Kamis, 02 November 2023

Esai UTS Psikologi Lingkungan Dimas Mahendra Wijaya 22310410107 Psikologi SP

 

Dimas Mahendra Wijaya

22310410107

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Hubungan Persepsi dengan Perilaku Orang-orang yang Berkenaan dengan Sampah



Sumber: sampah - Bing images

Isu sampah di Yogyakarta saat ini sedang menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat Jogja. Banyak media yang meliput berita mengenai persoalan sampah di Kota Pelajar ini. Banyak permasalahan yang timbul akibat sampah yang dikelola tidak secara ramah lingkungan di Yogyakarta. Terlebih lagi, Yogyakarta selain dikenal sebagai kota pelajar, juga memiliki banyak destinasi wisata yang menarik turis-turis baik skala nasional maupun internasional yang menjadi salah satu penyumbang ekonomi di Yogyakarta.

Permasalahan mengenai sampah timbul akibat adanya perbedaan persepsi orang terhadap sampah. Persepsi merupakan cara pandang seseorang terhadap suatu masalah. Pada setiap orang sangat wajar apabila terjadi perbedaan persepsi. Hal ini sejalan dengan pendapat (Shinta, klinik psikologi) yang menyatakan bahwa “Stimulus yang sama mungkin saja dipersepsikan berbeda bahkan berkebalikan oleh dua orang, dalam waktu yang sama” (http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html).

Individu satu dengan yang lain memiliki persepsi berbeda terhadap sampah. Ada yang menganggap bahwa sangat perlu mengelola sampah, ada yang berpikir bahwa perlu dibuat sistem yang baik untuk mengolah sampah, atau bahkan ada yang merasa bahwa membuang sampah di tempat yang seharusnya adalah suatu aktivitas yang ribet sehingga lebih memilih membuang sampah di sembarang tempat. Persepsi-persepsi dari tiap individu inilah yang berpengaruh terhadap perilaku orang berkenaan dengan sampah. Terdapat hubungan yang kuat antara persepsi orang terhadap perilaku orang tersebut berkenaan dengan sampah.

Banyak cara dapat dilakukan dalam mengelola sampah, salah satunya dengan menerapkan 3R behaviors. 3R behaviors ini merupakan perilaku yang sangat terkenal dalam bidang pengelolaan sampah. Umumnya masyarakat mengetahui mengenai 3R behaviours ini, yaitu reuse, reduce, dan recycle. Walaupun mengetahui, belum tentu masyarakat menerapkannya dalam pengelolaan sampah mereka. “Apakah 3R rumit dilakukan?”, “apakah aku memiliki waktu untuk melakukannya?”, “apakah aku perlu melakukannya?”, “apakah aku bisa melakukannya?” Hal tersebut tetap tergantung pada persepsi mereka.

Banyak faktor yang memengaruhi persepsi orang terhadap perilakunya yang berkenaan dengan sampah. (Sarwono dalam Shinta, A., klinik psikologi) menyebutkan lima faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi yaitu, budaya, status sosial ekonomi, usia, agama, dan interaksi antara peran gender, desa/kota, dan suku. Hal-hal tersebutlah yang dapat menjadi pengaruh persepsi orang terhadap sampah.

Budaya berpengaruh kuat terhadap cara orang mengatasi persoalan mengenai sampah. Sebagai contoh, masyarakat Jepang yang terbiasa dengan buaya yang bersih akan dengan sepenuh hati mengelola sampah mereka. Berbeda halnya dengan masyarakat Yogyakarta yang belum terbangun budaya bersih yang kuat. Dampaknya 3R behaviours lebih sulit diterapkan oleh masyarakat Yogyakarta dibandingkan dengan masyarakat Jepang. Contoh kedua dalam lingkup keluarga, keluarga yang memiliki budaya teratur dan bersih lebih mudah menerapkan 3R behaviours daripada keluarga yang memang tidak memiliki budaya untuk hidup teratur. Usia juga berpengaruh kuat terhadap persepsi. Sebagai contoh, orang dewasa lebih mengetahui dampak dari upaya penerapan 3R behaviours daripada anak-anak, sehingga orang dewasa lebih mudah menerapkan 3R behaviours.

Dari segi agama, 3R behaviours dianggap sebagai aktivitas yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma agama, sehingga seluruh agama mudah menerapkan 3R behaviours. Interaksi peran gender, lokasi tempat tinggal (desa / kota) juga berperan dalam menentukan persepsi individu.  Sebagai contoh orang yang tinggal di perkotaan memiliki akses lebih mudah ke bank sampah sehingga perilaku yang terjadi adalah banyak masyarakat kota yang bisa menyetorkan sampah mereka ke bank sampah. Berbanding terbalik dengan masyarakat desa yang belum memiliki akses yang mudah untuk ke bank sampah sehingga persepsi yang terjadi adalah lebih mudah membakar sampah daripada menyetornya ke bank sampah yang jauh dari rumah.

Daftar Pustaka

http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html

sampah - Bing images

0 komentar:

Posting Komentar