SAPU BUMI SEGORO (SABURO) GERAKAN PEDULI
SAMPAH MENUJU LAUT BERSIH BERKELANJUTAN DI DUSUN SENDANG BIRU KABUPATEN MALANG
Esai 1 – Meringkas Jurnal
Sampah
Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu :Dr., Dra. Arundati Shinta MA
Pascalin Sari Asih – 21310410192
Fakultas Psikologi Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta
|
Topik |
SABURO GERAKAN PEDULI SAMPAH, LAUT BERSIH, PENELITIAN KUALITATIF |
|
Sumber |
Sumarmi., Masruroh, H., Anggara, A.
& Amin, S. (2022). Sapu
bumi segoro (saburo) gerakan peduli sampah menuju laut bersih berkelanjutan
di dusun sendang biru kabupaten malang. Dinamika sosial : jurnal
pendidikan ilmu pengetahuan sosial. Vol. 1, No. 3 (2022): 209-222. |
|
Permasalahan |
Masalah yang
sering muncul ketika membahas masalah sampah yaitu kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Keberadaan sampah padat maupun cair bagi masyarakat pesisir di kawasan Pantai Sendang Biru mengganggu
lingkungan. Sampah mempengaruhi keberlangsungan ekosistem di Pantai Sendang Biru yang mengganggu kehidupan biota di wilayah tersebut. Fauna di lautan kerap salah mengira sampah plastik adalah makanannya, Dampak lanjutan yang sangat jelas adalah berkurangnya hasil tangkapan
ikan oleh nelayan. |
|
Tujuan penelitian |
Tujuan Penelitian
ini untuk
mengetahui kesadaran masyarakat Dusun Sendang Biru dalam menjaga kebersihan
pantai dan laut dan kreativitas masyarakat untuk membuat laut bersih secara berkelanjutan. |
|
Isi |
§ Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Jumlah timbulan sampah dalam setahun sekitar 67,8 juta ton, dan akan
terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Selain berdampak secara fisik terhadap lingkungan dalam pengelolaan sampah yang tidak baik dapat mempengaruhi kondisi jumlah mikroplastik
di pesisir dan laut yang mempengaruhi kualitas biota laut yang memakan mikroplastik
tersebut. Pada akhirnya juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan manusia
(Jambeck et al., 2015). Asal
sampah tersebut, kurang dari 20% berasal dari sumber berbasis laut seperti perikanan dan kapal penangkap ikan sedangkan 80%
sisanya berasal dari sumber berbasis darat (Gesamp, 2015). Penelitian
dilakukan di Kawasan Pesisir Sendang Biru dan CMC Tiga Warna yang ada di Dusun Sendang Biru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. § SABURO merupakan program kelanjutan chek
sampah masuk dan chek sampah keluar yang dilakukan ekowisata CMC Tiga Warna
sejak tahun 2015. Komitmen pengelola CMC Tiga Warna dan keikutsertaan tim relawan serta keterlibatan tim perempuan CMC Tiga Warna seperti Bu Sules, Bu
Warti, dan Bu Peni yang sekaligus juga merupakan anggota PKK Dusun Sendang Biru menjadikan berjalannya progam ini dengan baik. Gerakan SABURO merupakan aksi nyata untuk mengurai polusi menjadi solusi.
Secara lebih luas SABURO merupakan kampanye diet plastik untuk mengatasi pencemaran di bumi dan di laut. Melalui SABURO sampah plastik didaur ulang menjadi bahan paving dan
tidak
diperjualbelikan. § Kreativitas masyarakat Sendang Biru dalam
menjaga kebersihan laut agar berkelanjutan masih berhubungan dengan progam SABURO. Berdasarkan analisis data ditemukan kreativitas tersebut masih menjadi satu kesatuan dengan progam tersebut. Atau bisa dikatakan kreativitas ini
merupakan hasil lebih lanjut dari progam SABURO. Kreativitas baru yang muncul adalah pembuatan paving dari sampah plastik. Saat ini paving yang dibuat memiliki dua bentuk, yaitu
bentuk segitiga dan persegi panjang. § Pengelolaan dilakukan secara lebih fokus,
sampai kemudian adanya kerelaan dari tim CMC untuk membentuk tim khusus SABURO yang setiap hari
Kamis menjemput rezeki
sampah plastik ini ke rumah ibu-ibu. Tim awal SABURO yakni Mas Galih, Mbak
Pita, Mbak Fitri, dan Adik Labda yang masih umur 11 tahun secara fokus
mendokumentasikan kegiatan SABURO. Berawal dari 8 relawan, SABURO kini per
Kamis, 11 Maret 2021 didukung oleh 75 relawan dan tentunya
pengelolaan tim internal pun juga mendapat dukungan dari keterlibatan tim perempuan CMC Tiga Warna yakni Bu Sules, Bu Warti, dan Bu Peni. Tim SABURO kini semakin konsisten dengan
pengelolaan data, dokumentasi, dan penyiapan sarana pendukung produksi. |
|
Metode |
§ Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan
data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam dengan partisipatif, dan dokumentasi. §
Observasi
dilakukan pada area perkampungan Dusun Sendang Biru;
area Pelabuhan ikan Pondok dadap; area Pantai Tiga Warna,
area Pantai Clungup. Penentuan informan kunci dilakukan dengan metode purposive dengan teknik snowball
sampling. Adapun informan kunci dalam penelitian
ini ada 8 orang adalah Pimpinan Yayasan Bhakti Alam (1 orang) dan Pimpinan
UPT PPP Pondok Dadap (1 orang), Ketua Kelompok PKK Dusun Sendang Biru (1 orang) dan masyarakat nelayan Sendang Biru
(2 orang), para relawan yang ada di CMC Tiga Warna (3 orang). § Analisis data dilakukan dengan metode Huberman & Miles (2002) yang terdiri dari tiga tahap, yaitu reduksi data,
penyajian data, penarikan
kesimpulan/verifikasi.
