HUBUNGAN PERSEPSI MASYARAKAT
WISATAWAN DENGAN PERILAKU TERHADAP
LINGKUNGAN SEKITAR
Ujian Tengah Semester Psikologi
Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr., Dra.
ARUNDATI SHINTA MA
Nama : Desti Fitria Suci
NIM : 21310410157
Kelas : SJ
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
Yogyakarta sebagai kota
pariwisata paling ramai dikunjungi wisatawan domestik dan asing. Karena
banyaknya orang-orang atau wisatawan masuk di Yogyakarta, pada akhirnya
menyebabkan adanya banyaknya sampah di Yogyakarta. Padahal Yogyakarta merupakan
tempat wisata yang bagus, namun jika ada sampah berserakan tentu wisatawan juga
enggan untuk mengunjungi Jogja lagi. Penanganan sampah di Kota Yogyakarta in
dinilai masih belum teratasi. Salah satu destinasi wisata pantai, tentu saja
memiliki kehidupan di bawah laut. Tentu saja jika masih banyak sampah di pantai
akan merusak biota laut dan bisa mengancam banyak hewan laut. Contohnya seperti
sampah plastic di laut karena sulit terurai, sampah tentu akan kesana kemari di laut dan membuat ikan
tersangkut, jika tidak bisa lepas dari plastic sampah tersebut ikan bisa mati.
Tidak hanya para wisatawan saja
yang menyebabkan sampah di pantai, tapi juga masyarakat seluruh Yogyakarta yang
membuang sampah sembarangan di sungai yang pada akhirnya mengalir ke pantai. Kebanyakan
sampah di Pantai juga bisa merupakan sampah rumah tangga. Wisatawan hanya focus
pada tujuannya, seperti gambar diatas banyak wisata yang cuek dan acuh terhadap
sampah disekitarnya dan mereka hanya focus terhadap pantai saja..
Persepsi terhadap lingkungan
hidup adalah cara-cara individu memahami dan menerima stimulus lingkungan yang
dihadapinya. Proses pemahaman tersebut menjadi lebih mudah karena individu
mengaitkan objek yang diamatinya dengan pengalaman tertentu, dengan fungsi
objek, dan dengan menciptakan makna-makna yang terkandung dalam objek itu.
Penciptaan makna-makna itu terkadang meluas, sesuai dengan kebutuhan individu
(Fisher, Bell, & Baum, 1984).
Diskusi tentang persepsi terhadap
lingkungan sekeliling, tentu menimbulkan pertanyaan mengapa persepsi
orang-orang bisa berbeda-beda padahal stimulus yang dihadapinya sama. Perbedaan
persepsi ini terjadi karena ada lima faktor yang berpengaruh terhadap
pembentukan persepsi yaitu budaya, status sosial ekonomi, usia, agama, dan
interaksi antara peran gender, desa/kota, dan suku (Sarwono, 1995). Mengenai
persepsi, hanya segelintir orang saja yang mempunyai persepsi untuk merawat
lingkungan hidupnya. Perbedaan persepsi tentang kegawatan kondisi lingkungan
hidup inilah yang sering menjadi persoalan dalam masyarakat. Psikologi
lingkungan di tuntut untuk membantu menumbuhkan persepsi pro lingkungan hidup
di masyarakat. Maka, tindakan-tindakan dari masyrakat untuk mengatasi banyaknya
sampah perlu diapresiasi karena hal tersebut merupakan inisiatif yang baik dan
masyrakat tersadar akan dampak negative yang disebabkan oleh banyaknya sampah.
Tetapi, tindakan pengurangan sampah dengan cara di bakar juga bukanlah solusi
ang tepat karena asap yang di timbulkan dari bakaran sampah tersebut berdampak
bagi polusi udara dan gangguan pernapasan bagi manusia maupun makhluk hidup
lainnya.Hal tersebut dikarenakan kurang persepsi dari masyarakat. Persepsi
haruslah selektif, karena ketika mempersiapkan sesuatu hanya cenderung
memperhatikan bagian-bagian tertentu.
Maka, mengurangi, menggunakan
kembali, dan mendaur ulang adalah tiga praktik umum dalam pengelolaan sampah
yang bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dan meminimalkan
dampaknya terhadap lingkungan. Dengan menerapkan konsep 3R, kita dapat
mengurangi jumlah sampah yang kita hasilkan dan meminimalkan dampaknya terhadap
lingkungan. Pengurangan sampah harus selalu menjadi prioritas pertama, diikuti
dengan mengurangi, penggunaan kembali, dan daur ulang. Persepsi seseorang
mengenai masalah sampah juga termasuk dalam persepsi lingkungan hidup. Persepsi
bagi lingkungan hidup penting sebagai munculnya perilaku yang peduli akan
kelestarian lingkungan (Shinta,2013). Upaya mengubah kebiasaan dan kemandirian
masyarakat mengelola sampah memerlukan dukungan banyak pihak. Baik melalui
penguatan kelembagaan, pemerintah, pengadaan fasilitas kebersih an dan
pengolahan sampah/limbah hingga dukungan kebijakan pemerintah (UU No.18 Tahun
2008 tentang Pengelolaan Sampah).
Kesimpulannya, persepsi wisatawan
terhadap sampah dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengelolaan
sampah di kawasan wisata. Penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman
tentang pengelolaan sampah di kalangan wisatawan dan masyarakat lokal untuk
memastikan kebijakan pengelolaan sampah yang efektif.
Daftar Pustaka
Fisher,
J. D., Bell, P. A. & Baum, A. (1984). Environmental psychology. 2nd ed. New
York: Holt, Rinehart and Winston.
Republik Indonesia. 2008. UndangUndang Nomor 18 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah. Jakarta : Sekretariat Negara.
Sarwono,
S. W. (1995). Psikologi lingkungan. Jakarta: Grasindo & Program
Pascasarjana Prodi Psikologi UI.
Shinta,
A. (2013). Persepsi Terhadap Lingkungan. Kup45iana. Diakses pada 1 November,
2023 melalui website http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html







0 komentar:
Posting Komentar