Meningkatkan pengetahuan untuk Mencegah
Pelecehan
Seksual pada Anak Prasekolah
Tugas 3
Psikologi Sosial
Nazarudin Latif
22310410082
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
|
Topik |
Meningkatkan
pengetahuan untuk Mencegah Pelecehan Seksual pada Anak Prasekolah |
|
Sumber |
Jurnal “Psikoedukasi Seks untuk Mencegah Pelecehan
Seksual pada Anak Prasekolah” |
|
Permasalahan |
Terjadi peningkatan pelecehan seksual pada anak dari tahun 2013 dengan jumlah 590 kasus dan meningkat 100% pada
tahun 2014 dengan jumlah 1217 kasus. Pada April 2014 Indonesia dikagetkan dengan
kabar kasus pelecehan seksual terhadap anak TK oleh petugas cleaning service di
Jakarta Internasional School (JIS), disusul kasus yang sama terjadi pada tahun 2016 yaitu pelecehan seksual pada
anak TK di Lampung oleh oknum penjaga sekolahnya
(kompas.com) |
|
Isi |
Pelecehan seksual adalah perilaku atau
perhatian yang bersifat seksual yang tidak diinginkan dan tidak dikehendaki serta
berakibat mengganggu diri penerima pelecehan, pemaksaan melakukan kegiatan seksual,
pernyataan merendahkan tentang orientasi seksual, permintaan melakukan tindakan
seksual yang disukai pelaku, ucapan atau perilaku yang berkonotasi seksual; semua
dapat digolongkan sebagai pelecehan seksual (Triwijati, 2007). Senada dengan Chomaria (2014) mengungkapkan
pelecehan seksual adalah interaksi antara anak dengan orang dewasa untuk
stimulasi seksual oleh pelaku yang memiliki kekuatan atau kendali terhadap korban.
Korban pelecehan seksual digunakan sebagai objek yang berkaitan dengan aktivitas
seksual baik kontak fisik maupun nonfisik. Handayani (dalam Hastuti, 2014) menguraikan
pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang mengarah kepada hal
seksual (pemuasan kebutuhan seksual) yang dilakukan oleh satu pihak dan tidak
diharapkan oleh korban sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti benci, marah, malu,
sedih, tersinggung, dan lain sebagainya, pelecehan seksual bisa mengarah menjadi
pelecehan seksual. Faktor penyebab pelecehan seksual pada Anak
(Erlinda, 2014) yaitu rendahnya kesadaran masyarakat terhadap hak anak,
pendidikan karakter dirumah, kemiskinan atau rendahnya pengetahuan tentang pendidikan
seks, penyebaran perilaku jahat antar generasi,
ketegangan sosial, serta lemahnya penegakan hukum. |
|
Metode |
Variabel bebas adalah Psikoedukasi seks
yaitu model intervensi psikologi dengan materi pendidikan seks berupa video, gambar, dan
materi dengan cerita yang dilakukan baik pada individu atau kelompok, bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan tentang perbedaan jenis kelamin, pelecehan seksual,
dan sebagai bentuk pencegahan agar subyek tidak mengalami masalah yang sama ketika
subyek harus menghadapi gangguan seperti pelecehan seksual pada anak. Variabel
terikat adalah Pengetahuan anak tentang pelecehan seksual yaitu anak tahu tentang
perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan seperti alat kelamin dan pakaian,
selain itu anak tahu tanda dan cara pencegahan
pelecehan seksual. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara dan skala. Skala digunakan sebagai alat ukur
pengetahuan anak tentang pelecehan seksual yang disusun berdasarkan Choirudin (2008)
yang mengungkapkan bahwa anak juga harus diajarkan 3L sebagai upaya pencegahan
pelecehan seksual yaitu (a) Latih anak untuk mengenali organ seksual dengan bahasa
sederhana. (b) Larang orang lain untuk menyentuh atau meraba organ seksual
tersebut. (c) Lapor pada orang tua atau guru jika pelecehan tersebut terjadi, yang terdiri
dari 23 aitem pernyataan dan memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,868. Skala
pengetahuan pelecehan seksual pada penelitian yang digunakan yaitu alat ukur dengan tipe
pilihan yang bersifat tertutup subyek diminta untuk memilih jawaban dengan pilihan dua jawaban
“iya” dan “tidak” dengan pemberian nilai “1 dan 0”. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan
kuantitatif metode quasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest
untuk mengukur pengetahuan anak tentang pelecehan seksual sebelum dan sesudah diberikan
perlakuan. Subyek penelitian adalah siswa di TK Baitul Mukmin Surabaya yang
berusia 4-6 tahun, dengan jumlah 20 subyek dan belum pernah mendapatkan materi
psikoedukasi seks. Penelitian tersebut menggunakan kelompok eksperimen tanpa
kelompok kontrol, dengan kelompok 10 subyek laki-laki dan 10 subyek perempuan.
