Jumat, 03 Mei 2024

Fakta-Fakta Kasus Mayat dalam Koper di Bekasi: Korban Disetubuhi Lalu Dibunuh, Istri Pelaku Syok

Nama : Endy Zhuans Saputra

Nim    : 22310410071

Dosen Pengampu : FX Wahyu Widiantoro S.Psi.,MA



Kasus pembunuhan sadis yang melibatkan seorang wanita berinisial RM yang tewas dibunuh oleh rekan kerjanya bernama Ahmad Arif Ridwan Nuwloh alias AARN di sebuah hotel di Bandung, mencengangkan masyarakat. Jasad RM dimasukkan ke dalam koper dan dibuang di pinggir jalan Kabupaten Bekasi. Setelah penyelidikan seminggu, pelaku AARN akhirnya ditangkap di Palembang. Dari perspektif psikologi abnormal, kasus ini mengungkap beberapa aspek gangguan mental yang signifikan pada pelaku.

 

Gangguan Kepribadian Antisosial (Psikopat) Tindakan pelaku AARN yang membunuh korban RM dengan cara yang brutal setelah memperkosanya, mencuri uangnya, dan membuang mayatnya dalam koper mencerminkan ciri-ciri gangguan kepribadian antisosial atau psikopat. Individu dengan gangguan ini seringkali menunjukkan perilaku impulsif, tidak memiliki empati, dan tidak merasa bersalah atas perbuatan jahatnya. Teori Trikotomi Kepribadian Psikopat yang dikemukakan oleh Robert D. Hare menjelaskan tiga aspek utama kepribadian psikopat, yaitu gaya interpersonal yang curang dan manipulatif, gaya afektif yang dangkal dan kurangnya empati, serta gaya perilaku yang impulsif dan tidak bertanggung jawab.

Parafilia (Gangguan Preferensi Seksual) Tindakan pelaku memperkosa korban sebelum membunuhnya mengindikasikan adanya parafilia atau gangguan preferensi seksual seperti sadisme seksual. Pelaku kemungkinan mendapatkan kepuasan dari menyakiti atau menghina korbannya secara seksual. Teori Psikobiologis Gangguan Parafilia yang dikembangkan oleh Ray Blanchard dan Howard E. Barbaree menjelaskan bahwa gangguan parafilia dapat disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik, hormonal, dan pengalaman hidup.

Gangguan Kontrol Impuls Pelaku tampaknya tidak mampu mengontrol impuls agresi dan nafsunya untuk mencuri uang dan membunuh korban. Ini bisa dikaitkan dengan gangguan kontrol impuls atau masalah dalam mengatur emosi dan impuls. Teori Kontrol Diri yang dikemukakan oleh Michael Gottfredson dan Travis Hirschi menyatakan bahwa individu dengan kontrol diri yang rendah cenderung terlibat dalam perilaku kriminal dan menyimpang karena tidak mampu mengendalikan impuls dan keinginan sesaat mereka.

Motif Finansial dan Prioritas yang Terganggu Motif pelaku untuk mendapatkan uang bagi biaya resepsi pernikahannya menunjukkan adanya prioritas yang terganggu dan kekurangan pertimbangan moral dalam mencapai tujuannya. Pelaku tampaknya lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

Dampak Psikologis pada Keluarga Pelaku Fakta bahwa istri pelaku mengalami syok dan trauma berat setelah mengetahui perbuatan suaminya menunjukkan dampak psikologis yang signifikan pada keluarga terdekat. Kondisi ini dapat memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD) atau gangguan kecemasan lainnya pada istri dan keluarga pelaku.

Kasus ini mencerminkan betapa gangguan mental yang parah dapat mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal dan kekerasan yang ekstrem. Pelaku kemungkinan besar membutuhkan evaluasi psikologis dan psikiatris yang mendalam, serta penanganan profesional untuk mencegah terjadinya kejahatan serupa di masa mendatang.

 

Daftar Pustaka

https://www.kompas.tv/nasional/504525/fakta-fakta-kasus-mayat-dalam-koper-di-bekasi-korban-disetubuhi-lalu-dibunuh-istri-pelaku-syok?page=2

Blanchard, R., & Barbaree, H. E. (2005). The strength of sexual arousal as a function of the number of potential sexual arousal partners: An extension of the catalyst theory of motivational development. Aggressive Behavior, 31(6), 520-535.

Gottfredson, M. R., & Hirschi, T. (1990). A general theory of crime. Stanford, CA: Stanford University Press.

Teicher, M. H., & Samson, J. A. (2016). Annual Research Review: Enduring neurobiological effects of childhood abuse and neglect. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 57(3), 241-266.

0 komentar:

Posting Komentar