Keabsahan data dicek dengan metode trianggulasi sumber dan Focus Group Disscussion
(FGD). FGD dilakukan pada tanggal 10 Mei 2021 di Sekertariat Bhakti Alam Sendang Biru, dengan mengundang 10 orang (3 anggota PKK Sendang Biru, 2 orang Pegawai Pelabuhan Ikan Pondok Dadap, 2 orang nelayan, 3 orang Pegawai CMC Tiga Warna). |
|
Hasil |
§ Sebelumnya kesadaran diri masyarakat
sendang biru sangat rendah dalam menjaga kebersihan pantai dan pesisir, namun
sekarang kesadaran masyarakat
dalam menjaga
kebersihan di daerah Sendang Biru tergolong dalam kondisi yang baik. Hal ini
dapat dilihat dari hasil observasi selama di lapangan menunjukkan tingkat
kebersihan lingkungan yang baik. Di mana di kawasan wisata Clungup Mangrove
Conservation (CMC) diberlakukan chek list barang
bawaan pengunjung yang akan masuk
ke dalam Kawasan CMC. Chek list tersebut mewajibkan pengunjung atau wisatawan membawa kembali barang bawaannya ketika pulang sehingga
tidak boleh meninggalkan sampah sama sekali. § Selain itu, di dalam kawasan juga mudah ditemukan tempat
sampah dan area wisata yang bersih. Di mana fasilitas yang memadai dan area
yang bersih juga menambah kepuasan pengunjung yang datang dan memungkinkan untuk berkunjung kembali (Nasution et al., 2020; Oktaviani & Suryana,
2016). Begitu juga dengan di daerah pelabuhan penangkapan ikan. Kesadaran
masyarakat baik nelayan ataupun
pedagang ikan juga memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan yang baik. § Kesadaran masyarakat pesisir Sendang Biru
akan lingkungan yang tergolong baik tidak lepas dari pengelolaan sampah sudah diterapkan. Berdasarkan analisis data, pengelolaan sampah sudah berjalan
dengan bagus dan efektif. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa program
yang dilaksanakan baik di kawasan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga
Warna ataupun di Pelabuhan Penangkapan Ikan Pondok Dadap. Pengelolaan sampah di kawasan wisata yang di kelola Yayasan Bhakti Alam sudah
teroganisir dengan baik. Selain dengan penerapan chek list
yang ketat untuk pengunjung, juga ada progam kerja bakti kebersihan yang diadakan setiap seminggu sekali, tepatnya adalah hari Kamis. Sehingga setiap hari Kamis, kawasan wisata CMC Tiga Warna akan ditutup oleh pihak pengelola. § Sedangkan di Pelabuhan Penangkapan Ikan
Pondok dadap pengelolaan sampah juga tergolong baik. Berdasarkan wawancara dan observasi dapat dilihat tingkat kebersihan di sekitar Pelabuhan dan TPI. Hal ini
menandakan tingkat pengelolaan sampah tergolong baik. Keberhasilan pengelolaan sampah dan kebersihan kawasan Pelabuhan dan
TPI tidak terlepas dari tersedianya banyak fasilatas tempat sampah. Selain itu, juga adanya himbauan dan larangan demi terjaganya kebersihan lingkungan yang terpasang di beberapa tempat |
|
Diskusi |
Sebelum tahun
2016 kesadaran masyarakat Dusun Sendang Biru dalam menjaga kebersihan
pantai dan laut masih rendah,
tetapi setelah itu semakin membaik dengan diprakarsai Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru yang menge-
lola Kawasan Ekowisata CMC Tiga Warna, mulai tahun 2019 Kawasan Pelabuhan Pondok Dadap Sendang Biru juga mempunyai program konservasi untuk membentuk
kesadaran bersih dari sampah dan awal tahun 2021muncul Gerakan SABURO (Sapu
Bumi Segoro) kesadaran masyarakat tentang kebersihan sampah tidak hanya di pesisir dan laut, tetapi juga di kawasan daratan. Gerakan tersebut dilanjutkan dengan kreasi pembuatan batako dari bahan sampah plastik dan oli bekas. Gerakan ini sangat memberi
dampak pada kebersihan lingkungan baik di perkampungan, pesisir dan laut yang
ada di Dusun Sendang Biru. |







0 komentar:
Posting Komentar