Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Klinik Psikologi

Monday, 29 April 2019

BANGKIT DARI PUTUS ASA



MELAWAN RASA SAKIT DENGAN BIJAKSANA


Ika Fatmawati
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Yogyakarta, 29 April 2019

Assalamu’alaiykum Kak Ika Fatma.

Saya Meri, salah satu jamaah yang pernah ikut pengajian Minggu pagi di masjid Nurul Ikhsan. Kak saya mau curhat sedikit boleh? Saya anak yatim,anak tunggal yang tinggal dengan ibu, saya sudah bekerja. Saya beberapa minggu lalu operasi usus buntu yang mengikis ovarium,sehingga ovarium sebelah harus diangkat. Atasan saya menyuruh saya cuti sementara untuk istirahat pemulihan pasca operasi, setelah lebaran baru mulai masuk kerja kembali. Sementara ibu saya sendiri tidak peduli dengan saya saat dirawat di rumah sakit hingga pulang ke rumah. Saya sementara tinggal di tempat saudara saya, sampai saat ini ibu saya belum mau menjenguk saya.
Saya merasa sudah patah semangat dan menyerah,tidak kuat lagi dengan cobaan ini.  Saya sudah selalu berdoa ketika seusai solat lima waktu. Mohon sedikit pencerahannya Kak? 
Terimakasih sebelumnya 
 
Wassalamu’alaiykum.

Meri
Sedayu, Yogyakarta

Tuesday, 23 April 2019

Semarak Pemilihan Umum 2019


SEMARAK PEMILIHAN UMUM 2019
Hesmi Nurhidayatun
Psikologi Sosial
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi
Yogyakarta



Pada tanggal 17 april 2019 lalu seluruh masyarakat Indonesia serentak melakukan pemilihan umum di daerah masing-masing. Pemilihan umum berlangsung selama lima tahun sekali maka di harapkan bagi warga Negara yang telah mencukupi umur ikut andil menyumbangkan suara demi kelangsungan masa depan Bangsa Indonesia.

Monday, 22 April 2019

Membandingkan Diri Menyebabkan Iri Hati

Meysella Al Firdha Hanim
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


“Kak, usia saya 19 tahun merasa saya tidak mengenal diri saya dengan baik. Kadang saya cerewet kadang di lain tempat saya pendiam, kadang percaya diri dan kadang saya merasa sangat minder. Saya sedang dekat dengan seorang lelaki, dia sangat menyukai saya begitu pula sebaliknya. Namun, saya sangat minder, karena secara fisik dan pendidikan saya kalah jauh. Saya juga suka membandingkan diri dengan mantannya. Itulah yang membuat saya sedih dan sering menangis, karena membandingkan diri dan kehidupan saya. Padahal saya percaya kalau lelaki yang dengan saya ini sangat menyayangi saya. Tapi diri ini tidak bisa menghilangkan kebiasaan iri hati.”

Saat ini kamu sedang merasa tidak mengenali dirimu dengan baik. Hal itu karena kadang kamu cerewet dan kadang pendiam. Kadang kamu merasa percaya diri dan kadang merasa rendah diri. Merasa sedih bahkan menangis karena iri dan rendah diri jika membandingkan keadaanmu dengan mantannya. Dimana yang secara fisik, pendidikan, gaya bergaul, dan kehidupan menurut kamu kalah. Padahal kamu tahu bahwa lelaki yang dekat dengan kamu sangat menyayangimu dan sebaliknya.

Di usia 19 tahun wajar kalau rasa percaya diri masih belum stabil. Lingkungan akan mempengaruhi sikap dan rasa percaya dirimu. Jadi tidak ada alasan untuk khawatir mengenai hal ini. Membandingkan diri bisa berakibat positif, misal saya ingin berprestasi seperti teman saya, maka saya harus aktif dan lebih rajin belajar. Bisa berakibat negatif juga jika kamu membandingkan diri dengan seseorang, tapi kamu sendiri tidak bisa berbuat apapun untuk menjadi seperti dia. Ini sama sekali tidak perlu. Hasilnya malah kamu akan merasa sedih, rendah diri, kecewa, iri, dan membenci dia yang kamu anggap sainganmu.

Kalau lelaki itu sayang sekali sama kamu dan kamu pun menyayanginya, tidak ada gunanya terus-menerus membandingkan dirimu dengan mantan pacarnya. Kenyataannya dia memilih kamu. Itu sudah membuktikan bahwa kamu dalam hal fisik, kepribadian, pendidikan, atau dalam hal yang lain bisa memikat hatinya. Semua itu membuat dia jatuh cinta dan menyayangimu. Gunakan waktu dan tenaga yang ada untuk menggapai cita-citamu terlebih dahulu. Jadikan hubungan cinta yang sehat dan bahagia dengan si dia, serta kembangkan rasa percaya dirimu dengan menyadari dan menghargai sisi positif yang kamu miliki.

Saya berpesan jadilah dirimu apa adanya dan stop untuk membandingkan diri dengan orang lain, karena itu akan merugikan dirimu sendiri. Semoga bermanfaat.

