Minggu, 07 Mei 2023

Essay 3 : Review dan Meringkas Jurnal . M. Ekky Wahyu Mumpuni 22310420017

Keyakinan Yang Mendukung Tindak Kekerasan Perundungan Berdasarkan Perspektif Perbedaan Jenis Kelamin


Essay 3

Psikologi Sosial

M. Ekky Wahyu Mumpuni

22310420017

Dosen Pengampu : Dr.,Dra.ARUNDATI SHINTA,MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Topik

Keyakinan yang mendukung tindak kekerasan, perundungan, sekolah, teori sosioekologi.

Sumber

Borualogo, I. S., Kusdiyati, S., & Wahyudi, H. (2023). Keyakinan yang mendukung tindak kekerasan perundungan berdasarkan perspektif perbedaan jenis kelamin.Jurnal psikologi sosial 21 (1), 83-97 

Permasalahan 

  1. Tingginya angka perundungan di Indonesia: Tulisan ini mengindikasikan bahwa perundungan di Indonesia tergolong cukup tinggi, dengan data yang menunjukkan angka prevalensi kasus perundungan yang signifikan. Hal ini menjadi permasalahan serius yang memerlukan tindakan yang efektif untuk mencegah dan mengatasi perundungan di Indonesia.


  1. Peningkatan kasus perundungan: Tulisan ini juga mengindikasikan bahwa angka perundungan cenderung mengalami peningkatan, meskipun upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait melalui regulasi seperti Permendikbud Nomor 82 tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Hal ini menjadi permasalahan yang perlu ditangani dengan serius agar angka perundungan dapat ditekan dan tidak terus meningkat.



  1. Faktor penyebab tingginya angka perundungan: Tulisan ini menyebutkan bahwa salah satu penyebab tingginya angka perundungan adalah masyarakat yang berubah menjadi lebih agresif dan melakukan tindakan represif yang berulang-ulang, sehingga ditiru oleh anak-anak dan remaja. Faktor-faktor penyebab perundungan perlu dianalisis dan diatasi untuk mengurangi angka perundungan di Indonesia.


  1. Beragam bentuk perundungan: Tulisan ini juga menggambarkan beragam bentuk perundungan yang terjadi, seperti perundungan fisik, verbal, dan psikologis. Hal ini menjadi permasalahan serius yang perlu diperhatikan dan ditangani secara holistik agar semua bentuk perundungan dapat dicegah dan diatasi secara efektif.



  1. Data yang diperoleh dari beberapa penelitian: Tulisan ini menggunakan data dari beberapa penelitian yang mungkin memiliki metode dan pendekatan yang berbeda, sehingga perlu diingatkan bahwa data tersebut dapat memiliki kekurangan atau perbedaan dalam hal metodologi dan akurasi. Oleh karena itu, data yang digunakan perlu diperhatikan dengan cermat dalam menganalisis permasalahan perundungan di Indonesia.


Tujuan Penelitian

  1. Penelitian ini diharapkan untuk dapat mengisi kesenjangan informasi mengenai perundungan yang terjadi pada siswa melalui perspektif jenis kelamin kepada orang tua dan tenaga pendidik supaya dapat dilakukan tindakan pencegahan.


  1. Supaya peneliti lain lebih mendalam meneliti keadaan ini agar pemahaman mengenai perundungan menjadi lebih komprehensif dari sudut pandang pelaku. 

Isi 

Latar Belakang: Penelitian ini merujuk pada studi-studi terdahulu yang telah mengungkap tingginya frekuensi perundungan atau bullying di Provinsi Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung, yang merupakan salah satu wilayah dengan kasus perundungan tertinggi di Jawa Barat. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa perundungan merupakan suatu problem sosial di Indonesia yang perlu ditangani secara serius. Selain itu, penelitian ini juga memperkenalkan konsep keyakinan yang mendukung tindakan kekerasan sebagai salah satu prediktor perundungan, namun belum banyak dilakukan penelitian mengenai hal ini di Indonesia, terutama dalam konteks perbedaan jenis kelamin.


Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kontribusi keyakinan yang mendukung tindakan kekerasan terhadap tindakan perundungan pada siswa laki-laki dan perempuan.


Temuan Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan yang mendukung tindakan kekerasan memiliki kontribusi signifikan terhadap perundungan fisik, verbal, dan psikologis pada siswa laki-laki dan perempuan. Artinya, semakin tinggi keyakinan yang mendukung tindakan kekerasan yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula kemungkinan mereka melakukan tindakan perundungan. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa siswa laki-laki cenderung memiliki keyakinan yang lebih kuat dalam mendukung tindakan kekerasan, namun jenis kelamin tidak menjadi moderator terhadap hubungan antara keyakinan yang mendukung tindakan kekerasan dan tindakan perundungan.


Pembahasan: Temuan penelitian ini dibahas dengan menggunakan teori sosio ekologi dari Bronfenbrenner, yang menggambarkan bahwa perundungan merupakan suatu fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh faktor-faktor multilevel, termasuk keyakinan individu. Hasil penelitian ini juga memberikan implikasi bagi orang tua dan guru untuk memperhatikan setiap insiden kekerasan yang disebabkan oleh keyakinan yang mendukung tindakan kekerasan.


Metode 

Desain Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional design, di mana data dikumpulkan pada satu titik waktu tertentu. Sampel penelitian terdiri dari siswa SD dan SMP di Kota Bandung sebanyak 1.539 responden, yang dipilih secara acak melalui teknik sampling klaster berstrata. Dalam sampel tersebut, 53,2% responden adalah perempuan dan 46,8% responden adalah laki-laki. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Beliefs supporting violence scale dan alat ukur tindakan perundungan yang telah diadaptasi ke dalam konteks Indonesia.


Analisis Data: Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan regresi linier untuk mengevaluasi kontribusi keyakinan yang mendukung tindakan kekerasan terhadap tindakan perundungan pada siswa laki-laki dan perempuan.

Hasil 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keyakinan yang mendukung tindak kekerasan memberikan kontribusi signifikan terhadap tindakan perundungan pada siswa laki-laki dan perempuan di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Hasil analisis data menggunakan regresi linier menunjukkan bahwa keyakinan yang mendukung tindak kekerasan berkontribusi signifikan terhadap perundungan fisik, verbal, dan psikologis pada siswa perempuan maupun laki-laki. Penelitian ini menggunakan teori sosio ekologi dari Bronfenbrenner sebagai dasar pembahasannya.

Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa laki-laki cenderung memiliki keyakinan yang lebih kuat yang mendukung tindak kekerasan dibandingkan siswa perempuan. Namun, jenis kelamin tidak menjadi moderator atas hubungan antara keyakinan yang mendukung tindak kekerasan dan tindakan perundungan.

Hasil penelitian ini menyarankan bahwa orang tua dan guru perlu memperhatikan setiap insiden kekerasan yang disebabkan oleh keyakinan yang mendukung tindak kekerasan, yang dapat memprediksi terjadinya tindakan perundungan di sekolah. Kehati-hatian dalam menghadapi keyakinan yang mendukung tindak kekerasan diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah kasus tindakan perundungan, terutama di Provinsi Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung.


Diskusi 

  1. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosioekologi dari Bronfenbrenner (1979) untuk menjelaskan model pengaruh lingkungan terhadap individu pada tiap level sistem yang berbeda untuk menjelaskan karakteristik individu yang berinteraksi dengan konteks lingkungan yang dapat meningkatkan ataupun mencegah tindakan perundungan.


  1. Penelitian ini fokus pada microsystem sebagai lapisan terdalam dalam teori Bronfenbrenner (1979), di mana individu menjadi sentralnya. Microsystem merupakan lingkungan terkecil relasi tatap muka yang memberikan pengaruh langsung terhadap individu, seperti karakteristik individu, keluarga, teman sebaya, komunitas, dan sekolah.


  1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan yang mendukung tindak kekerasan memberikan kontribusi signifikan bagi individu dalam melakukan tindakan perundungan (fisik, verbal, dan psikologis), dan hasil ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya serta penelitian di negara lain yang menemukan pengaruh kuat dari keyakinan yang mendukung tindak kekerasan dengan terjadinya tindakan perundungan.


  1. Karakteristik individu yang diuji pengaruhnya dalam penelitian ini adalah jenis kelamin sebagai moderator terhadap keyakinan yang mendukung tindak kekerasan dan tindak perundungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara keyakinan yang mendukung tindak kekerasan pada siswa laki-laki dan siswa perempuan, dengan nilai rerata yang secara signifikan lebih tinggi pada siswa laki-laki.


  1. Frekuensi melakukan tindakan perundungan juga menunjukkan hasil yang berbeda pada kedua kelompok jenis kelamin, di mana siswa laki-laki lebih sering melakukan tindakan perundungan dibandingkan siswa perempuan.


  1. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pelaku perundungan pada umumnya adalah laki-laki, karena laki-laki memiliki tendensi yang lebih tinggi untuk menggunakan kekerasan dan lebih agresif daripada perempuan.


  1. Penelitian ini juga menemukan perbedaan dalam jenis perilaku perundungan yang dilakukan oleh siswa laki-laki dan siswa perempuan, dengan perilaku perundungan verbal sebagai perilaku yang paling sering dilakukan oleh kedua kelompok jenis kelamin, dan perilaku perundungan psikologis sebagai perilaku yang paling jarang dilakukan oleh keduanya.


  1. Kekerasan yang diekspos di media sosial pada level exosystem menjadi faktor risiko bagi siswa karena dapat memberikan efek buruk dan cenderung diikuti oleh siswa lain.


  1. Peran jenis kelamin pada level macrosystem berperan dalam terjadinya perundungan, dimana perempuan sering kali melakukan perundungan psikologis dengan cara mengucilkan siswa lain di kelas karena norma peran jenis kelamin yang menekankan pada sifat feminin dan menghindari tindakan agresif terhadap orang lain.


  1. Kurangnya perhatian dari staf sekolah terkait perundungan psikologis dapat memberikan peluang bagi siswa perempuan untuk mengulangi tindakan perundungan karena tidak mendapatkan teguran, sehingga perundungan psikologis oleh siswa perempuan dianggap bukan masalah serius.


  1. Konsep peran jenis kelamin yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki dituntut untuk menjalankan peran agentik yang menekankan pada kekuatan dan agresivitas, sedangkan perempuan dituntut untuk menjalankan peran komunal yang menekankan pada bersahabat, mempertimbangkan orang lain, dan ekspresi emosi.


  1. Konteks budaya Indonesia yang bersifat patriarki dapat mempengaruhi pandangan mengenai peran jenis kelamin, dimana laki-laki diharapkan menjadi agen aktif yang memiliki prioritas tujuan impersonal dan kekuatan, sedangkan perempuan diharapkan menampilkan sifat feminin, pasrah, menerima, mengasuh, dan peduli pada orang lain.


0 komentar:

Posting Komentar