Jumat, 03 Mei 2024

"Mengungkap Psikologi Abnormal Pelaku Pedofilia dalam Kasus Pelecehan Seksual Lewat Game Online"


Nama : Endy Zhuans Saputra

Nim    : 22310410071

Dosen Pengampu : FX Wahyu Widiantoro S.Psi.,MA

 


Pendahuluan: Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur melalui game online Mobile Legends dan WhatsApp yang melibatkan seorang pria berinisial YPS (27) dari Sumatera Utara telah menggemparkan masyarakat. Pelaku diduga meminta foto dan video vulgar dari seorang anak perempuan berusia 13 tahun asal Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Kasus ini mengungkap beberapa gangguan psikologi abnormal yang parah pada pelaku.

Pedofilia Tindakan pelaku yang meminta foto dan video vulgar dari seorang anak di bawah umur mencerminkan adanya gangguan preferensi seksual pedofilia. Pedofilia adalah ketertarikan seksual terhadap anak-anak pra-pubertas (American Psychiatric Association, 2013). Pelaku mungkin mengalami gangguan ini sejak lama dan memanfaatkan game online untuk memuaskan hasrat seksualnya terhadap anak-anak.

Perilaku Seksual Devian Meminta anak untuk menunjukkan alat kelaminnya dengan pakaian ketat atau celana dalam, serta mengirimkan foto alat kelaminnya sendiri kepada anak, merupakan perilaku seksual yang menyimpang dan ilegal (Araji & Finkelhor, 1986). Tindakan ini mencerminkan kurangnya kontrol diri dan ketidakmampuan pelaku untuk membedakan antara perilaku seksual yang pantas dan tidak pantas.

Sadisme Seksual Mengancam anak dengan melukai dirinya sendiri jika tidak memenuhi permintaannya adalah bentuk sadisme seksual, yaitu mendapatkan kepuasan dari menyakiti atau menghina orang lain secara seksual (Tenbergen et al., 2021). Perilaku ini mencerminkan kecenderungan pelaku untuk mendominasi dan mengeksploitasi korbannya secara kejam.

Gangguan Kontrol Impuls Pelaku tampaknya tidak mampu mengendalikan impuls dan dorongan seksual deviannya terhadap anak di bawah umur, meskipun tindakannya jelas melanggar hukum (Ward & Beech, 2006). Ini mengindikasikan adanya gangguan kontrol impuls yang parah pada pelaku.

Gangguan Kepribadian Anti-Sosial Perilaku pelaku yang melanggar norma sosial dan hukum, serta kurangnya empati terhadap korban anak-anak mengindikasikan adanya ciri-ciri gangguan kepribadian anti-sosial (American Psychiatric Association, 2013).

Kesimpulan: Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku kemungkinan besar menderita beberapa gangguan mental terkait seksualitas dan kontrol impuls yang parah. Ia membutuhkan evaluasi psikologis dan psikiatris yang mendalam, serta penanganan profesional untuk mencegah terjadinya kejahatan serupa di masa mendatang. Perlindungan dan dukungan psikologis kepada korban anak juga sangat penting untuk meminimalkan dampak traumatis dari pelecehan seksual ini (Finkelhor & Browne, 1985).

 

Daftar Pustaka

https://www.tvonenews.com/daerah/jabar/206900-viral-pelecehan-seksual-lewat-game-online-mobile-legends-polisi-bongkar-kronologi-pelaku-pedofil-minta-kirim-foto-dan-video-celana-dalam

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.

Araji, S. K., & Finkelhor, D. (1986). Abusers: A review of the research. In D. Finkelhor (Ed.), A sourcebook on child sexual abuse (pp. 89-118). Newbury Park, CA: Sage.

Finkelhor, D., & Browne, A. (1985). The traumatic impact of child sexual abuse: A conceptualization. American Journal of Orthopsychiatry, 55(4), 530-541.

Ward, T., & Beech, A. (2006). An integrated theory of sexual offending. Aggression and Violent Behavior, 11(1), 44-63.

0 komentar:

Posting Komentar