Sunday, 7 April 2019

KENAKALAN REMAJA


Rr.Sekarlangit Ayuningtyas Rahawarin
18.310.410.1179
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
TUGAS PSIKOLOGI SOCIAL KLINIK  PSIKOLOGI
KENAKALAN REMAJA


Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanakkanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Beberapa ahli mendefinisikan kenakalan remaja ini sebagai berikut:
1.      Kartono, ilmuwan sosiologi Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang"
2.      .Santrock "Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yangtidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."

faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja :
1.      Faktor Internal   
a.       Krisis identitas Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
b.      Kontrol diri yang lemah Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'.
2.      Faktor Eksternal
a.       Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayng Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak

Maka pembinaan moral harus dimulai dari orang tua melalui teladan yang baik berupa hal-hal yang mengarah kepada perbuatan positif, karena apa yang diperoleh dalam rumah tangga remaja akan dibawa ke lingkungan masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa :
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari normanorma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa krisis identitas dan kontrol diri yang lemah. Sedangkan faktor eksternal berupa kurangnya perhatian dari orang tua; minimnya pemahaman tentang keagamaan; pengaruh dari lingkungan sekitar dan pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebaya; dan tempat pendidikan

Referensi
Walgito, Bimo .(1982 ).Kenakalan Anak, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikogi
Jurnal Penelitian & PPM
ISSN: 2442-448X Vol 4, No: 2 Hal:  129 -  389 Juli 2017  di unduh tanggal 1/4/2019
 

ANOREKSIA NERVOSA PADA GADIS REMAJA


Rr.Sekarlangit Ayuningtyas Rahawarin
183104101179
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
TUGAS MATKUL PSIKOLOGI SOCIAL KLINIK PSIKOLOGI
ANOREKSIA NERVOSA PADA GADIS REMAJA


Masa remaja merupakan masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosio emosional (Santrock, 2003). Pada remaja perempuan perubahan fisik terjadisepanjang masa pubertas. Periode ini berlangsung antara usia 11 dan 13 tahun. Komposisi tubuh juga mengalami perubahan, massa otot mengalami penurunan sebesar 14%, sedangkan jaringan lemak dalam tubuh meningkat sebesar 11%  

(Burns, 1993) konsep diri terbagi dalam dua dimensi, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Dimensi internal merupakan penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya, dimensi ini terdiri dari tiga bentuk yaitu diri identitas (self identity), diri pelaku (behavioral self), dan diri penerima/penilai(judging self). Dimensi eksternal merupakan keadaan dimana individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya serta hal-hal lain di luar dirinya.

Anorexia nervosa dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara sengaja dan melalui kontrol yang ketat. Penderita anorexia sadar bahwa mereka merasa lapar namun takut untuk memenuhi kebutuhan makan mereka karena bisa berakibat naiknya berat badan. Persepsi mereka terhadap rasa kenyang terganggu sehingga pada saat mereka mengkonsumsi sejumlah makanan dalam porsi kecil sekalipun, mereka akan segera merasa 'penuh' atau bahkan mual. Mereka terus menerus melakukan diet mati-matian untuk mendapatkan tubuh yang kurus Anorexia nervosa terutama menimpa perempuan selama masa remaja hingga masa dewasa awal .

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa
Semakin rendah penerimaan diri terhadap kondisi fisik maka semakin tinggi kecenderungan mengalami anorexia nervosa pada remaja perempuan Sebaliknya, semakin tinggi penerimaan diri terhadap kondisi fisik, maka semakin rendah kecenderungan mengalami  anoreksia nervosa

Referensi

Santrock. J. W. (2003). Adolescence. Jakarta: Erlangga
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Vol. 1 No. 02, Juni 2012 di unduh tanggal  4/7/2019

Tuesday, 1 May 2018

           ARTIKEL PSIKOLOGI LINGKUNGAN


        Nama: Emiliano Domingos Lemos.                  Nim: 16.310.410.1150                             WE CARE AND WE SHARE OUR CLEAN                               ENVINROMENT.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.
Disini Mahasiswa Psikologi UP45 melakukan kegiatan store Sampah kepada Bank Sampah Gowok sebagai bentuk rasa kepedulian kita terhadad lingkungan dan juga merupakan contoh yang baik unutk masyarakat bahwa pentingnya kita peduli terhadap lingkungan di sekitar kita, mengajari kita bagaimana bisa mempunyai kesadaran yang tinggi akan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, dan lingkungan merupakan salah pengaruh besar terhadap Manusia, dari sisi fisik maupun psikologis, karena kehidupan dan ketrampilan kita sangat amat tergantung kepada lingkungan kita, jika kita hidup di lingkungan yang baik dan bersih maka otomatis diri kita pun dididik menjadi pribadi yang baik dan begitu sesuai dengan lingkungan kita, oleh karena kita disini saya mengutipkan bahwa WE CARE AND WE SHRE OUR CLEAN ENVIRONMENT Artinya kita peduli dan kita berbagi lingkungan kita yang bersih.
 Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang. Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.