Nama : Endy Zhuans
Saputra
Nim : 22310410071
Dosen Pengampu : FX Wahyu Widiantoro S.Psi.,MA
![]() |
Pendahuluan: Kasus
dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur melalui game online Mobile
Legends dan WhatsApp yang melibatkan seorang pria berinisial YPS (27) dari
Sumatera Utara telah menggemparkan masyarakat. Pelaku diduga meminta foto dan
video vulgar dari seorang anak perempuan berusia 13 tahun asal Kota
Tasikmalaya, Jawa Barat. Kasus ini mengungkap beberapa gangguan psikologi
abnormal yang parah pada pelaku.
Pedofilia Tindakan pelaku
yang meminta foto dan video vulgar dari seorang anak di bawah umur mencerminkan
adanya gangguan preferensi seksual pedofilia. Pedofilia adalah ketertarikan
seksual terhadap anak-anak pra-pubertas (American Psychiatric Association,
2013). Pelaku mungkin mengalami gangguan ini sejak lama dan memanfaatkan game
online untuk memuaskan hasrat seksualnya terhadap anak-anak.
Perilaku Seksual Devian
Meminta anak untuk menunjukkan alat kelaminnya dengan pakaian ketat atau celana
dalam, serta mengirimkan foto alat kelaminnya sendiri kepada anak, merupakan
perilaku seksual yang menyimpang dan ilegal (Araji & Finkelhor, 1986).
Tindakan ini mencerminkan kurangnya kontrol diri dan ketidakmampuan pelaku
untuk membedakan antara perilaku seksual yang pantas dan tidak pantas.
Sadisme Seksual Mengancam
anak dengan melukai dirinya sendiri jika tidak memenuhi permintaannya adalah
bentuk sadisme seksual, yaitu mendapatkan kepuasan dari menyakiti atau menghina
orang lain secara seksual (Tenbergen et al., 2021). Perilaku ini mencerminkan
kecenderungan pelaku untuk mendominasi dan mengeksploitasi korbannya secara
kejam.
Gangguan Kontrol Impuls
Pelaku tampaknya tidak mampu mengendalikan impuls dan dorongan seksual
deviannya terhadap anak di bawah umur, meskipun tindakannya jelas melanggar
hukum (Ward & Beech, 2006). Ini mengindikasikan adanya gangguan kontrol
impuls yang parah pada pelaku.
Gangguan Kepribadian
Anti-Sosial Perilaku pelaku yang melanggar norma sosial dan hukum, serta
kurangnya empati terhadap korban anak-anak mengindikasikan adanya ciri-ciri
gangguan kepribadian anti-sosial (American Psychiatric Association, 2013).
Kesimpulan: Kasus ini
menunjukkan bahwa pelaku kemungkinan besar menderita beberapa gangguan mental
terkait seksualitas dan kontrol impuls yang parah. Ia membutuhkan evaluasi
psikologis dan psikiatris yang mendalam, serta penanganan profesional untuk mencegah
terjadinya kejahatan serupa di masa mendatang. Perlindungan dan dukungan
psikologis kepada korban anak juga sangat penting untuk meminimalkan dampak
traumatis dari pelecehan seksual ini (Finkelhor & Browne, 1985).
Daftar Pustaka
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and
statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.
Araji, S. K., & Finkelhor, D. (1986). Abusers: A
review of the research. In D. Finkelhor (Ed.), A sourcebook on child sexual
abuse (pp. 89-118). Newbury Park, CA: Sage.
Finkelhor, D., & Browne, A. (1985). The traumatic
impact of child sexual abuse: A conceptualization. American Journal of
Orthopsychiatry, 55(4), 530-541.
Ward,
T., & Beech, A. (2006). An integrated theory of sexual offending.
Aggression and Violent Behavior, 11(1), 44-63.







0 komentar:
Posting Komentar