ratri Octavianita (20310410002)

Fakultas Psikologi Universitas 45 Yogyakarta

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Jaman sekarang ini hampir setiap rumah pasti mempunyai televisi. Biasanya televisi diletakkan di ruang keluarga, namun ada juga yang memang diletakkan di hampir setiap kamar. Kita dapat menikmati beragam tayangan yang disajikan di dalamnya. Tetapi tentunya tayangan tersebut dapat memberikan dampak positif dan negatif. Televisi dapat memberikan dampak negatif apabila sajian beberapa tayangannya mengandung unsur kekerasan.  

Televisi merupakan media yang mampu menyajikan pesan dalam bentuk suara, gerak, pandangan dan warna secara bersamaan, sehingga mampu menstimuli indera pendengaran dan penglihatan. Kelebihan televisi ialah mampu menampilkan hal menarik yang ditangkap oleh indera pendengaran dan penglihatan, mampu menampilkan secara detil suatu peristiwa/kejadian, suatu produk dan pembicara, karena mempengaruhi dua indera sekaligus, maka efek persuasifnya lebih kuat ketimbang media lainnya, jumlah pemirsanya lebih banyak, sehingga ia merupakan media yang paling populer (Wardhani, 2008). 

Menurut Stewart dan Koch (1983), perilaku agresif merupakan perilaku maladaptif, tingkah laku ini merupakan tingkah laku yang bermaksud melukai, menyakiti, atau merugikan orang lain. Sementara menurut Herbert (1978) berpandangan bahwa tingkah laku agresif adalah suatu bentuk tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial, yang dapat menyebabkan luka fisik, psikis pada orang lain atau berupa merusak suatu benda. 

Persoalan mendasar yang berhubungan dengan televisi adalah mengenai tayangan yang tidak sedikit mengandung unsur kekerasan yang memicu munculnya perilaku agresif. Berikut  tayangan-tayangan dalam televisi seperti: berita perkelahian, tawuran, permogokan, film untuk anak-anak, bahkan adegan-adegan komedi. Namun, pembahasan kali ini akan lebih berfokus pada tayangan yang berpotensi mengajarkan perilaku agresif. Hal tersebut penting untuk dibahas karena mengingat perilaku agresif jelas merugikan orang lain. 

Lalu pertanyaan yang harus terjawab dalam pembahasan kali ini adalah apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi persoalan ini? Hal tersebut sangat penting karena mengingat jika permasalahan seperti ini terus dibiarkan maka akan banyak sekali korban tayangan televisi yang akan merugikan orang lain. Mengingat kasus remaja usia 15 tahun yang membunuh bocah berusia 5 tahun di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat yang cukup miris diduga karena terinsipirasi dari film horror (Sari, 2020).

Yang harus kita lakukan adalah dengan mengantisipasi hal ini agar tidak ada lagi kasus-kasus selanjutnya. Berikut beberapa langkah antisipasi perilaku agresif:

  1. Melakukan pendampingan kepada anak dengan memilihkan tayangan yang sesuai dengan usianya. 
  2. Letakkan televisi di ruang keluarga saja, tidak di kamar anak agar anak dapat terkontrol. 
  3. Usahakan untuk tidak makan sambil menonton televisi. 
  4. Memberlakukan batasan waktu untuk menonton televisi kepada seluruh anggota keluarga. 
  5. Memberikan aktivitas fisik kepada anak. 
  6. Jika muncul gangguan pada anak segera untuk konsultasi ke dokter. 






DAFTAR PUSTAKA

Herbert. M. (1978). Conduct Disorder of Childhood and Adolescence. John Wiley and Sons, Ltd: Chichester.

Sari, Haryanti. (2020). Remaja Bunuh Bocah Diduga Terinspirasi Film Horor, Ini Tanggapan KPI. Retrieved on June 6 2021 from https://nasional.kompas.com/read/2020/03/09/11153281/remaja-bunuh-bocah-diduga-terinspirasi-film-horor-ini-tanggapan-kpi?page=all. 

Stewart, A.C., dan Koch, J.B. (1983). Children Development Trough Adolescence. John Wiley & Sons: Canada.

Wardhani, Diah. (2008). Media Relations: Sarana Membangun Reputasi Organisasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.