Minggu, 07 Mei 2023

Essay 3: Review dan Meringkas Jurnal . Naufal Muhtarom Akbar Lubis 22310420087

 


Perilaku Manusia Dalam Perspektif Psikologi Sosial

ESSAI III

PSIKOLOGI SOSIAL 


Naufal Muhtarom Akbar Lubis

22310420087



Dosen Pengampu : Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA, MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



Topik

Perilaku organisasi, manajemen sumber daya manusia, prilaku konsumen. 

Sumber

Perilaku Manusia Dalam Perspektif Psikologi Sosial, jurnal. 

Jurnal Administrasi Bisnis (2011), Vol.7, No.2: hal. 143–156, (ISSN:0216–1249)

2011 Center for Business Studies. FISIP - Unpar .

Permasalahan

Menjelaskan bahwa meskipun psikologi sosial telah ada sejak zaman Plato dan Aristotle, namun secara resmi disiplin ilmu ini menjadi ilmu baru yang independen pada tahun 1908. Artikel ini mencoba untuk menjelaskan perilaku manusia dari berbagai sudut pandang atau perspektif yang umumnya dipelajari dalam psikologi sosial. Perspektif-perspektif yang dibahas dalam artikel tersebut adalah perspektif perilaku, perspektif kognitif, perspektif struktural, dan perspektif interaksionis. Melalui studi dari berbagai sudut pandang ini, kita dapat memahami perilaku manusia secara lebih komprehensif.

Tujuan penelitian

Upaya memahami perilaku manusia dari perpektif Psikologi Sosial yang terkandung dalam mata kuliah. Ilmu Manajemen, Perilaku Organisasi, Manajemen Sumberdaya Manusia, Perilaku Konsumen, merupakan contoh dari mata kuliah - mata kuliah yang mengkaji perilaku manusia baik secara individual maupun kelompok.

Isi

Yang dimaksud dengan perspektif adalah asumsi-asumsi dasar yang paling banyak sumbangannya kepada pendekatan psikologi sosial. Perspektif perilaku menyatakan bahwa perilaku sosial kita paling baik dijelaskan melalui perilaku yang secara langsung dapat diamati dan lingkungan yang menyebabkan perilaku kita berubah. Perspektif kognitif menjelaskan perilaku sosial kita dengan cara memusatkan pada bagaimana kita menyusun mental (pikiran, perasaan) dan memproses informasi yang datangnya dari lingkungan . Kedua perspektif tersebut banyak dikemukakan oleh para psikolog sosial yang berlatar belakang psikologi. Di samping kedua perspektif di atas, ada dua perspektif lain yang sebagian besarnya diutarakan oleh para psikolog sosial yang berlatas belakang sosiologi. Perspektif struktural memusatkan perhatian pada proses sosialisasi, yaitu proses di mana perilaku kita dibentuk oleh peran yang beraneka ragam dan selalu berubah, yang dirancang oleh masyarakat kita. Perspektif interaksionis memusatkan perhatiannya pada proses interaksi yang mempengaruhi perilaku sosial kita. Perbedaan utama di antara kedua perspektif terakhir tadi adalah pada pihak mana yang berpengaruh paling besar terhadap pembentukan perilaku. Kaum strukturalis cenderung meletakan struktur sosial (makro) sebagai determinan perilaku sosial individu, sedangkan kaum interaksionis lebih memandang individu (mikro) merupakan agen yang aktif dalam membentuk perilakunya sendiri. Karena banyaknya teori yang dikemukakan untuk menjelaskan perilaku sosial maka seringkali muncul pertanyaan : ”Teori mana yang paling benar ?” atau ”teori mana yang terbaik?” . Hampir seluruh psikolog sosial akan menjawab bahwa tidak ada teori yang salah atau yang paling baik, atau paling jelek. Setiap teori mempunyai keterbatasan dalam aplikasinya. Misalnya dalam mempelajari agresi (salah satu bentuk perilaku sosial), para behavioris bisa memusatkan pada pengalaman belajar yang mendorong terjadinya perilaku agresif - pada bagaimana orang tua, guru, dan pihakpihak lain yang memberi perlakuan positif pada perilaku agresif. Bagi yang tertarik pada perspektif kognitif maka obyek kajiannya adalah pada bagaimana seseorang mempersepsi, interpretasi, dan berpikir tentang perilaku agresif. Seorang psikolog sosial yang ingin menggunakan teori medan akan mengkaji perilaku agresif dengan cara melihat hubungan antara karakteristik individu dengan situasi di mana perilaku agresif tersebut ditampilkan. Para teoritisi pertukaran sosial bisa memusatkan pada adanya imbalan sosial terhadap individu yang menampilkan perilaku agresif. Jika memakai kacamata teori peran, perilaku agresif atau tidak agresif ditampilkan oleh seseorang karena harapan-harapan sosial yang melekat pada posisi sosialnya harus dipenuhi. 

Metode

  • Metode yang digunakan dalam jurnal Jenis penelitian yang dilakukan adalah kuantitatif deskriptif. Kuantitatif deskriptif yang berarti jenis penelitian yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya.

  • Pengambilan informasi dalam junal kali ini adalah informasu atau dokumentasi dilakukan dengan mengambil pendapat pendapata ahli psikologi dan sosiologi. Tidak adanya dokumentasi pemotretat dalam penyusunan jurnal tersebut. 


Hasil

  • Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami perilaku seseorang, seyogianya kita mengabaikan informasi tentang apa yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri. Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang bersikap negatif terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya  pikiran, perasaan, sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku seseorang. 


Diskusi

  • Kajian mendasar mengenai psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial.

  • Ada beberapa persfektif psikologi sosial dalam mengamati untuk menjelaskan suatu tingkah laku manusia adalah : perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis (interactionist perspectives).



0 komentar:

Posting Komentar