UJIAN SEMESTER AKHIR
MATA
KULIAH PSIKOLOGI LINGKUNGAN
Judul
: Psikologi Lingkungan
Dosen
pengampu: Dr., Dra. Arundanti Shinta,MA
![]() |
| Sumber : Foto Google,Tumpukan sampah di pinggir jalan di Yogyakarta |
Nama : Depen Telenggen
Nim : 22310410128
Kelas : Reguler A1
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang merupakan ikon wisata Indonesia
memiliki tampilan depan (ruang tamu) berupa Bandara Yogyakarta International
Airport (YIA), tetapi dapur berupa tempat pembuangan akhir (TPA) dan sistem
pengelolaan sampah yang sangat amburadul.
Publik DIY dibuat kebingungan ketika pemerintah daerah memutuskan untuk
menutup TPA Piyungan sebagai respons atas membludaknya sampah dan kapasitas
pengelolaan sampah TPA Piyungan yang sangat terbatas. Kebijakan tersebut
praktis berdampak pada tumpukan sampah yang mulai banyak ditemukan di ruang
publik; mulai dari Alun-Alun Selatan Keraton Yogyakarta, Universitas Gadjah
Mada, dan beberapa ruas jalan di Yogyakarta.
Di satu sisi, pemerintah daerah seolah lepas tangan karena kebijakan
penutupan TPA tidak dibarengi dengan solusi alternatif pengelolaan sampah masyarakat.
Alih-alih Gubernur DIY malah mereduksi permasalahan sampah ini sebagai
persoalan individu dan mengembalikan tanggung jawab tersebut kepada masyarakat.
Bagaimanapun, negara juga memiliki tanggung jawab pengelolaan sampah di hilir
sesuai dengan UU No. 18 tahun 2008
Permasalahan sampah di
Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Dan semakin sulit mencari lahan
untuk dijadikan TPA, memicu berkembangnya pemanfaatan dan pengadaan TPA bersama
(TPA Regional) oleh beberapa kota/ kabupaten yang letaknya berdekatan. Namun
dalam pelaksanaannya TPA Regional sering kurang efektif antara lain akibat
strukur kelembagaan yang besar tapi miskin fungsi, koordinasi yang kurang antar
dan inter lembaga Pemerintah Daerah, masih adanya tumpang tindih tugas dan
fungsi kelembagaan antara kabupaten yang satu dengan kabupaten yang lain bila
terjadi permasalahan. Sesungguhnya, Pemerintah Daerah sudah ada payung hukum untuk
menyusun kebijakan regionalisasi TPA di daerahnya, yaitu kebijakan nasional
tentang Pengelolaan Sampah, yang sudah diatur di dalam Undang-undang No. 18
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menghadapi permasalahan tersebut diatas,
maka perlu dilakukan kajian aspek kelembagaan pengelolaan sampah regional.
Tujuan kajian adalah untuk mengetahui gambaran yang obyektif tentang kondisi
dan posisi lembaga yang terbentuk, sehingga dapat terpilih lembaga yang terbaik
bagi kebutuhan pengelolaan TPA Regional..
Aspek social salah
satunya program” Pendidikan dan kompanye
kesadaran masyarakat public sangat penting untuk meningkatkan pemahaman akan
masalah sampah dan dampaknya bagi lingungan dan kesehatan. Melibatkan masyarakat
dalam diskusi terbuka dan edukasi akan pentinya pengelolahan sampah secara
benar dapat memebntuk pola piker yang lebih pendula.
Serta partisipasi aktif
masyarakat dalam inisiatif pembersihan, pengumpulan sampah atau kegiatan lingkungan
lainnya dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap lingkungan mereka dan mendorong tanggun jawab Bersama.
Aspek budaya konsep
kotong-royong memiliki potensi besar untuk mengatasi masalah sampah buadaya saling membantu dalam membersihkan
lingkungan atau mengelola sampah secara kolektif dapat di tingkatkan untuk Menciptakan
kesandaran dan kepedulian Bersama terhadap lingkungan
Aspek teknologi menjadi
bagian penting dalam mengatasi masalah sampah pengembanngan system pengelolaan
sampah yang lebih efesien, seperti pengolahan sampah menjadi enrgi atau prduk
yang bernilai ekonomi dapat menjadi solusi
Kemitraan dengan
pemerintahan daerah perusahan seperti unilever dapat berkolaborasi dengan pemerintahan
daerah untuk memperkuat program pengelolahan sampah yang sudah ada atau merancang
inisiatif baru yang lebih efektif. Serta sumber daya dan insfratruktur mereka
dapat menyediakan sumber daya finasial, bantuan teknis, atau insfratruktur yang
diperlukan unutk meningkatkan system pengelolahan sampah di daerah tersebut.
Pemberdayaan masyarakat
pembinaan bank sampah meruapakan program pembinaan bank sampah adalah inisiatif
yang luar biasa karena tidaknya hanya membantu mengurangi sampah tetapi juga
memberikan insentif ekononimi bagi masyarakat setempat. Ini mendorong partisipasi
aktif dalam pengumpulan, pemilihan dan pengelolahan sampah sambal memberikan insentif
finansial Melalui system poin atau penhargaan
Edukasi dan kesadaran
selain itu, perusahan bisa mengedukasi masyarakat tentang pentingnya
pengelolahsan sampah yang baik dan dampak terhadap lingkungan. Program-program kesandaran yang
dilakukan secara teratur dapat membantu mengubah perilaku masyarakat.
Unilever sebagai
perusahan memiliki tanggun jawab untuk Menciptakan keuntungan dan pertumbuhan
ekonomi. Serta dia juga dapat menyediakan dana dan insvestasi untuk mandirikan
dan mengelola bank sampah hal ini membantu dalam membangun insfratruktur,
menyediakan peralatan, serta memberikan pelatihan kepada masyarakat terkait
pengelolahan sampah.
Daftar
Pustakan
Baca artikel detiknews, "Carut Marut
Pengelolaan Sampah di Yogyakarta" selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-6903797/carut-marut-pengelolaan-sampah-di-yogyakarta
Jurnal:
Aspek Kelembagaan pada Pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Regional
Refrengsi lain dari google







0 komentar:
Posting Komentar