Analisa data pada tahap intervensi dilakukan menggunakan teknik analisa statistik
menggunakan uji statistic non parametric Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney U test
dengan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 20.0 for windows, dilakukan
untuk membandingkan selisih antara skor pretest dan skor posttest untuk mengetahui
apakah variable bebas (psikoedukasi seks) Alat pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara dan skala. Skala digunakan sebagai alat ukur
pengetahuan anak tentang pelecehan seksual yang disusun berdasarkan Choirudin (2008)
yang mengungkapkan bahwa anak juga harus diajarkan 3L sebagai upaya pencegahan
pelecehan seksual yaitu (a) Latih anak untuk mengenali organ seksual dengan bahasa
sederhana. (b) Larang orang lain untuk menyentuh atau meraba organ seksual
tersebut. (c) Lapor pada orang tua atau guru jika pelecehan tersebut terjadi, yang terdiri
dari 23 aitem pernyataan dan memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,868. Skala
pengetahuan pelecehan seksual pada penelitian yang digunakan yaitu alat ukur dengan tipe
pilihan yang bersifat tertutup subyek diminta untuk memilih jawaban dengan pilihan dua jawaban
“iya” dan “tidak” dengan pemberian nilai “1 dan 0”. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan
kuantitatif metode quasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest
untuk mengukur pengetahuan anak tentang pelecehan seksual sebelum dan sesudah
diberikan perlakuan. Subyek penelitian adalah siswa di TK Baitul Mukmin Surabaya yang
berusia 4-6 tahun, dengan jumlah 20 subyek dan belum pernah mendapatkan materi
psikoedukasi seks. Penelitian tersebut menggunakan kelompok eksperimen tanpa
kelompok kontrol, dengan kelompok 10 subyek laki-laki dan 10 subyek perempuan.
Analisa data pada tahap intervensi dilakukan menggunakan teknik analisa statistik
menggunakan uji statistic non parametric Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney U test
dengan Statistical Product and Service Solution (SPSS) 20.0 for windows, dilakukan
untuk membandingkan selisih antara skor pretest dan
skor posttest untuk mengetahui apakah variable bebas (psikoedukasi seks) |
|
Diskusi |
Pendidikan
seks atau psikoedukasi seks mampu meningkatkan pengetahuan tentang seks sehingga menurunkan
kejadian pelecehan seksual pada anak, hal ini sesuai dengan penelitian
Cecen & Harisci (2013) bahwa program psikoedukasi untuk mencegah pelecehan
seksual pada anak terbukti efektif dengan peningkatan pengetahuan, keahlian dan dukungan
untuk proteksi diri. Psikoedukasi
seks atau pendidikan seks sendiri merupakan upaya transfer informasi tentang
perbedaan jenis kelamin dan pelecehan seksual. Psikoedukasi dilakukan untuk meningkatan
pengetahuan anak, hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu banyaknya
informasi yang diberikan akan meningkatkan pengetahuan, dalam penelitian tersebut
psikoedukasi seks yang didalamnya terdapat materi seperti perbedaan jenis kelamin dan
pelecehan seksual yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan contoh yang kongkret
atau menggunakan alat peraga, sehingga anak dengan mudah dalam menerima
informasi yang diberikan. Psikoedukasi
tersebut diberikan dengan bahasa dan cara yang sederhana yaitu sesuai dengan
perkembangan kognitif anak prasekolah menurut Piaget (dalam Boeree, 2008) pada tahap
ini masih dalam tahap pra-operasional konkret, dengan cara mengajak anak untuk
menonton video, gambar, dan cerita dengan menggunakan alat peraga seperti boneka
sehingga anak dengan mudah memahami materi yang diberikan, karena sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran. Alat peraga
digunakan karena masa perkembangan kognitif anak prasekolah berada pada tahap
praoperasional kongkret, anak dapat mengerti atau menerima informasi yang diberikan dengan
melihat contoh yang jelas tidak hanya menggunakan kata-kata, selain itu
pengetahuan banyak didapat dari hasil pengindraaan. Notoatmodjo (2007) mengungkapkan
bahwa penyampaian bahan hanya menggunakan kata-kata kurang efektif,
penggunaan alat peraga merupakan salah satu prinsip proses pendidikan. Faktor
lingkungan seperti tidak pernah mendapatkan materi atau pembelajaran tentang seks dan
pelecehan seksual baik dirumah maupun disekolah karena dianggap suatu hal yang tabu
sehingga tidak jarang menggunakan istilah yang berbeda dengan nama yang sebenarnya,
namun rasa ingin tahu yang tinggi pada anak membuat subyek penelitian antusias
dalam mengikuti psikoedukasi tersebut hal tersebut menjadi salah satu faktor meningkatnya
pengetahuan pelecehan seksual pada anak prasekolah setelah diberikan psikoedukasi. Pentingnya
psikoedukasi seks diberikan sejak dini terutama pada anak usia prasekolah karena dalam
perkembangan psikoseksual menurut Freud (dalam Boeree, 2008) usia prasekolah
berada pada tahap phallus dimana pada tahap tersebut anak mendapatkan kepuasan
libidonya dengan memanipulasi alat kelaminnya, namun ketika orang tua melarang maka
akan timbul perasaan bersalah, hal tersebut dapat menghambat perkembangan
psikoseksual anak selanjutnya. Freud mengungkapkan pada tahap perkembangan ini anak harus diberikan pendidikan seksual yang benar,
karena jika tidak, maka akan
menjadi awal terjadinya penyimpangan seksual dikemudian hari. Anak dapat
diberikan pengetahuan seks sejak anak bertanya tentang perbedaan alat kelamin pada
laki-laki dan perempuan, oleh karena itu pengetahuan dasar yang perlu diberikan
sejak dini ialah dengan melatih anak mengenalan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan
terutama tentang alat kelamin, cara bergaul dengan lawan jenis, cara mencegah anak
dari pelecehan seksual selanjutnya yaitu dengan mengajari anak untuk melarang
orang lain menyentuh, meraba, atau lainnya pada alat kelamin anak. |
|
Hasil |
Hasil analisa
data statistik nonparametrik IBM SPSS Statistics Version 20 dengan Teknik Wilcoxon
Signed Rank-Test menunjukkan hasil analisis nilai z sebesar -3.926b pada
taraf signifikansi
0,000 (p<0,01) menunjukkan bahwa secara kuantitatif, psikoedukasi seks memiliki
pengaruh terhadap meningkatnya pengetahuan tentang pelecehan seksual pada anak
prasekolah, dengan demikian hipotesa menyatakan bahwa ada pengaruh psikoedukasi
seks dalam meningkatkan pengetahuan tentang pelecehan seksual pada anak
prasekolah diterima. Terdapat
perbedaan mean antara pre-test dan post-test pengetahuan tentang pelecehan seksual pada
anak prasekolah setelah setelah diberikan psikoedukasi, di mana mean posttest
untuk pengetahuan pelecehan seksual pada anak prasekolah lebih tinggi
daripada nilai
pret-test, dengan nilai mean pre-test adalah sebesar 13,50 sedangkan nilai
post-test psychological
well-being ibu bekerja sebesar 21.20. Hal ini dapat diasumsikan psikoedukasi
seks dapat meningkatkan pengetahuan pelecehan seksual pada anak prasekolah. |






0 komentar:
Posting Komentar