Selasa, 19 September 2023

Essay 1. Psi lingkungan_Meringkas Jurnal_Pascalin sari Asih_21310410192_SP

 

 

 

SAPU BUMI SEGORO (SABURO) GERAKAN PEDULI SAMPAH MENUJU LAUT BERSIH BERKELANJUTAN DI DUSUN SENDANG BIRU KABUPATEN MALANG

 

Esai 1 – Meringkas Jurnal Sampah

Psikologi Lingkungan

 

Dosen Pengampu :Dr., Dra. Arundati Shinta MA

 

Pascalin Sari Asih – 21310410192



 

 

 

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

 

 

 

 

Topik

SABURO GERAKAN PEDULI SAMPAH, LAUT BERSIH, PENELITIAN KUALITATIF

Sumber

Sumarmi., Masruroh, H., Anggara, A. & Amin, S. (2022). Sapu bumi segoro (saburo) gerakan peduli sampah menuju laut bersih berkelanjutan di dusun sendang biru kabupaten malang. Dinamika sosial : jurnal pendidikan ilmu pengetahuan sosial. Vol. 1, No. 3 (2022): 209-222.

Permasalahan

Masalah  yang  sering  muncul  ketika  membahas  masalah  sampah  yaitu  kesadaran  dan kepedulian  masyarakat  terhadap  lingkungan. Keberadaan sampah  padat  maupun  cair  bagi  masyarakat  pesisir  di  kawasan  Pantai Sendang Biru mengganggu lingkungan. Sampah mempengaruhi keberlangsungan ekosistem

di  Pantai  Sendang Biru yang  mengganggu  kehidupan biota  di  wilayah tersebut.  Fauna  di lautan  kerap  salah  mengira  sampah  plastik  adalah  makanannya, Dampak  lanjutan  yang  sangat  jelas  adalah berkurangnya hasil tangkapan ikan oleh nelayan.

Tujuan penelitian

Tujuan  Penelitian  ini untuk mengetahui kesadaran masyarakat Dusun Sendang Biru dalam menjaga kebersihan pantai dan  laut  dan  kreativitas  masyarakat  untuk membuat  laut bersih  secara  berkelanjutan.

Isi

§  Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan,

Jumlah timbulan sampah dalam setahun sekitar 67,8 juta ton, dan akan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah  penduduk.  Selain berdampak  secara  fisik  terhadap  lingkungan  dalam pengelolaan

sampah yang tidak baik dapat mempengaruhi kondisi jumlah mikroplastik di pesisir dan laut yang mempengaruhi kualitas biota laut yang memakan mikroplastik tersebut. Pada akhirnya juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan manusia (Jambeck et  al.,  2015).  Asal  sampah tersebut,  kurang  dari  20%  berasal  dari  sumber  berbasis  laut  seperti  perikanan  dan  kapal penangkap ikan sedangkan 80% sisanya berasal dari sumber berbasis darat (Gesamp, 2015). Penelitian dilakukan di Kawasan Pesisir Sendang Biru dan CMC Tiga Warna yang ada  di  Dusun  Sendang  Biru,  Kecamatan Sumbermanjing  Wetan,  Kabupaten  Malang.

§  SABURO merupakan program kelanjutan chek sampah

masuk dan chek sampah keluar yang dilakukan ekowisata CMC Tiga Warna sejak tahun 2015. Komitmen pengelola CMC Tiga Warna  dan  keikutsertaan  tim relawan  serta  keterlibatan  tim  perempuan  CMC  Tiga Warna seperti Bu Sules, Bu Warti, dan Bu Peni yang sekaligus juga merupakan anggota PKK Dusun Sendang  Biru menjadikan  berjalannya  progam  ini  dengan  baik. Gerakan  SABURO  merupakan  aksi  nyata  untuk mengurai polusi menjadi solusi. Secara lebih luas SABURO merupakan kampanye diet plastik untuk

mengatasi pencemaran di bumi dan di laut. Melalui  SABURO sampah plastik  didaur ulang menjadi bahan paving dan  tidak diperjualbelikan.

§  Kreativitas masyarakat Sendang Biru dalam menjaga

kebersihan laut agar berkelanjutan masih  berhubungan  dengan  progam  SABURO. Berdasarkan  analisis  data  ditemukan kreativitas  tersebut  masih  menjadi  satu  kesatuan  dengan  progam  tersebut.  Atau  bisa dikatakan kreativitas ini merupakan hasil lebih lanjut dari progam SABURO. Kreativitas baru yang  muncul  adalah pembuatan  paving  dari  sampah plastik.  Saat  ini paving yang  dibuat memiliki dua bentuk, yaitu bentuk segitiga dan persegi panjang.

§  Pengelolaan dilakukan secara lebih fokus, sampai

kemudian adanya kerelaan dari tim CMC untuk membentuk tim khusus  SABURO yang setiap hari Kamis menjemput  rezeki sampah plastik ini ke rumah ibu-ibu. Tim awal SABURO yakni Mas Galih, Mbak Pita, Mbak Fitri, dan Adik Labda yang masih umur 11 tahun secara fokus mendokumentasikan kegiatan SABURO. Berawal dari 8 relawan, SABURO kini per Kamis, 11 Maret 2021 didukung  oleh 75 relawan dan tentunya pengelolaan tim internal pun juga mendapat dukungan dari  keterlibatan  tim perempuan  CMC  Tiga  Warna  yakni  Bu  Sules, Bu  Warti, dan  Bu  Peni.  Tim  SABURO  kini semakin konsisten dengan pengelolaan data, dokumentasi, dan penyiapan sarana pendukung produksi.

Metode

§  Penelitian  ini  menggunakan  pendekatan  deskriptif

kualitatif.  Pengumpulan  data dilakukan  dengan  cara  observasi,  wawancara  mendalam  dengan  partisipatif, dan dokumentasi.

§  Observasi dilakukan  pada  area  perkampungan  Dusun  

Sendang  Biru;  area  Pelabuhan  ikan  Pondok dadap; area Pantai Tiga Warna, area Pantai Clungup. Penentuan informan kunci dilakukan dengan  metode  purposive  dengan  teknik  snowball  sampling. Adapun  informan  kunci  dalam penelitian ini ada 8 orang adalah Pimpinan Yayasan Bhakti Alam (1 orang) dan Pimpinan UPT PPP  Pondok  Dadap  (1  orang),  Ketua  Kelompok  PKK  Dusun  Sendang  Biru  (1  orang)  dan masyarakat nelayan Sendang Biru (2 orang), para relawan yang ada di CMC Tiga Warna (3 orang).  

§  Analisis  data dilakukan  dengan metode Huberman &

Miles (2002) yang terdiri dari tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data,  penarikan  kesimpulan/verifikasi.  Keabsahan  data  dicek  dengan  metode  trianggulasi sumber  dan  Focus  Group  Disscussion  (FGD).  FGD dilakukan  pada  tanggal  10 Mei  2021  di Sekertariat  Bhakti  Alam  Sendang  Biru,  dengan  mengundang  10  orang  (3  anggota  PKK Sendang  Biru,  2  orang  Pegawai  Pelabuhan  Ikan  Pondok  Dadap,  2  orang  nelayan,  3 orang Pegawai CMC Tiga Warna).

Hasil

§  Sebelumnya kesadaran diri masyarakat sendang biru

sangat rendah dalam menjaga kebersihan pantai dan pesisir, namun sekarang kesadaran  masyarakat  dalam menjaga kebersihan di daerah Sendang Biru tergolong dalam kondisi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi selama di lapangan menunjukkan tingkat kebersihan lingkungan yang baik. Di mana di kawasan wisata Clungup Mangrove Conservation (CMC) diberlakukan chek  list  barang bawaan  pengunjung  yang  akan  masuk ke  dalam  Kawasan CMC.  Chek  list tersebut  mewajibkan  pengunjung  atau  wisatawan membawa  kembali  barang  bawaannya ketika pulang sehingga tidak boleh meninggalkan sampah sama sekali.

§  Selain itu, di  dalam kawasan juga mudah ditemukan tempat sampah

dan area wisata yang bersih. Di mana fasilitas yang memadai dan area yang bersih juga menambah kepuasan pengunjung  yang  datang dan  memungkinkan  untuk  berkunjung kembali  (Nasution  et  al., 2020; Oktaviani & Suryana, 2016). Begitu juga dengan di daerah pelabuhan penangkapan ikan. Kesadaran masyarakat baik nelayan  ataupun pedagang ikan juga memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan yang baik.

§  Kesadaran masyarakat pesisir Sendang Biru akan lingkungan yang

tergolong baik tidak lepas dari  pengelolaan  sampah  sudah  diterapkan.  Berdasarkan analisis  data,  pengelolaan sampah sudah berjalan dengan bagus dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa program yang dilaksanakan baik di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna  ataupun  di  Pelabuhan  Penangkapan  Ikan  Pondok  Dadap.  Pengelolaan  sampah  di kawasan wisata yang  di kelola Yayasan Bhakti Alam sudah teroganisir dengan baik.  Selain dengan  penerapan  chek  list  yang  ketat  untuk  pengunjung,  juga  ada  progam  kerja  bakti kebersihan  yang  diadakan  setiap  seminggu  sekali,  tepatnya  adalah  hari  Kamis.  Sehingga setiap  hari  Kamis, kawasan wisata  CMC  Tiga Warna  akan  ditutup oleh pihak  pengelola.

§  Sedangkan di Pelabuhan Penangkapan Ikan Pondok dadap

pengelolaan sampah juga tergolong  baik.  Berdasarkan wawancara dan  observasi  dapat  dilihat  tingkat  kebersihan  di sekitar Pelabuhan dan TPI. Hal ini menandakan tingkat pengelolaan sampah tergolong baik.

Keberhasilan pengelolaan sampah dan kebersihan kawasan Pelabuhan dan TPI tidak terlepas dari tersedianya  banyak  fasilatas  tempat  sampah.  Selain  itu,  juga  adanya  himbauan  dan larangan  demi  terjaganya  kebersihan  lingkungan  yang  terpasang  di  beberapa  tempat

Diskusi

Sebelum  tahun  2016 kesadaran  masyarakat Dusun  Sendang Biru dalam  menjaga kebersihan pantai dan laut masih  rendah,  tetapi  setelah  itu  semakin membaik dengan  diprakarsai  Yayasan  Bhakti Alam Sendang Biru yang menge- lola Kawasan Ekowisata CMC Tiga Warna, mulai tahun 2019  Kawasan  Pelabuhan  Pondok  Dadap  Sendang  Biru  juga  mempunyai  program konservasi untuk membentuk kesadaran bersih dari sampah dan awal tahun 2021muncul Gerakan SABURO (Sapu Bumi Segoro) kesadaran masyarakat tentang kebersihan sampah tidak  hanya  di  pesisir  dan  laut,  tetapi  juga  di  kawasan  daratan.  Gerakan  tersebut dilanjutkan  dengan kreasi  pembuatan  batako  dari  bahan  sampah  plastik  dan  oli bekas. Gerakan ini sangat memberi dampak pada kebersihan lingkungan baik di perkampungan, pesisir dan laut yang ada di Dusun Sendang Biru.

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar