Teknik
Penyususnan Skripsi
Meringkas
Jurnal 3
Nida
Asma Wafiqoh (20310410008)
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Dosen
Pengampu: Dr. Arundhati Shinta, MA.
Topik Stress
Kerja dan Kepuasan Kerja Sumber Gofur,
A. (2018). Pengaruh stres kerja terhadap kepuasan kerja pegawai. Jurnal
Riset Manajemen Dan Bisnis (JRMB) Fakultas Ekonomi UNIAT, 3, 295-304. Permasalahan Kepuasan
kerja sangat dipengaruhi oleh banyak faktor baik itu secara internal maupun eksternal
pegawai. Salah satunya adalah stres kerja yang dialami pegawai besar
kemungkinan mempunyai dampak terhadap tingkat kepuasan kerja para pegawai. Seperti
yang kita ketahui stres kerja merupakan kondisi ketegangan yang menciptakan adanya
ketidakseimbangan fisik dan psikis, yang tentunya akan mempengaruhi rasa
emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang pegawai. Stres adalah kondisi
dinamis di mana seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau
sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan
hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Sebagian stres bisa bersifat
positif dan sebagian lagi negatif. Dewasa ini banyak para ahli berpendapat
bahwa stress tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkugan
kerja (seperti memiliki banyak proyek, tugas dan tanggung jawab), beroperasi
sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi mencapai
tujuan (birokrasi, politik kantor, kebingungan terkait tanggung jawab kerja).
Pegawai yang mengalami stres di tempat kerja maka akan berpengaruh terhadap
kegiatan dalam melaksanakan pekerjannya. Apabila hal ini tidak segera di
atasi maka akan berdampak terhadap kegiatan. Untuk itu perusahaan Tujuan
Penelitian Tujuan
Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh stress kerja terhadap kepuasan kerja pegawai pada salah satu Direktorat di Kementerian
Negara. Isi Mangkunegara
(2009) pegawai yang mengalami stres kerja karena kondisi beban kerja yang dirasakan
terlalu berat dihadapkan dengan tuntutan waktu kerja yang terbatas, suasana
kerja yang tidak sehat, kualitas pengawasan kerja yang rendah, konflik kerja,
otoritas kerja yang tidak memadai terhadap tanggungjawab yang diembannya, dan
perasaan frustasi dalam kerja sebagai akibat dari perbedaan nilai antara
karyawan dengan pemimpin. Faktor penyebab stres kerja, yaitu faktor
lingkungan kerja, antara lain berupa kondisi fisik, manajemen kantor maupun
hubungan sosial di lingkungan pekerjaan, dan faktor personal, berupa Kepuasan
kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya yang
tercerminkan pada moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja dan kepuasan
kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar
pekerjaan (Hasibuan, 2001) Hasil
penelitian (Leila 2002), bahwa stres dan kepuasan kerja mempunyai hubungan
timbalbalik. Kepuasan kerja dapat meningkatkan daya tahan individu terhadap
stres dan sebaliknya stress yang dihayati oleh individu dapat menjadi sumber
ketidakpuasan. Brewer dan Jama McMahan Landers (2003), menyatakan terdapat
hubungan yang kuat antara stres kerja dengan kepuasan kerja setelah diuji
dengan menggunakan analisis korelasional. Metode Dalam
penelitian ini digunakan metode penelitian yang bersifat asosiatif dengan
menggunakan pendekatan Hasil penelitian
ini adalah bahwa variabel stres kerja mempunyai hubungan yang positif
terhadap kepuasan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa dengan semakin tinggi
tingkat stres Diskusi Analisis
Variabel Stres Kerja Data hasil rekapitulasi angka penafsiran variabel Stres
Kerja 3,25. Hal ini menunjukkan penilaian cukup baik, yang berarti
menunjukkan penilaian pegawai terhadap stres kerja adalah memiliki kriteria
cukup baik. Pada item beban kerja memiliki nilai terendah yakni 3,0667
sehingga untuk mengurangi stres kerja sebaiknya memberikan perhatian terhadap
rekan kerja yang mendukung Analisis
Variabel Kepuasan Kerja Rekapitulasi angka penafsiran Kepuasan Kerja
rata-rata 3,267, bahwa pegawai dalam menilai kepuasan kerja secara
keseluruhan cukup baik. Nilai terendah pada item pengawasan dengan nilai rata-rata
3,0667, 3,1667 dan 3,0333, sehingga untuk dapat meningkatkan kepuasan kerja sebaiknya
pimpinan lebih memperhatikan lagi pengawasannya, yaitu dengan cara selalu
mengecek hasil pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dan memperhatikan setiap
pegawai yang ada, Uji
Signifikansi Parsial (Uji – t) Untuk mengetahui signifikan atau tidaknya
hubungan stres kerja terhadap kepuasan kerja dapat diterima atau tidak di uji
menggunakan Uji – t dengan menggunakan SPSS V 23. Hasil yang diperoleh adalah
t-tabel diperoleh dari tabel distribusi t dengan taraf (signifikan) = 5 %
(0,05) dan dk (derajat kesalahan) adalah n – 2 = 28. Hasil perhitungan Uji T
terdapat pada Tabel 4 di atas, yaitu t-hitung > t-tabel (13,220 >
2,048), dengan nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,000 > 0,05 Ha diterima,
artinya terdapat hubungan yang signifikan dari variabel stres kerja terhadap
variabel kepuasan kerja.
atau organisasi harus dapat mengelola pegawai dengan baik yang tentunya dapat
mengendalikan tingkat stres kerja pegawai, sehingga pegawai dapat bekerja
seperti semula dengan baik.
tipe kepribadian, peristiwa atau pengalaman pribadi maupun kondisi sosial
ekonomi keluarga dimana pribadi berada dan mengembangkan diri Dwiyanti (2001)
kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah para pegawai disalah satu
Direktorat di Kementerian Negara, dengan sampel sebanyak 30 orang dengan
teknik pengumpulan data melalui kuesioner dan studi kepustakaan. Teknik
analisis data menggunakan regresi sederhana melalui SPSS versi 23. Temuan
dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara stress
kerja terhadap kepuasan kerja, dimana kedua variabel memiliki korelasi
yang kuat dan positif. Besarnya pengaruh stres kerja terhadap
kepuasan kerja adalah sebesar 86,2%.
kerja maka tingkat kepuasan kerja pegawai akan semakin menurun.Begitu pula
semakin menurun stres kerja maka kepuasan kerja akan semakin meningkat. Para
pemimpin agar dapat meningkatkan kepuasan kerja pegawai dengan lebih
memperhatikan konflik peran dan lingkungan kerja. Dan lingkungan organisasi
harus mampu mendukung pekerjaan baik itu sesama pekerja, keluarga maupun
antar atasan dengan bawahan, tentunya dengan cara merubah prilaku yang buruk.
pekerjaan mereka, yaitu dengan memberikan bonus atau tunjangan lainnya
lingkungan kerja ataupun pada saat datang dan pulang kerja.







0 komentar:
Posting Komentar