Dimas Mahendra Wijaya
22310410107
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Hubungan
Persepsi dengan Perilaku Orang-orang yang Berkenaan dengan Sampah
Sumber:
sampah
- Bing images
Isu sampah di Yogyakarta saat ini sedang menjadi perbincangan hangat
oleh masyarakat Jogja. Banyak media yang meliput berita mengenai persoalan
sampah di Kota Pelajar ini. Banyak permasalahan yang timbul akibat sampah yang
dikelola tidak secara ramah lingkungan di Yogyakarta. Terlebih lagi, Yogyakarta
selain dikenal sebagai kota pelajar, juga memiliki banyak destinasi wisata yang
menarik turis-turis baik skala nasional maupun internasional yang menjadi salah
satu penyumbang ekonomi di Yogyakarta.
Permasalahan mengenai sampah timbul akibat adanya perbedaan persepsi
orang terhadap sampah. Persepsi merupakan cara pandang seseorang terhadap suatu
masalah. Pada setiap orang sangat wajar apabila terjadi perbedaan persepsi. Hal
ini sejalan dengan pendapat (Shinta, klinik psikologi) yang menyatakan bahwa “Stimulus
yang sama mungkin saja dipersepsikan berbeda bahkan berkebalikan oleh dua
orang, dalam waktu yang sama” (http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html).
Individu satu dengan yang lain memiliki persepsi berbeda terhadap
sampah. Ada yang menganggap bahwa sangat perlu mengelola sampah, ada yang
berpikir bahwa perlu dibuat sistem yang baik untuk mengolah sampah, atau bahkan
ada yang merasa bahwa membuang sampah di tempat yang seharusnya adalah suatu
aktivitas yang ribet sehingga lebih memilih membuang sampah di sembarang
tempat. Persepsi-persepsi dari tiap individu inilah yang berpengaruh terhadap
perilaku orang berkenaan dengan sampah. Terdapat hubungan yang kuat antara
persepsi orang terhadap perilaku orang tersebut berkenaan dengan sampah.
Banyak cara dapat dilakukan dalam mengelola sampah, salah satunya
dengan menerapkan 3R behaviors. 3R behaviors ini merupakan
perilaku yang sangat terkenal dalam bidang pengelolaan sampah. Umumnya
masyarakat mengetahui mengenai 3R behaviours ini, yaitu reuse, reduce,
dan recycle. Walaupun mengetahui, belum tentu masyarakat menerapkannya dalam
pengelolaan sampah mereka. “Apakah 3R rumit dilakukan?”, “apakah aku memiliki
waktu untuk melakukannya?”, “apakah aku perlu melakukannya?”, “apakah aku bisa
melakukannya?” Hal tersebut tetap tergantung pada persepsi mereka.
Banyak faktor yang memengaruhi persepsi orang terhadap perilakunya yang
berkenaan dengan sampah. (Sarwono dalam Shinta, A., klinik psikologi)
menyebutkan lima faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi yaitu,
budaya, status sosial ekonomi, usia, agama, dan interaksi antara peran gender,
desa/kota, dan suku. Hal-hal tersebutlah yang dapat menjadi pengaruh persepsi
orang terhadap sampah.
Budaya berpengaruh kuat terhadap cara orang mengatasi persoalan
mengenai sampah. Sebagai contoh, masyarakat Jepang yang terbiasa dengan buaya
yang bersih akan dengan sepenuh hati mengelola sampah mereka. Berbeda halnya
dengan masyarakat Yogyakarta yang belum terbangun budaya bersih yang kuat.
Dampaknya 3R behaviours lebih sulit diterapkan oleh masyarakat
Yogyakarta dibandingkan dengan masyarakat Jepang. Contoh kedua dalam lingkup
keluarga, keluarga yang memiliki budaya teratur dan bersih lebih mudah menerapkan
3R behaviours daripada keluarga yang memang tidak memiliki budaya untuk
hidup teratur. Usia juga berpengaruh kuat terhadap persepsi. Sebagai contoh,
orang dewasa lebih mengetahui dampak dari upaya penerapan 3R behaviours daripada
anak-anak, sehingga orang dewasa lebih mudah menerapkan 3R behaviours.
Dari segi agama, 3R behaviours dianggap sebagai aktivitas yang
sesuai dengan nilai-nilai dan norma agama, sehingga seluruh agama mudah
menerapkan 3R behaviours. Interaksi peran gender, lokasi tempat tinggal
(desa / kota) juga berperan dalam menentukan persepsi individu. Sebagai contoh orang yang tinggal di perkotaan
memiliki akses lebih mudah ke bank sampah sehingga perilaku yang terjadi adalah
banyak masyarakat kota yang bisa menyetorkan sampah mereka ke bank sampah.
Berbanding terbalik dengan masyarakat desa yang belum memiliki akses yang mudah
untuk ke bank sampah sehingga persepsi yang terjadi adalah lebih mudah membakar
sampah daripada menyetornya ke bank sampah yang jauh dari rumah.
Daftar Pustaka
http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html







0 komentar:
Posting Komentar