Kamis, 02 November 2023

Essay UTS Psi.Lingkungan DESTI FITRIA SUCI 21310410157-SJ

 

HUBUNGAN PERSEPSI MASYARAKAT WISATAWAN DENGAN PERILAKU TERHADAP

LINGKUNGAN SEKITAR

Ujian Tengah Semester Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA MA

 


 

Nama : Desti Fitria Suci

NIM : 21310410157

Kelas : SJ

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 

YOGYAKARTA


Yogyakarta sebagai kota pariwisata paling ramai dikunjungi wisatawan domestik dan asing. Karena banyaknya orang-orang atau wisatawan masuk di Yogyakarta, pada akhirnya menyebabkan adanya banyaknya sampah di Yogyakarta. Padahal Yogyakarta merupakan tempat wisata yang bagus, namun jika ada sampah berserakan tentu wisatawan juga enggan untuk mengunjungi Jogja lagi. Penanganan sampah di Kota Yogyakarta in dinilai masih belum teratasi. Salah satu destinasi wisata pantai, tentu saja memiliki kehidupan di bawah laut. Tentu saja jika masih banyak sampah di pantai akan merusak biota laut dan bisa mengancam banyak hewan laut. Contohnya seperti sampah plastic di laut karena sulit terurai, sampah tentu  akan kesana kemari di laut dan membuat ikan tersangkut, jika tidak bisa lepas dari plastic sampah tersebut ikan bisa mati.

Tidak hanya para wisatawan saja yang menyebabkan sampah di pantai, tapi juga masyarakat seluruh Yogyakarta yang membuang sampah sembarangan di sungai yang pada akhirnya mengalir ke pantai. Kebanyakan sampah di Pantai juga bisa merupakan sampah rumah tangga. Wisatawan hanya focus pada tujuannya, seperti gambar diatas banyak wisata yang cuek dan acuh terhadap sampah disekitarnya dan mereka hanya focus terhadap pantai saja..

Persepsi terhadap lingkungan hidup adalah cara-cara individu memahami dan menerima stimulus lingkungan yang dihadapinya. Proses pemahaman tersebut menjadi lebih mudah karena individu mengaitkan objek yang diamatinya dengan pengalaman tertentu, dengan fungsi objek, dan dengan menciptakan makna-makna yang terkandung dalam objek itu. Penciptaan makna-makna itu terkadang meluas, sesuai dengan kebutuhan individu (Fisher, Bell, & Baum, 1984).

Diskusi tentang persepsi terhadap lingkungan sekeliling, tentu menimbulkan pertanyaan mengapa persepsi orang-orang bisa berbeda-beda padahal stimulus yang dihadapinya sama. Perbedaan persepsi ini terjadi karena ada lima faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi yaitu budaya, status sosial ekonomi, usia, agama, dan interaksi antara peran gender, desa/kota, dan suku (Sarwono, 1995). Mengenai persepsi, hanya segelintir orang saja yang mempunyai persepsi untuk merawat lingkungan hidupnya. Perbedaan persepsi tentang kegawatan kondisi lingkungan hidup inilah yang sering menjadi persoalan dalam masyarakat. Psikologi lingkungan di tuntut untuk membantu menumbuhkan persepsi pro lingkungan hidup di masyarakat. Maka, tindakan-tindakan dari masyrakat untuk mengatasi banyaknya sampah perlu diapresiasi karena hal tersebut merupakan inisiatif yang baik dan masyrakat tersadar akan dampak negative yang disebabkan oleh banyaknya sampah. Tetapi, tindakan pengurangan sampah dengan cara di bakar juga bukanlah solusi ang tepat karena asap yang di timbulkan dari bakaran sampah tersebut berdampak bagi polusi udara dan gangguan pernapasan bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya.Hal tersebut dikarenakan kurang persepsi dari masyarakat. Persepsi haruslah selektif, karena ketika mempersiapkan sesuatu hanya cenderung memperhatikan bagian-bagian tertentu.

Maka, mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang adalah tiga praktik umum dalam pengelolaan sampah yang bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dan meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan. Dengan menerapkan konsep 3R, kita dapat mengurangi jumlah sampah yang kita hasilkan dan meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan. Pengurangan sampah harus selalu menjadi prioritas pertama, diikuti dengan mengurangi, penggunaan kembali, dan daur ulang. Persepsi seseorang mengenai masalah sampah juga termasuk dalam persepsi lingkungan hidup. Persepsi bagi lingkungan hidup penting sebagai munculnya perilaku yang peduli akan kelestarian lingkungan (Shinta,2013). Upaya mengubah kebiasaan dan kemandirian masyarakat mengelola sampah memerlukan dukungan banyak pihak. Baik melalui penguatan kelembagaan, pemerintah, pengadaan fasilitas kebersih an dan pengolahan sampah/limbah hingga dukungan kebijakan pemerintah (UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah).

Kesimpulannya, persepsi wisatawan terhadap sampah dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengelolaan sampah di kawasan wisata. Penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pengelolaan sampah di kalangan wisatawan dan masyarakat lokal untuk memastikan kebijakan pengelolaan sampah yang efektif.

 

 

 

Daftar Pustaka

Fisher, J. D., Bell, P. A. & Baum, A. (1984). Environmental psychology. 2nd ed. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Republik Indonesia. 2008. UndangUndang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Jakarta : Sekretariat Negara.

Sarwono, S. W. (1995). Psikologi lingkungan. Jakarta: Grasindo & Program Pascasarjana Prodi Psikologi UI.

Shinta, A. (2013). Persepsi Terhadap Lingkungan. Kup45iana. Diakses pada 1 November, 2023 melalui website http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar