Minggu, 06 Juli 2025

ESAI 6 - KEGIATAN BELAJAR MENGOLAH SAMPAH DI TPST 3R RANDU ALAS

PSIKOLOGI LINGKUNGAN

TUGAS – ESAI 6

KEGIATAN BELAJAR MENGOLAH SAMPAH DI TPST 3R RANDU ALAS

Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 


Ali Imron

23310410123

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

2025


    Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Randu Alas didirikan pada tahun 2015 sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi permasalahan sampah yang semakin kompleks di lingkungan perkotaan dan pedesaan. Dengan visi untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, TPST ini memiliki prinsip utama untuk mengurangi kuantitas sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) serta memperbaiki karakteristik sampah agar dapat dipilah menjadi material yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pengelolaan sampah yang efisien dan berkelanjutan.

    TPST Randu Alas menerapkan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) sebagai landasan utama dalam sistem pengelolaan sampahnya. Prinsip Reduce mendorong masyarakat untuk mengurangi produksi sampah sejak dari sumbernya, seperti menggunakan barang yang lebih tahan lama atau menghindari penggunaan plastik sekali pakai. Prinsip Reuse mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kembali barang-barang yang masih dapat digunakan, seperti botol atau wadah yang dapat diisi ulang. Sementara itu, prinsip Recycle berfokus pada pengolahan sampah yang dapat didaur ulang menjadi produk baru, sehingga mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA. Pendekatan ini mencerminkan komitmen TPST Randu Alas untuk menciptakan siklus pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.



    Untuk mendukung proses pengelolaan sampah, TPST Randu Alas dilengkapi dengan berbagai mesin pengolahan yang canggih dan fungsional. Salah satunya adalah mesin pemilah sampah yang menggunakan bahan bakar solar, yang dirancang untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya secara efisien. Selain itu, terdapat juga mesin pemilah bertenaga listrik yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi. Untuk sampah yang benar-benar tidak dapat diolah, seperti limbah medis yang tidak sengaja masuk atau limbah popok bayi, TPST ini memiliki tungku pembakaran dengan teknologi terkendali untuk memastikan pembakaran dilakukan dengan aman dan meminimalkan polusi udara. Ada pula mesin pencacah yang digunakan untuk memecah sampah menjadi ukuran lebih kecil, sehingga mempermudah proses pemilahan dan pengolahan lebih lanjut.

    Proses pengolahan sampah di TPST Randu Alas dimulai dengan penerimaan sampah dari masyarakat. Ada dua metode pengumpulan sampah: masyarakat dapat mengantarkan sampah mereka langsung ke TPST, atau petugas TPST akan mengambil sampah dari rumah-rumah warga secara berkala. Setelah sampah terkumpul, langkah berikutnya adalah mencacah sampah menggunakan mesin pencacah untuk memudahkan proses pemilahan. Proses pencacahan ini sangat penting karena membantu mengurangi volume sampah dan mempermudah identifikasi jenis sampah. Setelah dicacah, sampah dipisahkan menjadi dua kategori utama, yaitu sampah organik dan anorganik, yang kemudian akan diolah sesuai dengan karakteristik masing-masing.



    Sampah organik, seperti sisa makanan atau dedaunan, diolah menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi melalui proses pengomposan yang terkontrol. Pupuk ini kemudian dijual kepada masyarakat, terutama petani atau penggemar berkebun, sebagai alternatif pupuk kimia yang ramah lingkungan. Di sisi lain, sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam dipilah kembali untuk memisahkan sampah yang dapat didaur ulang dari sampah yang tidak dapat didaur ulang. Sampah yang dapat didaur ulang, seperti botol plastik atau kertas bekas, dikirim ke pabrik daur ulang untuk diproses menjadi produk baru. Sementara itu, sampah anorganik yang tidak dapat didaur ulang dimusnahkan dengan aman melalui pembakaran di tungku khusus yang dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan, seperti emisi berbahaya.

    Selain pengelolaan sampah secara teknis, TPST Randu Alas juga aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Petugas TPST secara rutin menyelenggarakan kegiatan edukasi, seperti seminar, lokakarya, dan kampanye lingkungan, untuk memberikan pemahaman tentang dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan. Mereka juga memberikan pelatihan praktis kepada masyarakat, seperti cara membuat pupuk kompos secara mandiri di rumah, yang tidak hanya membantu mengurangi sampah organik tetapi juga memberikan manfaat ekonomi. Melalui upaya ini, TPST Randu Alas berupaya membangun komunitas yang peduli terhadap lingkungan dan mendukung visi Indonesia yang indah, bersih, dan bebas dari masalah sampah. Mari kita semua turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan mendukung inisiatif pengelolaan sampah yang berkelanjutan ini.

0 komentar:

Posting Komentar